RSS

Rodes 8 – Final

10 Nov

PENGHARAPAN

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Ani, aku memutuskan pulang. Aku ingin agar Ani lebih menenangkan dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, pandanganku seolah kosong. Udara cerah, awan-awan putih, ditambah hijaunya alam seolah tak menjadi perhatianku. Terus saja kulangkahkan kakiku menuju rumah. Cerita Ani terus membekas di pikirankku. Aku terus berfikir siapakah yang dapat membantu Ira agar dapat kembali ceria dan bersemangat kembali. Tiba-tiba terlintas suatu nama di pikiranku. “Ah, akan kuceritakan pada ibu, siapa tau dia bisa membantu, paling tidak sedikit” seruku dalam hati.

Sesampaiku di rumah, ku buka gerbang rumahku. Kupandangi sekitar rumahku. Sepi. Sepertinya tak ada orang di rumah. Tapi, mengapa pintu gerbang tak dikunci? Apakah ada sesuatu terjadi di rumah? Ibu? Kemana dia? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada ibu. Ah, jangan sampai. Kusingkirkan pikiran negatifku.

Ku hela nafasku ketika mendapati ibuku masih sehat walafiat di ruang keluarga sedang menonton tv. “Bu, kenapa pintu pagar tak dikunci? Aku kirain ada apa-apa dengan ibu”tegurku pada ibuku.

“Kamu kan gak bawa kunci pagar, jadi pagar gak ibu kunci. Ibu tadi lagi masak, ntar kalo kamu ketuk-ketuk pagar, masakan ibu terganggu, lagian dari sini keliatan kok siapa yang masuk-keluar rumah.”jelas ibuku.

“Oh, begitu”seruku dalam hati. “Bu, nanti ada yang mau aku ceritakan”ucapku pada ibu.

Setelah mengganti baju aku bergegas menuju ibuku di ruang keluarga. Ku ceritakan apa yang Ani ceritakan kepadaku. Tak sama persis, tapi paling tidak garis besarnya sama. Tak ada yang terlalu ku lebih-lebihkan atau kukurang-kurangkan.

“Kasian sekali temanmu itu. Mungkin ayah punya kenalan dokter yang bagus di daerah sini. Nanti kalau ayah sudah pulang baru kita ceritakan” solusi ibuku.

“Ah, memeangnya ayah mau membantu? tanyaku pesimis. Memang aku kerap kali tidak percaya dengan ayahku. Aku menganggapnya hanya peduli pada pekerjaannya, pada ibu, dan pada ambisinya menjadikan diriku seorang dokter.

“Kamu harus percaya dengan ayahmu itu, pasti dia mau membantu. Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu mau sekali membantu temanmu itu? tanya ibuku.

“Dia kan temanku, kasian kalau tidak dibantu, hitung-hitung nambah amal. Hehehe..”jawabku sekenanya.

“Ah, bohong. Mukamu merah tuh” goda ibuku.

“Ah, perasaan ibu doang tuh”belaku. “Ya udah ya, aku mau ke kamar dulu”. Segera kuambil langkah seribu untuk masuk kamarku. Ku akui tadi aku sedikit gugup dan malu ketika menghadapi pertanyaan ibu tadi.

Di dalam kamar kurebahkan diriku. Ku ambli nafas panjang untuk menghilangkan kegrogianku. Kupenjamkan mataku berharap akan didatangi bunga tidur yang indah pada siang ini.

Di tempat lain (Rumah Ani dan Ira)

Ani dan Ira sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dan ternyata yang dibicarakan adalah mengenai Rodes.

“Ira, kamu beruntung orang sebaik Rodes mau memperhatikanmu. Seharusnya kamu mulai membuka diri untuk orang. Beranilah bersosialisasilah lagi. Kamu pasti bisa. Kalau kamu Cuma berani ngobrol ama kakak gimana kamu mau maju, walaupun kamu masih sedikit gagap, kakak yakin, kamu pasti bisa!” ucap Ani memulai pembicaraan.

Iya, walaupun bisa diajak ngobrol dengan sang kakak, Ira belum dapat bicara layaknya orang biasa. Bad Memory yang membuatnya menjadi seperti itu.

“I..i..ya..ya ju.ga.ga sih ka. Ta..ta..pi a..aku ma..masih be..be..lum be..be..ra..ni..ni.. A..a..pa ka..ka..kak su..su..dah mence..ce..rita..ta..kan ke..ke..jadi..di..an ke..ke..luarga ki..kita pada Ro..rodes? tanya Ira.

“Iya, sudah. Dia sudah mengetahui semuanya” jawab Ani santai. “Semoga saja dia bisa membantu kamu keluar dari masalahmu ini,”lanjut Ani.

Nampaknya Ira tak mau melanjutkan pembicaraan yang baru saja dimulai kakaknya. Ia langsung menuju kamarnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya yang membuatnya semakin tambah cantik, ia terus menggambar wajah Rodes di fikirannya. Semoga apa yang dikatakan kakaknya betul. Semoga Rodes bisa membantunya untuk keluar dari masalah yang dihadapinya, terlebih karena sebenarnya dia memang sudah ingin menjadi layaknya wanita normal.

PERTOLONGAN AYAH

Pukul 7 malam aku terbangun dari tidurku. Segera aku keluar dari kamarku dan bergegas menuju ruang keluarga. Aku menemui ibu dan ayah sedang mengobrol. “Des, sini. Ada yang mau ayah omongin”,ajak ayahku untuk menemaninya bicara.

“Ayah sudah dengar mengenai temanmu itu. Ayah punya kenalan dokter di Jakarta. Dia termasuk spesialis untuk mengobati penyakit yang seperti temanmu sedang derita itu,”ucap ayahku mempromosikan temannya yang dokter itu.

“Tapi, bagaimana dengan biayanya? Dia dan kakaknya hanyalah orang miskin”,tanyaku pada ayah.

“Biar ayah dan ibu yang membantu dia. Segera suruh dia untuk bersiap-siap agar secepatnya ia bisa terbang ke Jakarta untuk berobat”seru ayahku memberi solusi.

Esok harinya aku bertemu dengan Ani dan kuceritakan mengenai solusi yang diberikan ayahku. Ia sangat bergembira. Kamipun sepakat untuk bertemu dengan Ira hari ini juga agar ia tahu berita baik ini. Dengan cepat Ani menceritakan pada Ira, Nampak raut muka bahagia dari muka Ira. Sepertinya ia menemukan secercah harapan untuk bangkit kembali.

“Secepatnya kamu akan terbang ke Jakarta, bahkan kalau bisa besok!”ucap Ani pada Ira.

“Ti..ti..dak.. Aku..ma..mau..na..naik..ka..ka..kapal”sanggah Ira.

“Kapal? Kamu enggak mau naik pesawat?”Tanya Ani

“A..aku..mau..ka..kapal..,kak.. Pe,.pe..ra..saanku..tak..enak..ka..ka..lau naik..pe..sa..sa..wat”jawab Ira.

Ani pun menceritakann hasil pembicaraannya dengan Ira padaku. Sebenarnya aku sedikit kaget. Tapi, tak apalah, toh ujung-ujungnya tetap ke Jakarta, lagi pula ia memberi alasan bahwa perasaannya tak enak kalau naik pesawat. Ani pun sepakat agar besok Ira bisa segera berangkat ke Jakarta.

SAKSI BISU

Hari yang ditunggu tiba. Aku dan keluargaku mengantar Ani dan Ira ke pelabuhan. Ya, Ani akan menemani Ira ke Jakarta. Dengan berbekal alamat yang diberitahu ayah serta akan ada orang menjemput mereka di pelabuhan, mereka pun dengan langkah mantap menatap kapal yang akan membawa mereka ke Jakarta. Menjelang pintu masuk kapal, Ira memberiku sebuah buku kecil yang melalui Ani, ia perintahkan padaku agar tak membukanya sampai mereka datang kembali. Dengan siap kuterima buku itu dan ku lambaikan tanganku ke mereka berdua. Tampak sekali kegembiraan dari raut muka Ani dan Ira. Aku juga. Aku berharap agar Ira lekas sembuh dan dapat langsung dapat berbicara langsung denganku.

Setelah mengantar mereka, kami sekeluarga pulang. Menurut ayahku kurang lebih 3 hari mereka akan sampai ke Jakarta. Sesampai di rumah, kurebahkan badanku dan segera kututup mataku, berharap besok akan ada tanda indah dari sang pencipta. Ya, akan kutunggu kabar mereka 3 hari ke depan.

Esok harinya, di ruang keluarga aku menonton Tv. Tiba-tiba ada rasa penasaran yang membuatku ingin membuka buku yang diberi Ira. Ketika ingin membuka buku dari Ira, muncul berita dari Tv yang menyatakan bahwa kapal yang sedang menuju ke Jakarta mengalami bocor pada lambung kapal dan tenggelam pada dinihari saat para penumpang sedang terlelap. Segera kuamati berita tersebut. Muncullah daftar-daftar korban. Ya, nama Ani dan Ira dan ada di situ! Seketika duniaku seperti hancur. Mengapa tidak? Setelah ada titik harapan untuk bangkit, harapan itu seolah hancur dengan mudah sesuai keinginan sang pencipta, bukan keinginan manusia yang merupakan ciptaan-Nya.

Air mataku menetes. Usahaku untuk menyembuhkan Ira seolah sia-sia. Tak ada yang tersisa. Terlebih dari berita diberitahukan bahwa dipastikan semua korban meninggal dunia. Ah! Tambah remuk badanku. Kenapa ini Tuhan? Sempat ku protes sang pencipta terhadap kenyataan yang tak bisa kuterima ini.

Tiba-tiba kulihat buku Ira yang tergeletak disampingku. Nampaknya itu merupakan diarynya. Walaupun tak bisa bicara dengan jelas, nampaknya ia sangat fasih dalam menulis. Terbuka satu halaman terakhir yang kubaca.

Pintaku

Disinilah aku duduk terpatung

Di tepi pantai yang indah di saat sang mentari akan berganti peran dengan sang rembulan

Tempat di mana aku kehilangan kebahagiaan

Tempat di mana keceriaanku terenggut oleh memori

Ingin ku kembali ke masa itu

Masa di mana kebahagiaan tercipta

Walaupun itu tak mungkin

Izinkanku menyusul kebahagiaanku dengan cara yang sama..

Ira Latha

Tambah deraslah air mataku terjatuh. Ya, keinginan Ira untuk naik kapal tak lain dan tak bukan merupakan keinginannya untuk menyusul kebahagiaannya yaitu ayah dan ibunya. Kebahagiaan yang hilang di tengah ombak. Dan takdir seolah menegaskan bahwa dengan cara yang sama Ira dan Ani dapat menemui kebahagiaan mereka di alam yang lain..

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: