RSS

Rodes 7-Flashback

04 Nov

FLASHBACK

Kucoba mendekati orang-orang kantin satu-per-satu. Tapi, hasil yang kudapati masih nihil. Gelagat-gelagatku yang menanyai orang-orang kantin nampaknya tercium oleh Ani. Ia melihat ke arahku. Tatapan mata yang tajam, tak seperti biasanya ia seperti itu, seolah-olah ingin menerkamku. Dan dengan perlahan ia berjalan mendekatiku.

“Des, mari kuceritakan mengenai adikku” tegur Ani yang sepertinya tak seseram yang kukira.

“Nama adikku Ira Latha. Mungkin kamu agak bingung kenapa ia seolah tak menanggapi dirimu ketika kau mengajaknya berbicara di pantai beberapa waktu lalu” ujar Ani yang mulai menceritakan tentang Ira.

“Darimana kamu tahu kalau aku mengajaknya berbicara di pantai?”tanyaku heran pada Ani.

“Aku berada di pantai ketika itu, dan aku menyaksikan bagaimana usahamu mengajak adikku berbicara, walaupun itu tak mungkin” ucap Ani yang mulai terlihat sesegukan. Nampaknya ada sebuah memori buruk yang tersimpan cukup lama, dan jika memori itu terbuka kembali akan memancing kesedihan yang begitu mendalam bagi Ani.

“Kamu.. Matamu.. Kamu menangis.. Memang ada apa sebenarnya pada Ani?”tanyaku pada Ani.

“Iya, ini semua bermula pada 10 tahun lalu…”Ani mulai bercerita. “10 tahun lalu, kami hidup lengkap. Ada sosok seorang Ayah yang kuat, yang tak kenal lelah untuk menfkahi keluarganya. Sosok seorang lelaki yang patut dikagumui. Ia sangat menyanyangi kami. Ada sosok seorang ibu. Wanita hebat yang tercipta sempurna bagi kami. Sosok wanita yang tak pernah membiarka ayah bekerja sendiri. Ia selalu mencari celah bagaimana caranya untuk membantu ayah menafkahi keluarga. Ya, kami terbentuk sebagai keluarga sederhana, sehingga tak cukup untuk mengandalkan pekerjaan ayah kami yang merupakan seorang nelayan, sehingga ibuku pun bekerja sebagai penjual kue keliling untuk dapat menambah pemasukan keluarga kami.”tutur ani panjang lebar.

“Lalu?”tanyaku penasaran.

“Pada suatu waktu, ayah mengajak kami sekeluarga untuk pergi melaut. Ia mengatakan bahwa udara sedang bersahabat. Tak ada angin kencang, sehingga kami sekeluarga dapat menikmati pemandangan laut dengan tenang. Ayah mengajak temannya untuk menemani kami melaut. Akan tetapi, sepertinya perkiraan ayah salah. Ya, karena di tengah perjalanan tiba-tiba angin menjadi kencang. Air laut seolah berontak. Tak ada tanda kedamaian bagi kami sekeluarga ketika berada di atas perahu. Semua seolah mau kiamat.”Ucap Ani yang tiba-tiba berhenti bercerita dan terlihat menangis.

Kuambil tissue di tasku dan berinisiatif mengusap muka Ani yang penuh dengan air mata kesedihan yang seharusnya tak ia ceritakan padaku.

“Jika memang terlalu sedih, tak perlu dilanjutkan”saranku pada Ani.

“Tak apa, cerita ini memang harus kubagikan padamu”lanjut Ani. Ketika sedang terombang ambing ditengah laut, ayah dan temannya terlihat berdiskusi bagaimana menyelamatkan kami sekeluarga. Ketika ia menemukan cara bagaimana menyelamatkan kami, ia salaman dengan temannya dan terlihat gembira karena berhasil menemukan suatu solusi. Tapi, sepertinya semua terlambat. Ombak tinggi menerjang perahu kami. Aku yang kaget segera berlindung di balik jubah ibuku. Dan setelah itu sebuah kejadian penting dalam hidupku terjadi. Aku, ibuku, dan Ira melihat bagaimana kepala ayahku berbenturan dengan ujung perahu. Dan darah segar terlihat keluar dari kepalanya.

“Ibuku menangis, Ira pun hanya tertegun. Tapi, itu hanya sesaat, karena setelah itu perahu kami terbalik, dan kami pun seolah bersatu dengan laut lepas. Ayah kami terlihat mengapung di laut lepas. Dan tak lama kemudian datang perahu yang lebih besar datang menyelamatkan kami.”lanjut Ani.

“Nelayan yang berada di atas perahu besar itu mengatakan bahwa ketika mereka sedang melaut mereka melihat tiba-tiba arah angin berubah dan mereka memutuskan untuk kembali ke darat. Dan ketika kembali, mereka melihat kami yang sedang terombang-ambing. Tapi, malang bagi kami karena mayat ayah kami terbawa arus laut entah kemana. Hingga kini tak ditemukan.”cerita Ani padaku sambil mengusap matanya denga tissue pemberianku.

“Lalu apa yang terjadi pada Ibumu dan Ira? Tanyaku.

“Ya, inilah pukulan bagi kami selanjutnya. Ibuku nampak tak terima dengan kematian ayahku. Ia stress. Ia menyalahkan dirinya terus. Ia merasa orang yang paling bersalah. Alhasil, ia kena struck. Ia tak bisa menggerakan tangannya, bibirnya pun tidak. Dan kau tahu? ia menutup usia 2 tahun yang lalu Itu sangat memukul diriku!! Belum ada suatu kebangaan yang kuberikan pada ibuku. Belum ada prestasi yang kuberikan untuknya. Belum ada suatu hasil dariku  yang dapat membuatnya bangga kalau aku ini adalah anaknya!!”

Dari cara bicaranya aku tahu, kalau seandainya kami berada di lapangan bola pasti dia sudah teriak sekencang-kencangnya. Aku dapat memahami perasaanya. Di saat belum memberikan sesuatu pada orang tua, justru orang tuanya harus dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Ah, ini sungguh menyesakkan! Bagaimana jika itu terjadi pada diriku? Aku belum dapat memberikan suatu kebanggan untuk kedua orangtuaku, justru aku sering melawan mereka. Tapi, dalam kondisi seperti ini aku harus harus bersikap bijak terhadap Ani.

“Buktikanlah jika kamu bisa berprestasi sekarang, orang tuamu pasti bangga di surga sana” ucapku menenangkan Ani. “Lantas, bagaimana dengan Ira?”lanjutku.

“Ya, setelah kepergian ibuku, ia down. Tak ada niat hidup dari dirinya. Ia sangat dekat dengan ibu. Ia memilih pantai sebagai tempat dimana ia dapat melihat dunia. Ketika melihat pantai, ia merasa melihat sosok ayah dan ibuku, katanya. Ia pun seperti mengasingkan diri. Tak mau bersosialisasi Alhasil, ia mengalami gangguan. Ya, ada gangguan mental terhadap dirinya. Dia tak dapat berbicara dengan orang-orang. Dia bisu. Bisu jika bertemu orang-orang asing. Dia hanya mau bercerita kepada orang-orang yang dekat dengannya. Mungkin kamu sudah dengar dari Anton kenapa adikku menolak banyak banyak cowo. Ya, karena ia tak mau membuka diri dengan orang asing.” Lanjut Ani.

“Tapi kau tahu kenapa aku menceritakan ini kepadamu?”Tanya Ani padaku.

“Tidak”jawabku. Kenapa?

“Ya, karena setelah kamu mengajaknya bebicara di tepi pantai beberapa waktu lalu, Ira menceritakan dirimu kepadaku. Ya, dia bercerita dengan penuh semangat. Seolah ia menemukan nafas hidupnya lagi.” Seru Ani.

“Ah, kamu bercanda?” kataku dengan tidak percaya.

“Tidak, ini enggak bercanda. Makanya aku menceritakan ini semua kepadamu. Pesanku tolong jaga semangat hidup Ira. Dia mulai bersemangat sekarang.” Lanjut Ani.

“Wah, tugas penting nih” kataku dengan nada canda.

“Ya, begitulah” lanjut Ani dengan nada tawa. Sepertinya ia telah melupakan kesedihan dari cerita flashbacknya. Ya, semoga saja…

to be continue

ewaldoapra

thx for reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: