RSS

Monthly Archives: August 2011

50 Tahun Gerakan Pramuka di Indonesia


14 Agustus 1961 yang lalu, Gerakan Pramuka resmi hadir di Indonesia. Setelah 50 tahun berjalan, bagaimana kabar Pramuka saat ini?

Coba tanyakan pada anak-anak muda, apa yang terlintas dalam fikiran mereka jika tersebut kata pramuka? Jadul, aneh, panas, hitam, dan kata-kata yang menganung unsur negatif lah yang biasanya akan keluar. Entah apa yang difikirkan Baden Powell (Pendiri Scout Movement) jika melihat hal ini..

Saya berpramuka sejak SD hingga sekarang (kuliah). Entah kenapa saya merasa pendidikan di Pramuka adalah konsep pendidikan terlengkap yang membentuk seseorang bukan hanya dari sisi akademis melainkan non akamdemis, seperti watak, cara bicara hingga bergaul.

Selain hal-hal di atas, masih banyak keuntungan lain yang di dapat dari berpramuka. Keanggotaan Pramuka diakui di seluruh belahan dunia. Jadi, kalau nanti nyasar di negara manapun, cukup cari tau KWARNAS negara tersebut, tunjukkan KTA kita dan bilang kita Pramuka Indonesia. Beres deh! 😉

Dengan keanggotaan yang lintas negara, otomatis teman dan relasi pun akan bertambah tanpa mengenal batas. Kita bisa punya teman di berbagai negara, entah itu di Asia, Eropa, Amerika atau Afrika. Terlebih lagi memang ada wadah para Pramuka bertemu, seperti Jambore ataupun kegiatan perkemahan lain. Asyik bukan?

Dari sisi watak dan mental, Pramuka memiliki Tri Satya dan Dasa Darma yang jika ditepati akan membetuk seorang yang “wah”.

Dasa Darma
Pramuka Itu :

1 Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa                            
2 Cinta Alam dan kasih sayang sesama manusia
3 Patriot yang sopan dan ksatria
4 Patuh dan suka bermusyawarah
5 Rela menolong dan tabah
6 Rajin, terampil dan gembira
7 Hemat, cermat dan bersahaja
8 Disiplin, berani dan setia
9 Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
10 Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan

Tri Satya

Demi Kehormatanku Aku berjanji akan bersungguh-sungguh :

– Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila.
– Menolong sesama hidup dan (mempersiapkan diri-penggalang) (ikut serta-penegak) membangun masyarakat.
– Menepati Dasa Darma.

Indah bukan? Memang susah untuk melaksanakan itu semua, tapi alangkah baiknya jika dicoba.. 😉

Di umurnya yang memasuki setengah abad ini, saya berharap agar Pramuka menjadi “besar” bukan hanya di kalangan Pramuka saja. Di kalangan Pramuka dikenal istilah Jambore daerah/nasional/dunia, Raimuna daerah/nasional, PeranSaka, dll. Begitu banyak kegiatan tersebut, tetapi info dan eksposnya terlalu minim, sehingga menjadikan orang tidak mengganggap Pramuka. Hanya orang-orang yang berkecimpung di dunia Pramuka saja yang tahu kegiatan tersebut. Coba saja bilang “kemarin saya baru mengikuti perkemahan Raimuna Nasional”. Apa tanggapan orang? Kemungkinan besar, biasa saja. Nothing special!

Hampir sama dengan “memakai baju dan celana pramuka”. Coba hitung berapa banyak anak muda yang masih mau memakai seragam Pramuka! BERAPA? Sungguh tragis memang. Gerakan yang awal mulanya bernama kepanduan, yang ikut serta aktif dalam persiapan kemerdekaan RI ini sudah menjadi sesuatu yang tak bernilai di kalangan orang muda. Siapa yang salah? Entahlah..

Saat ini, saya kuliah di Universitas Trisakti. Dan untungnya, di sana memiliki UKM “Gerakan Pramuka”. Sungguh suatu hal yang cukup melegakan dada, karena masih ada kampus yang memiliki kegiatan Kepramukaan. Dan yang paling membuat saya takjub adalah mayoritas dari para anggotanya adalah orang-orang yang baru mengenal Pramuka. Mereka baru secara intens mengenal Pramuka di bangku kuliah. Di saat orang lain tidak memperdulikan Pramuka, mereka mau bergabung dan mengenal Pramuka. Yang paling hebat lagi, MEREKA BANGGA MEMAKAI SERAGAM PRAMUKA! LUAR BIASA!

Setiap racana(di tingkat kampus,disebut racana) memiliki adatnya masing-masing. Begitu pula di Trisakti. Hingga di tingkat tertentu lah, para anggota boleh memakai seragam Pramuka. Hingga saat itu tiba..

Saat-saat di mana mereka memakai seragam Pramuka adalah saat yang paling ditunggu. Upacara HUT NKRI ke 66 merupakan saat pertama kali para anggota memakai seragam. Apa reaksi mereka? Mereka terlihat begitu antusias ketika memakai seragam. Dengan bangganya mereka memasuki lapangan upacara dengan seragam Pramuka. Langsung membentuk barisan dan terlihat rapi. Dengan seragam pramuka lengkap mereka mengikuti jalannya upacara yang memperingati Kemerdekaan negara ini.

Itu di dunia kuliah. Bagaimana yang di sekolah? Pengalaman berpramuka di sekolah lebih banyak lagi. Saya bersekolah di SMAN 6 Bekasi dan di sana ada kegiatan Pramuka. Dengan nama ambalan LASER (Mulawarman-Nyi Ageng Serang), banyak pengalaman yang didapat. Biarlah suatu waktu nanti, saya tulis tentang kegiatan berpramuka semasa SMA.. 🙂

Dedicated to :

Gerakan Pramuka Indonesia (Selamat HUT ke 50!!.. Tuhan memberkati)

Gerakan Pramuka Univrsitas Trisakti (Semangat kakak-kakak yang sangat semangat mengenal Pramuka!)

Gerakan Pramuka SMAN 6 Bekasi-LASER (Suatu saat nanti, saya tulis pengalaman saya bersama kalian) 🙂

dan saat-saat yang ditunggu sekarang adalah FILM 5 ELANG!! yang menceritakan kegiatan berpramuka.. WAJIB NONTON!! 😀

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on August 19, 2011 in Artikel, Indonesia, kampus, pendidikan, pengalaman

 

Tags: , , , , , , ,

PASKA Bekasi -> Sahabat Layaknya Keluarga


Di postingan hari ini saya akan bercerita tentang sahabat-sahabat saya di kategorial Gereja bernama PASKA Bekasi. PASKA sendiri merupakan singkatan dari Persatuan Siswa/i Katholik tingkat SMA se-Bekasi. Secara gak sengaja saya nyemplung di sini (karena Monic dan Dica), itu terjadi ketika kenaikan kelas 3 SMA…

Ketika itu sedang libur semester kenaikan kelas sekitar akhir bulan Juni 2008. Diajak oleh 2 orang teman yang bersekolah sama, saya mengikuti kegiatan Kaderisasi PASKA di daerah Puncak. Di sana ada 33 orang yang menjadi peserta dan tak di antara semua peserta itu, tak ada seorang pun yang saya kenal! Bahkan hanya saya saja yang berasal dari gereja yang berbeda dengan mereka. Meskipun begitu, saya tetap mencoba PD mengikuti kegiatan tersebut.

Sesuai dengan nama acara tersebut “Kaderisasi”, berarti memang bertujuan mengkader para peserta menjadi anggota baru PASKA Bekasi. Dan secara tak sengaja pula, nama saya lah yang muncul sebagai Ketua PASKA untuk menjabat di periode 2008-2009. Muncul kebimbangan dalam diri saya. Saya yang berasal dari Gereja yang berbeda dengan mereka, dan baru mengenal mereka selama 3 hari 2 malam di acara Kaderisasi tersebut, tetapi mereka mempercayakan tugas Ketua PASKA di pundak saya. Saya coba jalaninya sebagai amanah.

Beberapa hari setelah acara Kaderisasi tersebut, saya mengumpulkan semua peserta Kaderisasi kemarin untuk perumusan kepengurusan PASKA 2008-2009 yang menjadi angkatan ke-2 PASKA serta pembicaraan mengenai program kerja PASKA selama 1 tahun ke depan.

PASKA Bekasi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an, tetapi sempat vakum selama beberapa tahun di akhir tahun 1990-an, dan mulai aktif kembali tahun 2007 yang kami sebut sebagai angkatan 1. Dan itu berarti kepengurusan saya menjadi angkatan ke 2.

Kembali lagi, setelah beberapa kali mengadakan pertemuan, terbentuklah kepengurusan dan 4 program kerja besar selama 1 tahun ke depan. Yang pertama adalah JUMPA PELAJAR, dan berdasarkan ritual PASKA, yang menjadi ketua pelaksana program kerja pertama adalah Ketua PASKA maka itu berarti saya lah yang menjadi ketua pelaksana JUMPA PELAJAR Siswa/i Katolik se-Bekasi tersebut.

Dana yang kami butuhkan untuk dapat melaksanakan acara tersebut kurang lebih 15 juta-an. Dan karena perjuangan saya bersama rekan-rekan (lebih tepat dibilang saudara) di PASKA maka acara tersebut dapat berjalan dengan baik. Perjuangan mencari dana yang menurut saya LUAR BIASA! Kami ngamen di pelataran gereja, kami mencuci mobil yang parkir di Gereja, jual makanan dan minuman, jual buku, mencari donatur, mencari barang bekas dan menjualnya, dan beberapa cara lain yang kami gunakan untuk mencari dana acara tersebut. Luar biasa capenya dan tak terhitung keringat yang keluar ketika pencarian dana tersebut. Di saat teman-teman di sekolah sedang bersantai-santai, kami justru rela menginvestasikan waktu, tenaga dan fikiran kami demi berjalannya acara ini. Mengapa saya sebut sebagai investasi? Ya waktu, tenaga dan fikiran kami itu tidak kami habiskan begitu saja. Tapi investasi untuk masa depan, karena kami percaya suatu saat nanti pelajaran-pelajaran berharga yang kami dapat di PASKA Bekasi dapat kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di masa depan kami.

Acara JUMPA PELAJAR yang dilaksanakan tanggal 14-16 November 2008 di Villa Restu Bundo,Puncak ini berhasil menarik 78 peserta dari berbagai macam gereja dan sekolah di Bekasi bahkan ada peserta yang bersekolah di Jakarta. Suatu prestasi tersendiri bagi para panitia. Acara berjalan dengan baik dan mendapat respon positif dari para peserta. Hal itu terlihat ketika acara api unggun pada malam ke 2. Baik panitia maupun peserta terlibat aktif dalam memeriahkan acara. Tawa canda terlihat jelas pada malam tersebut, sekaan tak ada sekat yang membatasi kami. Karena melihat antusiasnya para peserta, beberapa peserta kami rekrut untuk terlibat di kepanitiaan PASKA di event selanjutnya.

Setelah event JUMPA Pelajar, kami mengadakan event Baksos dan Natal bersama tanggal 11 Januari 2009 yang diketuai oleh Anto. Hampir sama dengan Jumpa Pelajar, pencarian dana yang kami lakukan benar-benar melelahkan tetapi karena hal itulah yang membuat kami semakin kompak. Kompak bukan karena hal lain, tetapi kompak karena telah merasakan kerasnya kehidupan. Ya, kerasnya kehidupan ketika mencari dana, entah mencuci mobil, mencari barang bekasi dan menjualnya, dan yang lainnya yang kami lakukan bersama-sama.

Kepanitiaan event Baksos dan Natal Bersama baru terbentuk H-3 minggu sebelum acara. Tetapi semuanya dapat ter-handle dengan baik berkat kerja sama antar semua panitianya. Baksos kami laksanakan di Panti Jompo Charitas di daerah Bekasi. Di sana kami memberikan bantuan seadanya demi kelangsungan panti tersbut. Kami bercanda bersama dengan para kakek-nenek di sana. Begitu bahagianya melihat senyum indah mereka masih bisa mereka tampilkan. Senyum yang seakan mengatakan terima kasih.

Setelah baksos, kami melaksanakan event Natal Bersama 30 orang pelajar Katholik Bekasi di aula Gereja St. Arnoldus, Bekasi. Kasih Natal terasa kental di sana. Berhias pohon natal yang terbuat dari gelas-gelas air mineral bekas dan kandang Natal dari triplek dan kardus, dekorasi sederhana yang mengingatkan akan Kelahiran Yesus Kristus dalam keadaan yang sederhana pula.

Acara Natal dan Baksos ditutup dengan keberhasilan para panitia me-manage acara dengan baik. Setelah itu, kami mengadakan proker besar ke 3 kami yaitu PASKA Cup yang diketuai oleh saudara saya yang lain, Dwi. Karena ini event pertama kali diadakan PASKA Cup (berbeda dengan Jumpa Pelajar dan Baksos yang sudah pernah dilaksanakan di angkatan 1), kami menargetkan lomba yang diadakan 1 mata lomba dulu, yaitu Futsal. Acara berlangsung tanggal 22,26, dan 29 Maret 2009 di lapangan futsal Marsudirini, Bekasi.

Lomba tersebut diikuti 8 tim yang kami bagi dalam 2 pool. Ada yang mewakili sekolahnya, ada pula yang membentuk tim sendiri, dan ada pula tim undangan dari PERSIKA Jakarta (Persatuan siswa/i Katholik Jakarta). Dari kompetisi tersebut, didapatkan pemenangnya yaitu PERSIKA Jakarta. Tidak seperti sepak bola Indonesia yang identik dengan kekerasan, PASKA Cup berlangsung aman dan damai. Tak ada cekcok yang berlebihan. Sekalipun ada ketidakpuasan dengan keputusan wasit, para peserta dapat menyampaikan dengan baik. Karena kerja sama yang baik dari pihak peserta, maka acara PASKA Cup dapat berjalan dengan lancar.

Program kerja terakhir kami adalah melaksanakan Kaderisasi. Anggota PASKA yang kami percayakan untuk mengemban tugas sebagia ketua adalah Andreas Dimas, atau yang kerap kali kami sapa dengan nama Acil.

Tugas berat mulai menhinggapi. Sejak dilaksanakannya PASKA Cup, anggota yang kelas 3 SMA terbilang sudah kurang aktif mengikuti PASKA karena adanya persiapan UAN dan SNMPTN. Kami bahkan menggelar doa bersama menjelang UAN tanggal 18 April yang diikuti 30 siswa kelas 3 SMA di Bekasi.

Menilik pada kenyataan tersebut, para panitia berjuang keras. Terlebih kepanitiaan terbentuk H-2 bulan dari target acara, sementara dana yang dibutuhkan mencapai 20 juta-an, karena kami merencankana Kaderisasi dilaksanakan di area outdoor dan berkemah bukan di Villa seperti Jumpa Pelajar.

Pencarian dana yang seperti biasa kami lakukan tetap kami lakukan. Keringat bercucuran, ada emosi, ada canda di dalamnya tapi semua itu melebur menjadi satu dalam kebersamaan kepanitiaan Kaderisasi, acara yang bertujuan mencari kepengurusan anggota baru menggantikan kami-kami ini.

Tak disangka, tak diduga hasil jerih payah kami berbuah baik. Acara dilaksanakan tanggal 3-5 Juli 2009, di Bumi Perkemahan Cidahu dan diikuti 30 peserta. Event pertama PASKA Bekasi di area outdoor dengan konsep berkemah dapat berjalan dengan baik dan memunculkan orang-orang baru sebagai tonggak penerus PASKA Bekasi.

Hufftt.. Ya, itulah sebagian cerita saya di PASKA Bekasi dengan segala rasa campur aduk di dalnya. Masih ada beberapa yang tidak saya ceritakan seperti kesempatan pidato di depan ribuan umat ketika pelantikan PASKA, dan hingga sekarang saya dan beberapa teman tetap mendampingi PASKA hingga angkatan sekarang yang menginjak angkatan ke 5.

Kami bukanlah lagi teman kerja di PASKA, segala cape, jerih payah dan keringat yang kami keluarkan membuat kami semakin bersama di dalam kebersamaan PASKA. Perjuangan mencari dana dan peserta membuat kami berkaca bagaimana kerasnya kehidupan di dunia nyata. Bagaimana susahnya orang tua kami mencari uang demi kami, anak-anaknya. Ya, karena itulah saya sebut kami bukan lah lagi teman dalam kepengurusan PASKA melainkan sudah 1 keluarga. Ya, kami bersaudara…

Anjel, Rosa, Sheren, Martin, Laras, Dwi, Anto, Acil, Advent, Ragil, Niko, Nancy, Riko, Mia, Esti, Mora, Agus, Nando, Bertho..
Thanks Guys, sudah menorehkan warna-warna indah di hidup seorang Waldo..
🙂

God bless all of you..

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in PASKA, pengalaman, Refleksi, sahabat

 

Tags: , , , ,

On Time -> It’s not about TIME, but RESPECT


Mungkin sudah banyak di antara kita yang telah mendengar kata on-time. Sebagaimana yang kita ketahui on-time merupakan kata bahasa Inggris yang berarti tepat waktu. Memang begitu mudah menerjemahkannya sebagai tepat waktu, tapi bagaimana dengan pelaksanaannya? Sudah kah tepat?

Mengutip kata-kata dari Billy Boen di bukunya “Young On Top”, “Apabila kamu datang tepat waktu, artinya kamu menghormati orang yang akan bertemu dengan kamu. Dan tidak hanya itu, kamu juga telah menghargai diri kamu sendiri karena berhasil memenuhi jadwal yang sudah kamu buat sebelumnya“.

Zaman sekarang kata On Time bukanlah hanya sekadar tepat waktu, melainkan All About Respect. Respect di sini berarti menghargai dan menghormati. Menghargai orang yang sudah berjanji bertemu dengan kita dan menghargai diri kita sendiri terhadap jadwal yang telah kita tentukan. Jika bukan mulai dari kita sendiri yang menghargai diri kita, terus siapa lagi?

Ilustrasinya seperti ini. Saya telah berjanji dengan 3 orang rekan untuk bertemu pukul 11.00 di daerah Jakarta. Pada pukul 14.00 saya harus bertemu dosen pembimbing di kampus. Bisa dibayangkan apabila pertemuan dengan rekan-rekan saya tersebut tidak dimulai dengan on time? Hampir pasti saya juga akan telat bertemu dengan dosen pembimbing saya. Oleh karena itu, baik saya maupun ke 3 rekan saya yang lain harus memulainya dengan on time agar jadwal yang telah diatur dari tiap orang dapat berlangsung dengan baik. Jika sudah begitu, maka kita termasuk sudah menghargai diri kita dan menghargai orang lain pula.

Jakarta macet? Siapa yang tidak tahu? “Jangan gunakan macet sebagai alasan. Perhitungkan waktu kamu dengan telah melibatkan unsur macet di dalamnya!” Ucap seorang dosen saya di kampus. Pada awalnya saya sungguh kesal dengan dosen tersebut, tetapi makin ke sini saya termasuk orang yang mendukung kata-kata nya mengenai on time. Kemacetan di Jakarta memang tidak bisa dicegah tapi bukanlah penghalang bagi kita untuk menepati janji secara on time. Jika jarak rumah cukup jauh dari tempat yang telah dijanjikan, estimasikan waktu yang memang telah melibatkan unsur macet di dalamnya. Misal: janji pertemuan jam 11.00. Jika jarak rumah jauh, jalanlah sekitar 1,5jam sebelumnya dan estimasikan pula waktu macet kurang lebih 30 menit-1 jam. Lalu jalanlah dari rumah menggunakan waktu yang telah mengandung unsur jauh dan macet tersebut.

Saya sebagai mahasiswa juga termasuk orang yang sedang belajar untuk menerapkan on time dalam kehidupan sehari-hari. Di komunitas dan organisasi yang saya ikuti telah saya sharing-kan mengenai “on time” ini sendiri. Pada awalnya komunitas dan organisasi yang saya ikuti kerap kali memulai rapat dengan ngaret. Mereka mengatakan bahwa ngaret adalah suatu tradisi. TRADISI? Iya, akan tetap menjadi tradisi jika tidak yang mau berubah. Saya sharing-kan kepada teman-teman saya di komunitas dan organisasi tersebut mengenai on time: it’s not about time, it’s about respect. Syukur, belakangan ini rapat dimulai dengan on time dan selesai pula dengan on time. Ketika saya tanyakan kepada teman-teman bagaimana menjadi manusia yang on time, jawab mereka “Enak ya. Jadi bisa mengatur waktu lebih baik.”

Jika kita ingin menjadi manusia yang on time, maka kita harus mencoba berubah dari diri sendiri. Itu yang saya coba. Setelah itu saya coba tularkan virus on time ini kepada teman-teman sekitar saya.

Bagi yang membaca posting ini, mari kita sebarkan virus on time kepada semua orang yang kita temui.
Karena, On Time :  It’s not about TIME, but RESPECT

 

Tags: , , , ,