RSS

Rodes 3- Kegaduhan di rumah

04 Nov

KEGADUHAN DI RUMAH

Terus kuikuti dia. Rasa penasaranku semakin menggebu. Hari yang beranjak malam tak menghentikan semangatku. Sambil berjalan, kuingat jalan yang kulewati agar tak sesat ketika pulang nanti. Ternyata, jalan menuju rumahnya sangat ekstrem. Rumput-rumput ilalang yang tinggi, dicampur tanah yang becek, serta rasa was-wasku jika ia mengetahui kalau aku sedang membututinya.

Ketika sedang asyik-asyiknya membututi hp-ku bergetar. Untung ku posisikan hpku ke posisi silent sehingga ia tak mendengar.

“Sebuah sms rupanya”,kataku dsalam hati. Sms tersebut ternyata dari ibuku yang menanyakan dimana diriku hingga pukul 19.15 belum pulang. 19.15? Wah, ternyata sudah cukup lama aku berjalan keluar rumah. Ibuku mengajak aku pulang ke rumah karena akan makan malam bersama pukul 20.00. Ah, aku tidak mungkin pulang sekarang, aku sedang membututi gadis aneh itu, tapi tidak mungkin juga aku tidak pulang. Apa yang akan kujawab jika ibuku menanyakan alasan aku tak mau makan malam bersama. Ah! Sebuah dilema menghampiriku.

Ketika ku lihat ke depan gadis tersebut sudah berjalan cukup jauh. Ayo! Cepat putuskan, des! Ujarku dalam hati.  Setelah beberapa detik, aku putuskan untuk meninggalkan gadis tersebut dan pulang ke rumah. Aku berjalan kembali ke pantai, mengambil sepeda yang kutitipkan pada penjual teh tadi dan bergegas menuju rumah.

Sampai di rumah aku ,masih terfikir gadis tadi. Segala peringainya membuatku penasaran. Makan malam pun terasa hambar karena pertanyaan dari kedua orang tuaku lebih banyak ku jawab seadanya. Malas sekali meladeni pertanyaan mereka, bahkan kedua orang tuaku ini terlihat kaku. Sepertinya mereka ada masalah. Ku selesaikan makan malamku secepatnya dan segera menuju kamarku. Poster-poster Nelson Mandela seakan melihatku diriku yang langsung ambruk di tempat tidur.

Tak lama kemudian terdengar ketukan dari pintu kamarku. Lalu terdengar suara ibuku,”des, tolong buka pintunya ya..”. Dengan rasa lemas aku membuka pintu kamarku. Nampak ayah dan ibuku yang langsung masuk ke kamarku.

“ada apa?”, aku membuka perbincangan.

“kamu terlihat lelah sekali, sampai pertanyaan-pertanyaan papa-mama enggak kamu gubris”, seru ibuku sambil membelai kepalaku.

“ah, enggak.. perasaan papa-mama aja tuh”, ucapku mengelak.

Lalu terdengar ‘deheman’ suara ayahku, sepertinya ia ingin angkat bicara.

“begini,des. Papa-mama bukan bermaksud mengekangmu, tapi di kota sini ada universiras yang ada fakultas kedokterannya, bahkan berakreditasi A. Papa enggak mau kamu kuliah di komunikasi. Sama sekali enggak mau! Kamu harus menjadi seorang dokter!” tegas ayahku.

“Kenapa kalian berubah pikiran?. Aku yang kuliah, jadi aku yang menentukan!”, teriakku dengan keras. Aku sudah sangat bosan diatur oleh kedua orangtuaku. Dari kecil hingga sekrang kuliahpun aku masih diatur sedemikian rupa? Aku tak mau.

“Kuliahku di komunikasi sudah dimulai, pa! Aku minat ke bidang itu”, tambahku.

“Mama setuju dengan papamu, des. Jadi dokter mempunyai masa depan yang cerah. Kalau hanya di komunikasi, kamu mau jadi apa? Seru mamaku yang membuat emosiku mulai naik. Ku akui aku memang tergolong orang yang gampang tersulut emosi.

“Sekali tidak ya tidak! Cukup! Aku mau masuk kamar!”tegasku. Segera ku ambi langkah seribu dan meninggalkan meja makan. Ketika sudah sampai depan pintu kamar, segera ku buka pintu kamarku dan kututp dengan suara yang kencang mungkin lebih kepada membantingnya, Ya, kurasa orang tuaku mendengar suara pintuku.

Segera kuambil gitar, dan kucoba untuk memainkannya untuk mengusir rasa amarahku. Ku coba bernyanyi lagu musisi favoritku, Slank. “Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan yang indah..” sedang asyik-asyiknya terdengar ketukan pintu dari depan pintu kamarku.

“Des, buka pintunya ya..” Sepertinya itu suara ibuku, aku hafal suaranya.

“Untuk apa?” balasku.

“Ada yang mau mama omongin” jawab ibuku. Sepertinya ia serius, tapi aku tak ingin berdebat dengannya untuk saat ini.

“buka pintunya des..”seru ibuku lagi. Oke, untuk kali ini aku akan membuka pintu.

Seperti yang kuduga kedua orang tuaku datang ke kamarku dan mambicarakan mengenai hal yang sama di meja makan.

“Jadi, datang malam-malam ke kamarku untuk membahas hal ini lagi?. Aku tak mau membahas ini lagi dan aku mau unutk tak dikekang lagi! Tolong papa mama keluar dari kamarku sekarang! Teriakku.

“Oh, Kamu sudah bisa membetak orang tuamu ya? Diajari siapa? Teriak ayahku tak kalah keras dengan suaraku.

“Pokoknya sekarang kalian keluar!!!”, teriakku lebih kencang.

Ibuku nampaknya bisa lebih tenang. Ia membimbing ayahku untuk keluar dari kamarku. Segera mereka keluar dan langsung ku kunci pintu kamarku.

Segera ku berbaring di tempat tidurku. Ku lupakan emosi pada bantal-bantal di tempat tidurku.
“AAAARRRGGHHH…, kenapa sih mereka…masih mengaturku saja..” teriakku dalam hati. Ku akui sebenarnya aku tak terlalu menghormati kedua orang tuaku. Dua-duanya! Mereka selalu mengekangku, seperti menganggap aku adalah boneka mereka yang dapat diatur kemana-mana sesuka hati mereka. Aku benci mereka. Tak ada rasa seganku pada mereka. Ku tunjukkan denga teriakku tadi. Sudah berulang kali aku menolak untuk dimasukan ke kedokteran, tapi mereka berdua selalu saja memaksa kau untuk menuruti mereka. Belum lagi ditambah “HIGH CLASS” mereka. Mereka susah sekali untuk menerima teman-temanku yang dari golongan bawah. Mereka hanya menganggap temanku yang orang tuanya termasuk ke golongan berada. Sungguh kesal ketika mengingat temanku yang orangtuanya hanyalah penjual ketoprak diusir mereka dari rumahku. Entah bagaimana sikap mereka, yang pasti aku tak meniru sikap jelek mereka yang membuatku benci dengan mereka.

to be continue

..ewaldoapra..

thx 4 reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: