RSS

Rodes 2-Bertemu dengan gadis aneh

04 Nov

BERTEMU DENGAN GADIS ANEH

Sudah cukup lama aku mengayuh sepedaku. Kira-kira 30 menit aku mengitari wilayah baruku ini. Dan satu tempat yang paling menarik perhatianku adalah pantai. Pantai yang dihihasi pohon-pohon kelapa yang tinggi, pasir yang menari indah ketika tertiup angin, kepiting-kepiting yang berlalu lalang tanpa menghiraukan adanya manusia-manusia di samping mereka, dan yang paling tentu tenggelamnya matahari di ufuk barat. Suatu pemandangan yang menurutku menganggumkan. Mungkin orang-orang di sini sudah terbiasa, tapi tidak denganku yang notabene adalah orang kota. Langit yang memerah dipadu awan-awan yang mulai tak kelihatan terasa begitu damai. Suara-suara ombak pantai yang bersahutan menambah indahnya sore ini.

Nampaknya, bukan hanya aku yang terkesima melihat pemandangan ini. Ada seorang gadis yang kira-kira seumuran denganku tengah terpaku melihat tenggelamnya matahari. Terpaku? Sepertinya tidak. Melamun tepatnya. Melamun di tempat seperti ini? Aku cukup penasaran. Aku mulai mendekati gadis itu. Perlahan ku dekati sambil ku amati tingkah lakunya. Pandangan gadis itu mulai menuju ke sebuah tempat. Tempat yang tak jauh dari ia duduk. Sebuah bangunan jam. Bolak-balik ia melihat jam itu. Aku teringat perkataan ayahku mengenai tempat ini. Daerah ini masih memegang ketat adat ketimuran. Kepala daerahnya tak menginginkan ada orang-orang yang menyalahgunakan pantai ini sebagai tempat mesum. Oleh karena itu, dibangun jam di tepi pantai yang dimaksudkan agar pukul 22.00 pantai harus segera dikosongkan, kecuali mendapat izin dari kepala daerah.

Aku kembali mendekatinya sambil berfikir mengapa ia terus menerus terpaku pada jam itu. Gadis itu terlihat gelisah, Nampak dari gerak-geriknya yang tak tenang. Aku melihat banyak penjaja makanan di sekitar tepi pantai. Apa aku menyapanya sekaligus membawa makanan? Pikirku. Aku pun segera mengambil uang di sakuku dan membeli 2 gelas teh hangat.

Ketika ingin membeli, aku pun sempat bertanya pada si penjual minuman mengenai gadis itu. Dari dia kudapati bahwa gadis itu sudah kurang lebih 1 minggu duduk di tepi pantai dan memandangi jam terus menerus. Ketika kutanya apakah sudah ada orang yang mengajaknya berbicara atau tidak, sang penjual minuman dengan tegas berkata TIDAK, dan saat kutanya mengapa ia tak mau memberi jawaban.

Ku titip sepedaku pada penjual itu dan memberanikan diri mendekati gadis itu. “Hai!..” ucapan pertama keluar dari mulutku sambil kuberi gelas yang berisi teh hangat kepadanya. Dan yang membuatku kaget adalah tak ada satupun kata balasan yang keluar dari mulutnya. Kuulang kata hai yang kuucapkan hingga ketiga kali namun tetap tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya senyuman kecil dari bibir tipisnya yang ia keluarkan untukku. HANYA SENYUMAN?!!! Aku cukup bersabar meladeninya. Aku mulai mengajak ia ngobrol, dan beberapa pertanyaan keluar dari mulutku termasuk mengapa ia terus menerus memandangi jam. Dan responnya? TETAP! Tak ada kata yang terucap. Hanya senyumannya saja. Memang, ia termasuk gadis yang unik di mataku. Berbeda dengan cewek-cewek kota  yang sering kutemui di daerah asalku dulu. Jika ia tersenyum, bibirnya yang merah muda sangat menarik hati. Tapi, jawaban yang hanya senyuman cukup menarik emosiku. Bahkan, teh hangat yang telah kuberi tak digubris sedikitpun olehnya. Apa seperti ini gadis di daerah ini? Sangat susah diajak ngobrol bahkan sudah dengan cara yang sopan. Ku keluarkan kemampuan public speakingku untuk mengajak ia ngobrol, namun tetap saja hasilnya nihil. Aku pun memutuskan untuk pulang, walaupun sebenarnya aku sangat penasaran terhadap gadis itu. Mau dikemanakan reputasiku yang terkenal playboy, sementara untuk mengajak bicara gadis desa seperti dia saja aku tak bisa. Aku pun mengubah pikiranku dari pulang menjadi menunggunya dari jauh dan membututinya ketika ia pulang. Paling tidak aku akan mendapat alamat rumahnya, pikirku.

To be continue..

Ewaldoapra

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: