RSS

Harta Karunku

16 Mar

Harta Karunku

 

“Aku melakukan kesalahan.. Aku coba perbaiki.. Aku gali harta karunku yang tersembunyi.. Begitu sulit awalnya.. Tetapi ketika semua telah kulalui, itulah yang menjadikanku kuat seperti sekarang ini..

 

Siang hari panas tak terkira, malam hari justru hujan. “Cuaca sedang labil-labilnya nih,” fikir seorang pemuda yang sedang duduk asyik di bawah pohon. Doni Randy namanya. Pemuda tersebut baru saja pulang dari sekolahnya. Tak jelas ke arah mana langkah kakinya akan ia langkahkan, bagai anak ayam yang kehilangan induknya, Doni seperti orang linglung.

“Malas ah pulang ke rumah, ujung-ujungnya dimarahin juga” batin Doni. Ia baru saja mendapat terguran SP (Surat Peringatan) dari gurunya karena hari ini sudah datang telat yang ke sebelas kali. Sudah barang tentu ia tak mau pulang, marahan dari ayahnya yang notabene seorang tentara sudah menghantuinya.

Hari beranjak malam. Sinar matahari yang cerah dan indah telah berganti dengan cahaya bulan purnama yang terus dilihat oleh Doni. “Ah, enaknya jadi matahari. Kalau sudah capek, dia tinggal minta bulan yang gantiin. Coba gue. Gue capek ama bosan di sekolah, mana ada yang mau gantiin? Yang ada juga kena cambuk bokap,” ucap Doni dalam hatinya. “Malah minggu depan udah pengambilan rapot lagi, kudu siap mental nih”. Keluh kesah yang terus keluar dari mulutnya membuat rasa lapar menghampirinya. Tak tahu harus ke mana, ia pun bergegas pulang.

Tok..Tok..Tok.. Dengan rasa gugup Doni mengetuk pintu rumahnya.

“Siapa?” Tanya orang dari dalam rumah.

“Doni” jawab Doni tak antusias.

“Masuk aja Don, enggak dikunci kok”

Dibukanya pintu rumah dan segera menuju kamarnya. Doni tak berani menatap mata orang tuanya yang sedang makan malam di ruang makan. Tak mempedulikan kedaaan sekitar, ia langsung menuju kamarnya.

Ayah Doni memang terkenal “keras”. Ia seorang tentara yang disegani di daerah perumahannya. Banyak preman pasar yang sudah bertekuk lutut olehnya. Jangan tanya kemampuannya untuk berkelahi, badan besar dan berotot sudah menjadi modal awalnya. Orang-orang daerah perumahannya selalu menghormati ayah Doni karena dengan hadirnya ayah Doni di perumahan tersebut membuat tindak kekerasan dan kriminal berkurang drastis. Sepertinya para pelaku kejahatan tersebut sudah terlanjur takut dengan ayah Doni.

Apakah ada orang tua yang ingin melihat anaknya rusak dan gagal? Tentu tidak. Yang orang tua inginkan dari sang anak adalah wajah bahagia dari sang anak karena telah berhasil dalam menggapai cita-citanya. Hal itulah yang menjadi pedoman ayah Doni dalam mendidik putra satu-satunya itu. Ia tak ingin melihat anaknya gagal, ia tak ingin melihat anaknya rusak dan hancur, yang ia inginkan agar Doni berhasil dalam studinya. Alhasil, cara mendidik ala militer ia terapkan untuk anaknya. Tak terhitung berapa kali Doni “ditempa” oleh ayahnya. Doni sungguh amat tak menyukainya, tapi cara seperti itulah yang dipilih ayahnya untuk mendidik dirinya.

“Bagaimana kabar sekolahmu?” Tanya ayah Doni yang mengagetkan Doni. Ia tak sadar sedari tadi ayahnya sudah ada di kamarnya. “Kamu ini masih muda ngelamun mulu, mau jadi orang seperti apa nanti, kalau kerjaannya melamun mulu? Jadi, gimana sekolahmu?”

Kebimbangan menghampiri Doni. Surat Peringatan dari sekolahnya masih ada di dalam tasnya, apakah ini waktu yang tepat untuk memberi tahu ayahnya atau tidak, ia masih bingung. “Ya, begitulah,pa..” jawab Doni sekenanya.

“Yakin? Tadi papa dengar dari mama, kalau kamu terlambat lagi ke sekolah. Udah ke berapa kali kamu terlambat? Kalau mau jadi orang sukses harus DISIPLIN!” dengan sedikit keras ayah Doni mengucapkan kata DISIPLIN, untuk mempertegas dan menggarisbawahi kata tersebut.

Oke. Ini saatnya. Doni pun memberi tahu ayahnya mengenai Surat peringatan tersebut. “Yaa, sudah terlanjur basah” batin Doni.

“Pa, ini ada surat dari wali kelas” ucap Doni sembari memberi surat tersebut kepada ayahnya.

“Surat apa ini?” Tanya ayahnya.

“Tadi aku memang terlambat lagi ke sekolah. Jadi aku dipanggil Bu Wiwi ke ruangannya. Dia menceramahiku beberapa menit lalu memberi surat tersebut” jelas Doni kepada ayahnya. Dengan sedikit gugup ia menunggu reaksi ayahnya yang sedang membuka surat tersebut.

Satu detik, tiga detik, lima detik tak ada reaksi dari ayahnya. Satu menit kemudian…

“Oke, besok papa yang akan menghadap wali kelasmu” ucap ayah Doni. “Sekarang lebih baik kamu makan lalu tidur supaya besok tidak terlambat lagi”sambungnya.

Clek. Pintu kamarnya tertutup. Ayahnya sudah keluar dari kamarnya. Doni pun termenung. Membisu. Ada apa dengan papa? Tumben dia tidak marah-marah? Oh, Puji Tuhan, batinnya.

Segera Doni makan malam, membersihkan diri lalu bergegas tidur.

Sebelum tidur, Doni berdoa. “Ya Tuhan, semoga besok tidak terjadi apa-apa di sekolah. Semoga pertemuan Bu Wiwi dan papa baik-baik saja. Minggu depan juga akan ada pembagian raport, semoga nilai saya aman-aman saja, supaya tak mengundang rasa marah dari papa. Berikan saya kepintaran ya Tuhan! Berikan saya otak yang cerdas ya Tuhan! Supaya papa dan mama bisa bangga dengan saya. Saya kesal sudah dianggap bego terus sama papa. Saya kesal dianggap anak yang tak berguna. Saya mau sukses ya Tuhan!” Ucapnya dalam doa dengan menggebu-gebu yang diakhirinya dengan kata “Amin”.

Pagi harinya Doni bangun tepat waktu. Alarmlah yang membangunkannya. Ia tahu betul itu kerjaan ibunya, karena ia sendiri tak merasa menyetel jam alarm untuk membangunkannya. Ia segera mandi dan segera menuju sekolah. Orang rumah sepi. Tak ada orang, semuanya telah berangkat kerja. Ketika hendak melangkah keluar rumah, Doni menemukan secarik kertas di atas meja ruang tamu. Penasaran dengan kertas tersebut, Doni langsung membukanya. “ASTAGA!” Seketika itulah Doni kaget. Tangannya gemetaran memegang kertas tersebut. Ia masih tak mempercayai tulisan yang tercetak di kertas tersebut.

Sepanjang perjalanan Doni terus memikirkan isi kertas yang tak sengaja ia temui di rumahnya. Kertas itu berisikan surat dokter mengenai kesehatan ayah Doni. Dari yang ia tangkap dan baca, ayahnya ternyata mengidap penyakit jantung. Tercetak jelas bahwa tanggal yang tertulis adalah tanggal kemarin pagi. “Apakah itu yang membuat ayahnya tak memarahinya kemarin malam?” Ya! Itulah alasannya. Mata doni mulai basah, dibasahi air matanya sendiri. Jika dalam kedaan normal sudah pasti ayahnya akan memarahinya karena Surat Peringatan tersebut, tapi kemarin malam yang terjadi justru sebaliknya. Ayahnya adem ayem. Tak ada raut muka kesal dan marah yang ayahnya tunjukkan. Itu bukan ayahnya yang sebenarnya. Ya, pasti karena diagnosa dokter itulah yang menyebabkan ayahnya mengontrol emosinya. Air mata Doni terus mengalir. “Anak macam apa aku ini? Ayahku sakit, tapi aku justru mengecewakannya?” batin Doni terus dalam hatinya. Tak terasa ia sudah sampai di sekolah.

Jam pelajaran hari ini terasa begitu cepat bagi Doni. Cepat, karena ia memang tak terlalu memperhatikan penjelasan dari gurunya, terlebih hari ini hari sekolah terakhir. Besok hingga minggu depan akan dilaksanakan class meeting yang diteruskan dengan pembagian raport. Sepanjang jam pelajaran di kelas Doni lebih banyak diam. Tak terlihat Doni yang biasanya. Doni yang ramai, ceria, usil dan bersemangat. Semua hilang bagai di telan bumi. Surat pernyataan dokter mengenai kesehatan ayahnya terus terlintas dalam benaknya.

Tak terasa perjalanan Doni sudah mengantarnya hingga depan rumahnya. Sudah pasti ayahnya juga telah sampai rumah, dan yang lebih pasti, ayahnya pasti telah bertemu dengan wali kelasnya.

“Siang,pa..” ucap Doni pelan.

“Siang..” jawab ayah Doni. “Sini, kita bicarakan hasil pembicaraan tadi dengan bu Wiwi” ajak ayah Doni kepada Doni sambil mempersilahkan Doni untuk duduk di sebelahnya.

“Tadi papa langsung dibagikan hasil raportmu. Sebenarnya jadwal pembagian raport adalah minggu depan, tapi berhubung papa udah datang hari ini, ya sekalian saja dibagi hasil raportmu ke papa” jelas ayah Doni.

Badan Doni menjadi gugup. Raportnya telah diserahkan ke ayahnya? Hati dan pikirannya belum siap menerima hasil raport tersebut.

“Kata Bu Wiwi, kamu sebenarnya anak yang mampu dan sanggup untuk mengikuti pelajaran. Masalah kamu ada di dispilin. Kamu suka terlambat. Sudah berulang kali papa tegaskan kalau dispilin itu penting. Percuma kamu jadi anak jenius raport bernilai 9 semua, kalau tidak ada rasa disiplin yang tertanam dalam diri kamu, karena hasilnya sama saja dengan NOL BESAR! Ini hasil raport kamu,” papar ayah Doni sembari menunjukkan hasil raport tersebut kepada Doni.

“Nilai terbagus kamu ada di Bahasa Indonesia, nilai terjelek ada di Matematika. Itu yang dijelaskan Bu Wiwi. Apa kamu juga merasa seperti itu?” Tanya ayah Doni.

Doni berfikir sejenak. Seharusnya itu pertanyaan mudah, namun menjadi susah di kala badan, hati dan fikiran sedang gugup. “ehh.. iya,pa..” jawab Doni. “Aku memang suka bahasa Indonesia. Apalagi menulis. Aku senang menulis, pa. Dan aku benci matematika, karena aku tidak suka dengan hitung-hitungan” jelas Doni.

“Kalau begitu, sekarang lekas ke kamar. Buat 3 tulisan cerpen yang harus selesai besok pagi. Ingat, DISIPLIN adalah kata suksesnya!” jelas ayah Doni dengan memberi tantangan kepada Doni.

“Ma..mak..maksudnya apa pa?” Tanya Doni mempertegas.

“Ketika kita menemukan tanah yang kemungkinan ada harta karunnya, tentu harus kita gali tanah tersebut untuk meyakinkan apakah benar ada harta karun atau tidak di dalam tanah tersebut. Begitu juga dengan TALENTA..” jelas ayah Doni . “Sekarang silahkan ke kamar, kita cari apa harta karun yang kamu punya” papar ayah Doni dengan tegas.

Tugas berat menanti Doni. Ya, 3 cerpen harus ia buat dan harus selesai besok pagi. Sebenarnya ini adalah waktu bermain baginya. Raport sudah ada di tangan, sudah tak ada lagi kegiatan belajar mengajar di sekolah, tapi ayahnya justru memberi tugas ini kepadanya. “Harta karunku harus kutemukan!” ucap Doni sembari menyemangati dirinya.

Di dalam kamar, ia benar-benar serius. Kata “DISIPLIN” yang diucapkan ayahyna tergiang-ngiang dari dalam telinganya. “Disiplin adalah kata suksesnya”, itulah kalimat yang menjadi acuan Doni.

Malam semakin larut. Makan malam pun ia hanya sekadarnya. “Tak perlu banyak-banyak, yang penting sudah cukup” batinnya. Bagai pejuang di medan tempur, senjata-senjata Doni juga sudah siap. Laptop sudah tertata di atas mejanya. 10 jarinya menari indah di atas laptop. Tak peduli ada sesuatu yang terjadi atau tidak di luar sana, Doni terus asyik dengan dunianya sendiri. Hanya bunyi dari peraduan jari dengan ‘tuts’ laptoplah yang terdengar di dalam kamar Doni. Untaian kata-kata, kalimat, hingga menjadi paragraph terus ia buat utnuk mencapai target 3 cerpen hingga besok pagi.

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Di saat orang-orang sedang beristirahat, seorang anak lelaki masih dengan asyiknya duduk di hadapan laptopnya. Matanya terus fokus di hadapan layar laptopnya. Tak ada seorang pun yang dapat mengganggunya sekarang.

“SELESAI!.. Yihaaa!” Teriak Doni senang. 3 cerepen tersebut berhasil ia selesaikan pukul 4.30 pagi. “Waktunya tidur..” ucap Doni dalam hati.

Malam yang akan beranjak menjadi pagi seolah menjadi saksi seorang anak lelaki yang tengah berjalan menemukan harta karunnya…

Doni terbangun pukul 9 pagi. Ia melihat layar laptopnya. Halaman yang terpampang di laptopnya bukanlah halaman bagian terakhir cerpen yang ia tulis. Dengan sedikit heran, ia beranjak bangun dari tempat tidurnya.

“Selamat, anakku.. Tantangan pertama selesai. Fikirkanlah ide-ide cerita hari ini. Besok buatlah 5 cerpen. Dan terus bertambah 2 setiap hari agar semakin pastilah harta karunmu..” -With Love, Your Dad-

Air mata jatuh dari mata Doni. Rasa haru bahagia ia rasakan. Baru kali ini ayahnya menberi selamat kepadanya. “Baiklah, 3 cerpen tanpa ada waktu membuat ide cerita saja bisa selesai, apalagi tantangan ini..” Batin Doni dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Tok..tok..tok..Suara ketukan pintu kamar Doni terdengar. “Siapa?” Tanya Doni.

“Mama” ternyata mamanya lah yang mengetuk pintu kamarnya.

“Kenapa,ma? Tanya Doni kepada ibunya, sebab tak seperti biasanya ibu Doni masuk kamarnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Papa kamu, don.. Dia masuk Rumah Sakit. Jantungnya kumat..” Ucap IBu Doni dengan menitikkan air mata.

“Apa? Bukankah tadi dia menulis di laptopku? Kenapa tiba-tiba di Rumah sakit?” Tanya Doni, sambil mengingat kejadian kemarin pagi di mana ia menemukan surat dokter yang menyatakan ayahnya mengidap penyakit jantung.

“Tadi pagi, mama memang melihat papa kamu masuk kamar kamu. Tapi, tadi baru ada telefon dari kantornya. Dan dibilang bahwa papa kamu masuk Rumah Sakit karena penyakit jantungnya kumat” jelas Ibu Doni dengan mata yang masih berlinang.

“Ayo, kita ke Rumah Sakit” ajak Doni tanpa pikir panjang.

Sesampainya di Rumah Sakit, Doni langung bergerak aktif mencari tahu di ruang mana ayahnya dirawat. Setelah mengetahuinya, ia dan ibunya langung menuju kamar tersebut.

Tertegun. Ya, itulah reaksi pertama Doni bergitu masuk kamar tersebut. Begitu sakit hatinya melihat ayahnya yang lemah dan tidur berbaring di atas kasur, tak ada lagi yang dapat dilakukan ayahnya. Teman ayah Doni datang dan menceritakan kronologis mengapa ayahnya bisa sakit seperti ini.

“Tadi pagi dia datang ke kantor dengan wajah cerah. Dia bercerita bahwa anaknya telah berhasil menemukan harta karun yang selama ini ia cari. Karena terlalu senangnya, dia terlalu bersemangat bekerja. Jantungnya tak kuat, alhasil jadi seperti ini.” Jelas teman Ayah Doni kepada Doni dan ibunya.

Pecah sudah tangis Doni. Sudah jelas dan pasti yang dibicarakan ayahnya adalah dirinya. Dirinya yang berhasil menjawab tantangan ayahnya.

Dokter datang dan menjelaskan hasil pemeriksaannya. Penyakit jantung ayah Doni sudah stadium akhir. Butuh keajaiban untuk menyelamatkannya.

Kini muka ayahnya berhadapan langsung dengan mukanya. Terbayang muka marah ayahnya ketika ia melakukan salah. Terbayang tempaan-tempaan yang dilakukan ayahnya kepada dirinya. Terbayang bagaimana ayahnya menasehati dirinya. Terbayang ucapan selamat pertama yang disampaikan ayahya pada dirinya melalui laptop. Terbayang bagaimana ayahnya yang kuat dan disegani banyak orang kini terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Bayangan-bayangan tersebut membuat Doni memeluk erat ayahnya. Ia merasa bersalah karena hingga saat ini belum dapat membahagaiakan ayahnya. Belum dapat membuat ayahnya bangga. Sungguh, ia tak ingin ayahnya berlalu dari hadapannya.

Doni memilih berjaga terus di Rumah Sakit. Dibawanya serta laptopnya untuk menemani dirinya sembari menyelesaikan tugas yang diberikan ayahnya, 5 cerpen yang harus selesai hingga besok pagi. Sambil menunggu perkembangan ayahnya, ia terus menggali ide cerita yang akan ia buat cerita untuk tugas kali ini.

Esok paginya, Doni telah berhasil menemukan ide-ide baru untuk dibuat cerita. Ternyata waktu semalaman cukup baginya untuk menemukan 5 ide cerita. Jari-jarinya langsung bergerak aktif dia tas laptop. Kali ini tidak sefokus kemarin karena ia masih mengharapkan ayahnya untuk terbangun dari tidurnya.

Menjelang malam, ada perkembangan signifikan dari Ayah Doni. Tangannya sudah mulai bergerak. Harapan sedang membumbung tinggi, itulah yang dirasakan Doni dan ibunya.

“Ma.. Doni..” ucap Ayah Doni lirih.

“Pa.. Ini aku, Doni.. Ini sebelahku, ada mama..” teriak Doni agar ayahnya mendengar perkataannya.

“Ma.. I Love You.. Papa sayang mama.. Maaf kalau papa ada salah. Jaga Doni baik-baik yaa..” ucap Ayah Doni seperti pesan terakhir.

“Papa jangan ngomong begitu! Kita masih bisa bersama lagi!” Teriak Doni. “I Love You too, papa. Aku akan jaga Doni” ucap Ibu Doni, seperti mendapat firasat bahwa suaminya sebentar lagi tiada.

“Don.. Harta karun telah ditemukan, sekarang bagaimana tinggal mengolahnya. Semoga kamu sukses,” pesan Ayah Doni sembari mengucapkan doa untuk sang anak.

Tak bertahan lama, jantung ayah Doni kembali beraksi. Malaikat pencabut nyawa seoalah sedang menunaikan tugasnya. Dengan spontan, Doni memanggil dokter, tak ingin hal buruk menimpa ayahnya.

“Kami akan berusaha dengan seluruh kemampuan kami. Mohon nak Doni dan ibu untuk menunggu di luar” ucap Dokter yang dengan sigap langsung terjun melakukan pertolongan pada ayah Doni. Doni dan ibunya hanya menurut dan berlalu meninggalkan kamar.

Hati was-was dan gelisah menghinggapi Doni dan ibunya. Doni sungguh tak ingin ayahnya meninggalkan ia secepat ini. Dalam kepasraan dan berserah, mereka berdoa yang terbaik untuk sang ayah.

Pintu kamar terbuka. Doni langsung menuju sang dokter. Terjadi pembicaraan singkat di antara mereka. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Walaupun sudah berusaha maksimal, ayah Doni memang sudah ditakdirkan untuk menghadap Sang Pencipta. Air mata Doni kembali keluar, tapi kali ini tak sebanyak tadi. Sepertinya ia sudah menyadari bahwa ini waktu yang pas untuk ayahnya. Dipeluknya ibunya dan mereka langsung beranjak ke kamar sang ayah. Hanya ucapan doa yang keluar dari mulut Doni. “Aku akan mengolah harta karunku dengan baik, Pa” batin Doni.

 

4 tahun berselang..

“Mari kita panggilkan penulis buku best seller ‘Menemukan dan Mengolah Harta Karun dalam Diri’.. Ini dia Doni Randy..” Tepuk tangan membahana seisi ruangan. Semua mata tertuju pada 1 orang di atas panggung. Dengan setelan kemeja rapi, seorang lelaki dengan percaya diri tampil di atas panggung tersebut. Ya, dia tak lain dan tak bukan adalah Doni.

4 tahun setelah ditinggal ayahnya, Doni terus bertekun dalam menulis. Kreatifitasnya terus bertambah dan bertambah. Berbagai macam buku dan novel telah ia tulis. Kecepatannya dalam mencari ide cerita mempermudahnya untuk menulis dan berkreasi. Disiplin diri terus ia asah. Tak ada waktu yang terbuang baginya kini. Waktu yang telah disediakan oleh Yang Maha Kuasa ia pergunakan sebaik mungkin dengan rasa displin yang tinggi. Alhasil perjuangannya kini membuahkan hasil. Kreativitasnya dalam menulispun sudah terdengar hingga dunia internasional. Namanya sudah sangat diperhitungkan di kalangan penulis internasional. Seperti saat ini, di mana ia sedang berbicara di ribuan orang penggemar tulisannya mengenai buku barunya “Menemukan dan Mengolah Harta Karun dalam Diri”. Tak hanya dari dalam negeri, penggemarnya dari luar negeri pun turut hadir.

“Setiap manusia mempunyai harta karunnya masing-masing. Cara menemukan sang harta karun setiap orang pun berbeda dan unik. Kadang tak sengaja harta karun tersebut ditemukan di saat mental lagi down, atau bisa juga ditemukan di saat hati sedang berbahagia. Kadang juga diperlukan orang-orang yang mengingatkan kita bahwa kita memiliki harta karun yang terpendam, karena terkadang diri sendiri tak menyadari bahwa terdapat harta karun di dalam diri kita. Yang menjadi permasalahan setelah ditemukan harta karun tersebut adalah pengolahannya. Seorang bajak laut jika telah menemukan harta karun, lalu tak dapat mengolahnya dengan baik tentu harta karun yang ia dapatkan tak akan bertahan lama. Harta karun itu tak berbekas. Disiplin adalah kata sukses untuk pengolahannya,” ucap Doni di depan ribuan pasang mata di hadapannya. Tepuk tangan mengiringi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Doni.

“Pak Doni, sudah banyak buku yang bapak buat, apa resepnya?” Tanya seorang wartawan pada Doni.

“Disiplin adalah kata suksesnya. Kreativitas akan mengikutinya” jawab Doni singkat.

“Bapak selalu mempertegas hal displin, kenapa pak?” Tanya sang pemburu berita lagi.

“Disiplin adalah kata sukses. Itu yang saya pegang. Kalau kita ingin sukses, ya kita harus displin. Tak ada tolreansi buat hal tersebut. Seberapapun pintarnya diri kita, jika tak displin, hasilnya sama saja dengan nol besar” jawab Doni tegas.

“Nama anda sudah terkenal hingga dunia internasional. Punya pesan untuk para penulis yang baru menemukan harta karunnya?” tanya seorang penggemarnya.

“Saya sangat senang melihat mereka telah menemukan harta karunnya. Sejujurnya saya ingin  membangun sekolah menulis. Dengan menulis, kreativitas dapat terasah dengan baik. Dan jangan lupa, seperti pertanyaanmu tadi. Dengan menulis kita dapat ikut serta mengharumkan nama bangsa. Ketika nama saya tersebut oleh penulis luar, maka nama Indonesia akan ikut serta di dalamnya” jawab Doni. “Seperti layaknya tentara yang mengharumkan nama bangsa lewat peperangan, para penulis juga dapat mengharumkan nama bangsa lewat tulisan-tulisannya” sambung Doni sembari mengingat ayahnya yang seorang tentara.

“Sekolah menulis? Wah, terdengar janggal ya. Bagaimana bisa?” seorang penggemarnya bertanya.

“Seperti yang sudah saya utarakan. Dengan menulis kita dapat mengharumkan nama bangsa. Kreativitas dalam tulisan dapat digunakan untuk membangun bangsa. Keselarasan itu yang saya pegang. Dengan terlahirnya para penulis-penulis muda, kreativitaslah yang pada nantinya akan membangun bangsa kita ke arah yang baik, semakin baik hingga sangat baik” jawab Doni.

“Selain disiplin dan kreativitas, moto apa yang akan anda berikan untuk sekolah anda ini?” tanya seorang penggemarnya lagi.

Sambil menghela nafas panjang, Doni menjawab “With Writing, I Can Do Everything” jawaban singkat dan tegas yang mengakhiri sesi tanya jawab tersebut.

“Tak perlu takut. Yang terbaik untuk hari esok dan masa depan telah diatur oleh-Nya…

Do the best and God will do the rest..”

 
1 Comment

Posted by on March 16, 2012 in cerpen, Motivasi

 

Tags: , , , ,

One response to “Harta Karunku

  1. obat herbal ace maxs

    May 15, 2012 at 12:43 am

    yes sebuah kesalahan menjadikan kita menjadi lebih baik untuk kedepannya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: