Waktu libur dari tanggal 6-18 September gw pergunakan sebaik mungkin. Memang cukup susah untuk mendapatkan libur di kampus gw, alhasil jika ada waktu libur seperti ini kudu dipergunakan sebaik mungkin.
Dari yang pertama tanggal 5-7 gw ke Desa Cikandang, Cikajang, Garut (udah gw post sebelumnya). Nice place! Tempat yang asri begitu sejuk ditambah dengan pelajaran-pelajaran baru yang didapat. Gw gag cerita banyak tentang ini karena udah gw post sebelumnya.
Selanjutnya, tanggal 12-13 gw dan teman-teman berlibur di Pulau Tidung. Dimulai start dari muara angke lalu kami menaiki kapal motor ke Pulau Tidung yang ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam. Beberapa di antara kami ada yang mabok, termasuk gw walaupun gag sampai muntah.
Sesampainya di sana gw cukup kaget dengan tepi-tepi pulau yang banyak sampah, tak terurus. Kemana nih pemerintah, gag peka yaa?
Oke, lanjut. Cuaca di sana sangat terik. Panas matahari seakan menusuk-nusuk kulit secara langsung. Beberapa di antara kami menggunakan sunblock untuk mengurangi kemungkinan kulit menjadi hitam. Gw yang pada dasarnya udah hitam, tak terlalu takut lah.. hehe..
Setelah makan siang, kami menuju tempat untuk melakukan snorkeling. It’s my first experience! Waw. Kami dibawa ke tengah laut, lalu snorkeling di sana. Melihat terumbu karang dan ikan-ikan indah secara langsung membuat gw langsung tertegun, betapa indah makhluk hidup laut ciptaan Tuhan. Seekor ikan yang sangat pipih (hampir cuma berbentuk garis) berwarna merah, kuning, hijau, biru, membuat mata gw terbelalak, ternyata ada loh ikan berbentuk seperti itu, dan masih banyak lagi bentuk ikan yang gw jumpai, begitu juga terumbu-terumbu karang.
Ada dua tempat yang kami datangi untuk snorkeling dan dua-dua tempat itu sangat menarik bagi gw. Namun ada 1 hal yang perlu diperhatikan ketika snorkeling. Kalau masalah berenang, kita bisa tenang saja, karena peralatan diberi lengkap, yang perlu diperhatikan adalah jangan sekali-kali menginjak bulu babi. Ketika gw tanya ke pemandunya, katanya bulu babi sejenis binatang berduri, dan jika terinjak kaki akan mengakibatkan sakit yang tak tertahan. Penasaran akan hal itu, gw pun meminta pemandunya untuk memberi
tahu bentuk bulu babi tersebut. Gw pun diajak pemandu tersebut untuk melihatnya secara langsung. Dengan teknik tertentu sang pemandu berhasil mengambil bulu babi tersebut dari dasar laut, dan gw pun coba untuk memegangnya. Menurut sang pemandu, jika dipegang dari bawah, bulu babi tidak akan beraksi apa-apa, dan itu memang benar. Yang gw rasakan ketika itu hanya geli-geli terkena duri-duri tajam dari bulu babi. Cukup untuk melihat hewan laut itu, gw pun melemparnya kembali untuk masuk ke dalam habitatnya.
Menjelang sore kami menepi ke dermaga untuk sejenak beristirahat dan melihat sunset. Tetapi dari kejauhan sang pemandu memberi tahu bahwa ada sebuah jembatan bernama jembatan cinta. Sebuah jembatan yang kurang lebih mempunyai tinggi 4 meter dan biasanya dijadikan permainan. Permainan seperti apa? Sebuah permainan yang memacu adrenalin. Ya, kita melompat dari jembatan itu dan terjun ke laut. Penasaran akan rasanya terjun dari jembatan tersebut, gw pun memutuskan untuk mencoba lompat dari jembatan itu. Wah rasanya pooolll!! Takut, tegang, serem, campur-campur jadi satu. Beberapa detik di udara setelah melompat gw sempet tak bisa bernafas, begitu sudah berbeturan dengan air barulah gw bisa mengambil nafas. Buat teman-teman yang nanti mau ke pulau tidung, wajib mencoba rasa sensasi terjun dari jembatan cinta.
Setelah itu kami makan mi rebus untuk sekadar mengisi perut, setelah itu melihat matahari tebenam di pulau tidung, walaupun tak begitu jelas namun cukup puas gw melihat keindahan alam di pulau tidung ketika sunset seperti ini.
Menjelang malam, kami bakar-bakar ikan sambil bernyanyi dengan iringan gitar. Suasana begitu damai dan tenang, suatu hal yang kerap susah ditemui di kegiatan sehari-hari kita.
Begitu pagi kami bergegas untuk melihat sunrise, namun hampir sama dengan sunset sore sebelumnya, sunrise tak begitu jelas. Tak apalah, mata gw sudah cukup terpuaskan dengan indahnya pagi di sana.
Menjelang pukul 11 kami bergegas untuk pulang. Kembali lagi naik kapal motor selama kurang lebih 2,5 jam kami sampai di muara angke dan mencharter angkot unutk kembali pulang ke Bekasi.
Bye-bye Tidung..









iya masalah sampah karena turis buang sampah sembarangan dan pulau tidung bukan TPA, makanya bawa kantong plastik untuk buang sampah, nanti sampahnya dibuang di jakarta