RSS

Karantina Finalis PPAN Jabar 2012

19 Apr

Karantina Finalis PPAN Jabar 2012

(Cerita ini ditulis oleh salah satu finalis, Puji Maharani)

Hari ini, sepekan yang lalu, saya dipulangkan ke realita: menjadi sarjana segar yang kesibukannya “cuma” mengurus surat-surat kelulusan dan persiapan wisuda bulan depan. Sebelumnya, selama tiga hari, saya bersenang-senang bersama lima puluh satu teman baru dari seantero Jawa Barat, yang prestasinya mengintimidasi namun kepribadiannya menginspirasi.

Kami dikumpulkan di The Cipaku Garden Hotel dalam rangka Seleksi Tahap III Pertukaran Pemuda Antarnegara 2012. Dengan perjuangan lumayan untuk menempuh jalanan yang naik-turun untuk mencapai lokasi, mungkin ini alasannya hotel tersebut dijadikan tempat karantina. Tapi, toh perjalanan lima puluh dua orang peserta Seleksi ini jauh lebih berliku. Kami melewati seleksi administrasi di tahap pertama, bersaing dengan sekitar 600 pendaftar lainnya. Lolos dari sana, 132 orang dinyatakan layak mengikuti seleksi tahap kedua di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, untuk kemudian disaring lagi menjadi 52. Saat pertama kali menjejakkan kaki di hotel, saya masih dirundung rasa tidak percaya bahwa saya sudah tiba di lokasi, mengenakan setelan rok-kemeja-scarf dan rambut dicepol, menenteng koper, siap menjadi peserta karantina. I mean, me, of all people? Really?

Yes, apparently. Siang itu juga, saya dan 51 peserta Seleksi lainnya disambut dengan sebuah maraton: tes tertulis dan tiga Focus Group Discussion (FGD). Rencananya, dari hasil seleksi tersebut, akan dipilih dua puluh orang untuk mengikuti tes wawancara dan kesenian di hari berikutnya. Belum juga hari itu berujung, saya sudah optimis tidak akan lolos. Lima belas menit diskusi plus tiga menit presentasi, dikalikan tiga, dengan sekitar delapan orang dalam satu kelompok, tak saya rasa cukup untuk tampil all-out, dan kemudian dianggap layak menjadi satu dari dua puluh besar. Saya dilanda perasaan yang sama seperti sehabis tes presentasi pada seleksi tahap kedua: I believed that I worth more than three minutes, yet three minutes was all I’ve got. Ya sudahlah, yang penting di sana saya bisa makan kenyang, tidur nyaman, dan dikelilingi teman-teman. Daripada bersusah hati memikirkan minimnya kesempatan ikut seleksi di hari kedua, meskipun sebenarnya berharap bisa ikut tes wawancara, lebih baik saya menikmati waktu yang tersisa dengan bersenang-senang (dan menikmatifree flow kue surabi yang enak waktu sarapan).

Ternyata, Tuhan memang sang Maha Pemberi Kejutan. Esok paginya, panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta dinyatakan akan mengikuti seleksi hari kedua, yang meliputi kesenian dan tiga pos wawancara. Efek sampingnya, tahapan seleksi ini menghabiskan waktu sungguh-sungguh sehari penuh, dan baru rampung sekitar pukul 22.00. Seolah belum cukup, para peserta yang energinya sudah terkuras ini sempat-sempatnya digiring ke restoran hotel untuk “pengarahan” selama satu jam dari pihak penyelenggara, yang anehnya melibatkan seorang biduan dan organ tunggal. Padahal, rencananya, malam itu para peserta harus memersiapkan dan menampilkan batch performance. Penampilan kesenian dari 52 orang peserta Seleksi pun terpaksa ditunda hingga esok pagi, namun toh kami bertahan di ruangan Wijayakusuma hingga tengah malam, menyusun rencana.

Meski lelah luar biasa, saya sangat puas karena hari itu akhirnya saya berkesempatan unjuk kabisa secara individual, setelah sehari sebelumnya menjadi bagian dari kelompok-kelompok. Maka, ketika hari terakhir karantina tiba, yang saya pikirkan hanya sarapan kue surabi dan latihan untuk batch performance. Oh, juga kompensasi finansial untuk “pengganti biaya transportasi” yang konon akan diberikan, yang saya pikir layak didapat terutama oleh teman-teman dari luar kota.

Singkat cerita: pagi itu saya sarapan kue surabi, dengan saus gula merah dan santan kental. Nyam. Lalu saya dan teman-teman peserta Seleksi turun ke ruangan Wijayakusuma untuk latihan flash mobsebagai batch performance kami, angkatan 2012. Flash mob ini terdiri atas drama yang menggambarkan proses Seleksi selama tiga hari ke belakang dan tiga tarian singkat berlatarkan tiga jenis musik yang berbeda. Sejak saat itu, Sik Asik-nya Ayu Ting Ting (yang hampir tiap hari ada di televisi dan jadi jingle iklan) membuat saya teringat sebuah rangkaian koreografi dan berharap bisa menarikannya lagi bersama lima puluh satu orang teman baru saya. Pun, We Found Love dari Rihanna membuat saya tidak lagi terpikirkan sebuah tempat tanpa harapan, karena justru berawal dari karantina inilah kesempatan-kesempatan baru, saya yakin, akan datang. Menemukan cinta, mungkin? Siapa yang tahu?😀

 Rampungnya batch performance kami dihujani riuh sorakan dari kakak-kakak alumni Purna Caraka Muda Indonesia Jawa Barat, “G-OO-D J-O-B, good job, good job!” yang menghangatkan hati, sebelum kembali dag-dig-dug lagi menunggu pengumuman hasil Seleksi.

Acara pun resmi dimulai. Sambutan. Sambutan lagi. Kapan pengumumannya, sih?

Satu-persatu nama disebut; berturut-turut untuk program pertukaran pemuda ke Malaysia, Australia, Kanada, dan terakhir ASEAN-Jepang. Tahun ini nama saya belum dapat giliran. Tak apa, karena saya percaya lima orang (tiga laki-laki, dua perempuan) yang telah ditahbiskan menjadi perwakilan Jawa Barat adalah mereka yang diyakini panitia sebagai individu-individu yang paling cocok untuk program-program tersebut.

Bohong besar kalau saya bilang saya tidak kecewa, tapi toh saya paham ini bukan soal kalah-menang. Menjadi salah satu dari lima puluh dua, yang mampu menyisihkan sekitar enam ratus pemuda Jawa Barat, sudah merupakan sebuah bukti bahwa setiap dari kami memiliki kualifikasi yang tak bisa dipandang remeh. Bisa disandingkan dengan mereka merupakan kesempatan yang belum pernah datang dalam hidup saya. Lewat mereka, saya tidak hanya berkesempatan mengenal orang-orang baru, saya juga menyadari bahwa Seleksi ini membuat saya lebih mengenal diri sendiri – ternyata persistensi dan determinasi mampu menggerakkan saya untuk belajar menari. Menyadari fakta ini, kekecewaan saya seketika disergap dan dikalahkan rasa bangga.

Pada titik ini, saya kembali teringat kata-kata Julie Andrews ketika berperan sebagai Maria dalam The Sound of Music“When God closes a door, somewhere He opens a window”. Ya, dan tidak, pikir saya. Tidak mungkin hanya satu jendela – pasti banyak! Dan mungkin tidak hanya jendela, namun pintu juga. Maka, ketika diminta mengungkapkan kesan-kesan pascakarantina, itulah yang saya katakan. Mungkin, saat itu saya hanya sedang berupaya menghibur diri sendiri ketika dihadapkan dengan pintu yang tertutup di depan mata. Tapi, ketika saya sebenarnya bisa berbalik dan mencari jendela (-jendela, dan boleh jadi juga pintu-pintu) yang terbuka, dan saya yakin teman-teman yang lain juga bisa melakukannya, mengapa tidak?

Satu pekan sudah berlalu, dan saya masih senang mengenang. Grup “Finalis Pertukaran Pemuda Antar Negara 2012, Provinsi Jawa Barat”, dengan lengkap lima puluh dua dari kami sebagai anggota, sungguh aktif bertukar sapa dan kabar, termasuk di antaranya info program-program kepemudaan dan rencana reunian.

Ah, teman-teman, bahagianya bisa menjadi bagian dari kalian!

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Notes’ Puji Maharani

 
2 Comments

Posted by on April 19, 2012 in Artikel, Kutipan, Motivasi, pengalaman

 

Tags:

2 responses to “Karantina Finalis PPAN Jabar 2012

  1. Aris Abdul Azis

    June 16, 2012 at 11:13 am

    bacanya membuat IRI, aku hanya sampai tahap II
    semoga tahun depan bisa menyusul kalian…
    semangat ya bagi yang menang!!🙂

     
  2. ewaldoapra

    June 18, 2012 at 3:14 pm

    SIPP!!
    Tahun depan coba aja lagii..😉

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: