RSS

Category Archives: Cerita bersambung

Rodes 8 – Final


PENGHARAPAN

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Ani, aku memutuskan pulang. Aku ingin agar Ani lebih menenangkan dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, pandanganku seolah kosong. Udara cerah, awan-awan putih, ditambah hijaunya alam seolah tak menjadi perhatianku. Terus saja kulangkahkan kakiku menuju rumah. Cerita Ani terus membekas di pikirankku. Aku terus berfikir siapakah yang dapat membantu Ira agar dapat kembali ceria dan bersemangat kembali. Tiba-tiba terlintas suatu nama di pikiranku. “Ah, akan kuceritakan pada ibu, siapa tau dia bisa membantu, paling tidak sedikit” seruku dalam hati.

Sesampaiku di rumah, ku buka gerbang rumahku. Kupandangi sekitar rumahku. Sepi. Sepertinya tak ada orang di rumah. Tapi, mengapa pintu gerbang tak dikunci? Apakah ada sesuatu terjadi di rumah? Ibu? Kemana dia? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada ibu. Ah, jangan sampai. Kusingkirkan pikiran negatifku.

Ku hela nafasku ketika mendapati ibuku masih sehat walafiat di ruang keluarga sedang menonton tv. “Bu, kenapa pintu pagar tak dikunci? Aku kirain ada apa-apa dengan ibu”tegurku pada ibuku.

“Kamu kan gak bawa kunci pagar, jadi pagar gak ibu kunci. Ibu tadi lagi masak, ntar kalo kamu ketuk-ketuk pagar, masakan ibu terganggu, lagian dari sini keliatan kok siapa yang masuk-keluar rumah.”jelas ibuku.

“Oh, begitu”seruku dalam hati. “Bu, nanti ada yang mau aku ceritakan”ucapku pada ibu.

Setelah mengganti baju aku bergegas menuju ibuku di ruang keluarga. Ku ceritakan apa yang Ani ceritakan kepadaku. Tak sama persis, tapi paling tidak garis besarnya sama. Tak ada yang terlalu ku lebih-lebihkan atau kukurang-kurangkan.

“Kasian sekali temanmu itu. Mungkin ayah punya kenalan dokter yang bagus di daerah sini. Nanti kalau ayah sudah pulang baru kita ceritakan” solusi ibuku.

“Ah, memeangnya ayah mau membantu? tanyaku pesimis. Memang aku kerap kali tidak percaya dengan ayahku. Aku menganggapnya hanya peduli pada pekerjaannya, pada ibu, dan pada ambisinya menjadikan diriku seorang dokter.

“Kamu harus percaya dengan ayahmu itu, pasti dia mau membantu. Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu mau sekali membantu temanmu itu? tanya ibuku.

“Dia kan temanku, kasian kalau tidak dibantu, hitung-hitung nambah amal. Hehehe..”jawabku sekenanya.

“Ah, bohong. Mukamu merah tuh” goda ibuku.

“Ah, perasaan ibu doang tuh”belaku. “Ya udah ya, aku mau ke kamar dulu”. Segera kuambil langkah seribu untuk masuk kamarku. Ku akui tadi aku sedikit gugup dan malu ketika menghadapi pertanyaan ibu tadi.

Di dalam kamar kurebahkan diriku. Ku ambli nafas panjang untuk menghilangkan kegrogianku. Kupenjamkan mataku berharap akan didatangi bunga tidur yang indah pada siang ini.

Di tempat lain (Rumah Ani dan Ira)

Ani dan Ira sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dan ternyata yang dibicarakan adalah mengenai Rodes.

“Ira, kamu beruntung orang sebaik Rodes mau memperhatikanmu. Seharusnya kamu mulai membuka diri untuk orang. Beranilah bersosialisasilah lagi. Kamu pasti bisa. Kalau kamu Cuma berani ngobrol ama kakak gimana kamu mau maju, walaupun kamu masih sedikit gagap, kakak yakin, kamu pasti bisa!” ucap Ani memulai pembicaraan.

Iya, walaupun bisa diajak ngobrol dengan sang kakak, Ira belum dapat bicara layaknya orang biasa. Bad Memory yang membuatnya menjadi seperti itu.

“I..i..ya..ya ju.ga.ga sih ka. Ta..ta..pi a..aku ma..masih be..be..lum be..be..ra..ni..ni.. A..a..pa ka..ka..kak su..su..dah mence..ce..rita..ta..kan ke..ke..jadi..di..an ke..ke..luarga ki..kita pada Ro..rodes? tanya Ira.

“Iya, sudah. Dia sudah mengetahui semuanya” jawab Ani santai. “Semoga saja dia bisa membantu kamu keluar dari masalahmu ini,”lanjut Ani.

Nampaknya Ira tak mau melanjutkan pembicaraan yang baru saja dimulai kakaknya. Ia langsung menuju kamarnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya yang membuatnya semakin tambah cantik, ia terus menggambar wajah Rodes di fikirannya. Semoga apa yang dikatakan kakaknya betul. Semoga Rodes bisa membantunya untuk keluar dari masalah yang dihadapinya, terlebih karena sebenarnya dia memang sudah ingin menjadi layaknya wanita normal.

PERTOLONGAN AYAH

Pukul 7 malam aku terbangun dari tidurku. Segera aku keluar dari kamarku dan bergegas menuju ruang keluarga. Aku menemui ibu dan ayah sedang mengobrol. “Des, sini. Ada yang mau ayah omongin”,ajak ayahku untuk menemaninya bicara.

“Ayah sudah dengar mengenai temanmu itu. Ayah punya kenalan dokter di Jakarta. Dia termasuk spesialis untuk mengobati penyakit yang seperti temanmu sedang derita itu,”ucap ayahku mempromosikan temannya yang dokter itu.

“Tapi, bagaimana dengan biayanya? Dia dan kakaknya hanyalah orang miskin”,tanyaku pada ayah.

“Biar ayah dan ibu yang membantu dia. Segera suruh dia untuk bersiap-siap agar secepatnya ia bisa terbang ke Jakarta untuk berobat”seru ayahku memberi solusi.

Esok harinya aku bertemu dengan Ani dan kuceritakan mengenai solusi yang diberikan ayahku. Ia sangat bergembira. Kamipun sepakat untuk bertemu dengan Ira hari ini juga agar ia tahu berita baik ini. Dengan cepat Ani menceritakan pada Ira, Nampak raut muka bahagia dari muka Ira. Sepertinya ia menemukan secercah harapan untuk bangkit kembali.

“Secepatnya kamu akan terbang ke Jakarta, bahkan kalau bisa besok!”ucap Ani pada Ira.

“Ti..ti..dak.. Aku..ma..mau..na..naik..ka..ka..kapal”sanggah Ira.

“Kapal? Kamu enggak mau naik pesawat?”Tanya Ani

“A..aku..mau..ka..kapal..,kak.. Pe,.pe..ra..saanku..tak..enak..ka..ka..lau naik..pe..sa..sa..wat”jawab Ira.

Ani pun menceritakann hasil pembicaraannya dengan Ira padaku. Sebenarnya aku sedikit kaget. Tapi, tak apalah, toh ujung-ujungnya tetap ke Jakarta, lagi pula ia memberi alasan bahwa perasaannya tak enak kalau naik pesawat. Ani pun sepakat agar besok Ira bisa segera berangkat ke Jakarta.

SAKSI BISU

Hari yang ditunggu tiba. Aku dan keluargaku mengantar Ani dan Ira ke pelabuhan. Ya, Ani akan menemani Ira ke Jakarta. Dengan berbekal alamat yang diberitahu ayah serta akan ada orang menjemput mereka di pelabuhan, mereka pun dengan langkah mantap menatap kapal yang akan membawa mereka ke Jakarta. Menjelang pintu masuk kapal, Ira memberiku sebuah buku kecil yang melalui Ani, ia perintahkan padaku agar tak membukanya sampai mereka datang kembali. Dengan siap kuterima buku itu dan ku lambaikan tanganku ke mereka berdua. Tampak sekali kegembiraan dari raut muka Ani dan Ira. Aku juga. Aku berharap agar Ira lekas sembuh dan dapat langsung dapat berbicara langsung denganku.

Setelah mengantar mereka, kami sekeluarga pulang. Menurut ayahku kurang lebih 3 hari mereka akan sampai ke Jakarta. Sesampai di rumah, kurebahkan badanku dan segera kututup mataku, berharap besok akan ada tanda indah dari sang pencipta. Ya, akan kutunggu kabar mereka 3 hari ke depan.

Esok harinya, di ruang keluarga aku menonton Tv. Tiba-tiba ada rasa penasaran yang membuatku ingin membuka buku yang diberi Ira. Ketika ingin membuka buku dari Ira, muncul berita dari Tv yang menyatakan bahwa kapal yang sedang menuju ke Jakarta mengalami bocor pada lambung kapal dan tenggelam pada dinihari saat para penumpang sedang terlelap. Segera kuamati berita tersebut. Muncullah daftar-daftar korban. Ya, nama Ani dan Ira dan ada di situ! Seketika duniaku seperti hancur. Mengapa tidak? Setelah ada titik harapan untuk bangkit, harapan itu seolah hancur dengan mudah sesuai keinginan sang pencipta, bukan keinginan manusia yang merupakan ciptaan-Nya.

Air mataku menetes. Usahaku untuk menyembuhkan Ira seolah sia-sia. Tak ada yang tersisa. Terlebih dari berita diberitahukan bahwa dipastikan semua korban meninggal dunia. Ah! Tambah remuk badanku. Kenapa ini Tuhan? Sempat ku protes sang pencipta terhadap kenyataan yang tak bisa kuterima ini.

Tiba-tiba kulihat buku Ira yang tergeletak disampingku. Nampaknya itu merupakan diarynya. Walaupun tak bisa bicara dengan jelas, nampaknya ia sangat fasih dalam menulis. Terbuka satu halaman terakhir yang kubaca.

Pintaku

Disinilah aku duduk terpatung

Di tepi pantai yang indah di saat sang mentari akan berganti peran dengan sang rembulan

Tempat di mana aku kehilangan kebahagiaan

Tempat di mana keceriaanku terenggut oleh memori

Ingin ku kembali ke masa itu

Masa di mana kebahagiaan tercipta

Walaupun itu tak mungkin

Izinkanku menyusul kebahagiaanku dengan cara yang sama..

Ira Latha

Tambah deraslah air mataku terjatuh. Ya, keinginan Ira untuk naik kapal tak lain dan tak bukan merupakan keinginannya untuk menyusul kebahagiaannya yaitu ayah dan ibunya. Kebahagiaan yang hilang di tengah ombak. Dan takdir seolah menegaskan bahwa dengan cara yang sama Ira dan Ani dapat menemui kebahagiaan mereka di alam yang lain..

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 7-Flashback


FLASHBACK

Kucoba mendekati orang-orang kantin satu-per-satu. Tapi, hasil yang kudapati masih nihil. Gelagat-gelagatku yang menanyai orang-orang kantin nampaknya tercium oleh Ani. Ia melihat ke arahku. Tatapan mata yang tajam, tak seperti biasanya ia seperti itu, seolah-olah ingin menerkamku. Dan dengan perlahan ia berjalan mendekatiku.

“Des, mari kuceritakan mengenai adikku” tegur Ani yang sepertinya tak seseram yang kukira.

“Nama adikku Ira Latha. Mungkin kamu agak bingung kenapa ia seolah tak menanggapi dirimu ketika kau mengajaknya berbicara di pantai beberapa waktu lalu” ujar Ani yang mulai menceritakan tentang Ira.

“Darimana kamu tahu kalau aku mengajaknya berbicara di pantai?”tanyaku heran pada Ani.

“Aku berada di pantai ketika itu, dan aku menyaksikan bagaimana usahamu mengajak adikku berbicara, walaupun itu tak mungkin” ucap Ani yang mulai terlihat sesegukan. Nampaknya ada sebuah memori buruk yang tersimpan cukup lama, dan jika memori itu terbuka kembali akan memancing kesedihan yang begitu mendalam bagi Ani.

“Kamu.. Matamu.. Kamu menangis.. Memang ada apa sebenarnya pada Ani?”tanyaku pada Ani.

“Iya, ini semua bermula pada 10 tahun lalu…”Ani mulai bercerita. “10 tahun lalu, kami hidup lengkap. Ada sosok seorang Ayah yang kuat, yang tak kenal lelah untuk menfkahi keluarganya. Sosok seorang lelaki yang patut dikagumui. Ia sangat menyanyangi kami. Ada sosok seorang ibu. Wanita hebat yang tercipta sempurna bagi kami. Sosok wanita yang tak pernah membiarka ayah bekerja sendiri. Ia selalu mencari celah bagaimana caranya untuk membantu ayah menafkahi keluarga. Ya, kami terbentuk sebagai keluarga sederhana, sehingga tak cukup untuk mengandalkan pekerjaan ayah kami yang merupakan seorang nelayan, sehingga ibuku pun bekerja sebagai penjual kue keliling untuk dapat menambah pemasukan keluarga kami.”tutur ani panjang lebar.

“Lalu?”tanyaku penasaran.

“Pada suatu waktu, ayah mengajak kami sekeluarga untuk pergi melaut. Ia mengatakan bahwa udara sedang bersahabat. Tak ada angin kencang, sehingga kami sekeluarga dapat menikmati pemandangan laut dengan tenang. Ayah mengajak temannya untuk menemani kami melaut. Akan tetapi, sepertinya perkiraan ayah salah. Ya, karena di tengah perjalanan tiba-tiba angin menjadi kencang. Air laut seolah berontak. Tak ada tanda kedamaian bagi kami sekeluarga ketika berada di atas perahu. Semua seolah mau kiamat.”Ucap Ani yang tiba-tiba berhenti bercerita dan terlihat menangis.

Kuambil tissue di tasku dan berinisiatif mengusap muka Ani yang penuh dengan air mata kesedihan yang seharusnya tak ia ceritakan padaku.

“Jika memang terlalu sedih, tak perlu dilanjutkan”saranku pada Ani.

“Tak apa, cerita ini memang harus kubagikan padamu”lanjut Ani. Ketika sedang terombang ambing ditengah laut, ayah dan temannya terlihat berdiskusi bagaimana menyelamatkan kami sekeluarga. Ketika ia menemukan cara bagaimana menyelamatkan kami, ia salaman dengan temannya dan terlihat gembira karena berhasil menemukan suatu solusi. Tapi, sepertinya semua terlambat. Ombak tinggi menerjang perahu kami. Aku yang kaget segera berlindung di balik jubah ibuku. Dan setelah itu sebuah kejadian penting dalam hidupku terjadi. Aku, ibuku, dan Ira melihat bagaimana kepala ayahku berbenturan dengan ujung perahu. Dan darah segar terlihat keluar dari kepalanya.

“Ibuku menangis, Ira pun hanya tertegun. Tapi, itu hanya sesaat, karena setelah itu perahu kami terbalik, dan kami pun seolah bersatu dengan laut lepas. Ayah kami terlihat mengapung di laut lepas. Dan tak lama kemudian datang perahu yang lebih besar datang menyelamatkan kami.”lanjut Ani.

“Nelayan yang berada di atas perahu besar itu mengatakan bahwa ketika mereka sedang melaut mereka melihat tiba-tiba arah angin berubah dan mereka memutuskan untuk kembali ke darat. Dan ketika kembali, mereka melihat kami yang sedang terombang-ambing. Tapi, malang bagi kami karena mayat ayah kami terbawa arus laut entah kemana. Hingga kini tak ditemukan.”cerita Ani padaku sambil mengusap matanya denga tissue pemberianku.

“Lalu apa yang terjadi pada Ibumu dan Ira? Tanyaku.

“Ya, inilah pukulan bagi kami selanjutnya. Ibuku nampak tak terima dengan kematian ayahku. Ia stress. Ia menyalahkan dirinya terus. Ia merasa orang yang paling bersalah. Alhasil, ia kena struck. Ia tak bisa menggerakan tangannya, bibirnya pun tidak. Dan kau tahu? ia menutup usia 2 tahun yang lalu Itu sangat memukul diriku!! Belum ada suatu kebangaan yang kuberikan pada ibuku. Belum ada prestasi yang kuberikan untuknya. Belum ada suatu hasil dariku  yang dapat membuatnya bangga kalau aku ini adalah anaknya!!”

Dari cara bicaranya aku tahu, kalau seandainya kami berada di lapangan bola pasti dia sudah teriak sekencang-kencangnya. Aku dapat memahami perasaanya. Di saat belum memberikan sesuatu pada orang tua, justru orang tuanya harus dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Ah, ini sungguh menyesakkan! Bagaimana jika itu terjadi pada diriku? Aku belum dapat memberikan suatu kebanggan untuk kedua orangtuaku, justru aku sering melawan mereka. Tapi, dalam kondisi seperti ini aku harus harus bersikap bijak terhadap Ani.

“Buktikanlah jika kamu bisa berprestasi sekarang, orang tuamu pasti bangga di surga sana” ucapku menenangkan Ani. “Lantas, bagaimana dengan Ira?”lanjutku.

“Ya, setelah kepergian ibuku, ia down. Tak ada niat hidup dari dirinya. Ia sangat dekat dengan ibu. Ia memilih pantai sebagai tempat dimana ia dapat melihat dunia. Ketika melihat pantai, ia merasa melihat sosok ayah dan ibuku, katanya. Ia pun seperti mengasingkan diri. Tak mau bersosialisasi Alhasil, ia mengalami gangguan. Ya, ada gangguan mental terhadap dirinya. Dia tak dapat berbicara dengan orang-orang. Dia bisu. Bisu jika bertemu orang-orang asing. Dia hanya mau bercerita kepada orang-orang yang dekat dengannya. Mungkin kamu sudah dengar dari Anton kenapa adikku menolak banyak banyak cowo. Ya, karena ia tak mau membuka diri dengan orang asing.” Lanjut Ani.

“Tapi kau tahu kenapa aku menceritakan ini kepadamu?”Tanya Ani padaku.

“Tidak”jawabku. Kenapa?

“Ya, karena setelah kamu mengajaknya bebicara di tepi pantai beberapa waktu lalu, Ira menceritakan dirimu kepadaku. Ya, dia bercerita dengan penuh semangat. Seolah ia menemukan nafas hidupnya lagi.” Seru Ani.

“Ah, kamu bercanda?” kataku dengan tidak percaya.

“Tidak, ini enggak bercanda. Makanya aku menceritakan ini semua kepadamu. Pesanku tolong jaga semangat hidup Ira. Dia mulai bersemangat sekarang.” Lanjut Ani.

“Wah, tugas penting nih” kataku dengan nada canda.

“Ya, begitulah” lanjut Ani dengan nada tawa. Sepertinya ia telah melupakan kesedihan dari cerita flashbacknya. Ya, semoga saja…

to be continue

ewaldoapra

thx for reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 6-Perjuangan berlanjut


PERJUANGAN BERLANJUT

Setelah mengetahui nama wanita itu, aksi selanjutnya tentu mendekati kakaknya, ani untuk mengorek informasi lanjutan tentang adiknya.

Setelah samapai rumah dengan perasaan senang ku pandangi KTP wanita yang telah membuatku penasaran, Ira Latha. Terbayang-bayang indah mukanya, merah bibirnya dan tentu tak lupa rambut hitam panjangnya yang bagai mahkota menghiasi kepalanya, seolah menegaskan kalau ia adalah seorang wanita yang tak hanya cantik tapi juga manis.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur empukku. Sambil senyum-senyum sendiri aku membayangi Ira. Ah, mungkin kalo ada orang yang melihatku aku akan disangka gila, tertawa-tertawa sendiri seolah ada yang sedang melawak. Bodo amat lah, pokoknya hari ini aku cukup senang.

Hari ke 2 kuliah akupun sangat bersemangat. Entah kenapa energi dalam tubuhku terlihat sangat positif beda dengan hari-hari biasa yang telah kulewati. Dengan perasaan riang gembira aku berjalan keluar rumah, mungkin orang tuaku sedikit bingung dengan sikapku hari itu.

Sesampaiku di kampus, aku bertemu Anton dan Ani. Sengaja kurahasiakan bahwa aku telah mengetahui identitas adik dari Ani, agar aku bisa dengan perlahan terus mengorek informasi dari Ani.

Entah kenapa kuliah hari ini terasa sangat lama. Aku ingin buru-buru keluar kelas dan menuju kantin, berharap Ira berada di sana. Nampaknya Anton melihat kegusaranku selama kuliah berlangsung.

“Eh, kamu kenapa?. Gusar sekali hari ini” Anton bertanya padaku ketika dosen menyuruh kami untuk mengerjakan 5 nomor tugas yang diberi langsung oleh sang dosen.

“Ah, tidak. Mungkin perasaanmu saja” elakku menghadapi pertanyaan Anton.

Nampaknya 5 soal kami tak cukup untuk dikerjakan hari ini, alhasil soal pun dilanjutkan dan dijadikan pekerjaan rumah untuk dikumpulkan di pertemuan selanjutnya. Ah, cukup lega hatiku. Di saat aku sedang tidak focus, manamungkin aku akan konsenterasi mengerjakan soal-soal yang “disajikan” dari sang dosen.

“Ke kantin yuk!”ajakku poada Anton dan Ani selepas kelas bubar. Nampaknya mereka tak ada yang curiga dengan ajakanku. Syukurlah.
“Ayo, kebetulan nih tadi belum sarapan” Anton mengiyakan ajakanku. “Des, kamu masih penasaran dengan adiknya Ani?” Anton melanjutkannya dengan pertanyaan yang diajukan terhadapku.

“Tentu saja” dengan muka yang kubuat-kubuat agar tak ketahuan kalau aku telah mengetahui identitas Ira dari KTPnya yang sekarang berada di tanganku.

“Kayaknya kamu perlu sedikit berjuang, ada rahasia penting yang harus ketahui tentang adiknya Ani”, Anton melanjutkan paparannya kepadaku mengenai diri Ira.

“Kenapa?”tanyaku penasaran.

“Mungkin kamu bisa Tanya pada orang-orang yang bekerja di kantin, siapa tahu mereka bisa memberi tahu, aku tidak bias memberi tahu karena sudah terlanjur janji dengan Ani” lanjut Anton.

“Oh,oke” jawabku.

Sesampainya kami di kantin, Ira langsung menemui kakaknya. Ditariknya tangan Ani menuju kearah pojok kantin. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Ira ke Ani. Tak lama, karena setelah itu Ani langsung bergabung bersama aku dan Anton.

Selesai makan, kucoba usul Anton untuk mencari informasi orang-orang kantin. Siapakah sebenarnya Ira?, apakah dia mahasiswa seangkatanku juga, tapi dia adik Ani, terus kenapa dia seolah-olah tak ingat padaku padahal aku pernah mengajaknya mengobrol ketika di pantai beberapa waktu lalu walaupun seperti tak ada tanggapan darinya.

Ya, nampaknya perjuanganku sepertinya masih panjang..

to be continue

ewaldoapra

thx  for reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 5-Namanya..


NAMANYA…

Kupesan semangkuk mie goring untuk mengisi perutku. Dan kulihat Ani dan wanita itu terlihat cukup akrab. Sepertinya cukup banyak yang mereka perbincangkan. Bahkan sampai mie gorengku pun habis, mereka masih mengobrol.

“Daritadi kuperhatikan kamu sering melihat ani dan adiknya, kenapa” Anton menanyaiku. Pertanyaan yang cukup menghentakku. Adiknya?.. Wah, pantas mereka terlihat asyik mengobrol, informasi penting nih.

“Darimana kamu tahu?” tanyaku penasaran.

“Kan sudah kubilang Ani adalah teman SMA-ku, jadi aku sudah cukup kenal dia hingga keluarga-keluarganya.”jawab Anton tenang.

“Ooh.. terus siapa namanya?” rasa penasaranku masih menggebu.

“emmmmm.. ada deh.. hahaha” tawa anton. “sudah kuduga kamu jatuh hati sama adiknya ani, sudah banyak loh  pria yang ditolak sama adiknya ani” tegas anton.

“wah, sombong sekali dia” seruku pada anton.

“Eit.. jangan langsung menghakimi orang. Pasti dia punya alasan, walaupun aku tahu alasan itu, tak akan kuberitahu padamu, cari tau saja sendiri ya..” jelas Anton padaku.

Menolak banyak cowok? Alasan? Memang dia tergolong wanita pendiam. Tak banyak ngomong. Bahkan ketika di pantai tak satu pun kata terucap dari bibirnya. Cukup penasaran juga aku dengan apa yang Anton jelaskan padaku. Mungkin akan kutanya pada Ani, dia kan kakknya mungkin dia tau..

Ani nampaknya sudah selesai berbincang dengan adiknya, bertepatan dengan habisnya semangkuk mie gorengku. Dan langsung kusambar dengan pertanyaan. “Siapa nama adikmu itu” tanyaku.’

“Untuk sekarang tak kan kuberitahu dulu tentang adikku ya, mungkin lain kali” jawab Ani padaku yang membuatku cukup kecewa.

Kupandangi kembali wanita itu. Ia membelakangiku. Sebenarnya ada niat dalam diriku untuk mendekatinya, tapi entah kenapa ada rasa yang tak enak. Mungkin aku tak enak pada kakaknya yang notabene adalah teman baruku.

Kulihat ia seperti bergegas ingin pulang. Ia mengeluarkan dompetnya, sepertinya untuk membayar sesuatu. Ku lihat ia melambaikan tangannya pada Ani dan berjalan keluar kantin.

“udah, jangan diperhatiin terus”ucap Ani ketika aku mengalihkan pandangaku dari adiknya.

“dia kuliah disini juga?” tanyaku mencoba mengorek informasi dari kakaknya.

“sudah kubilang untuk saat ini tak akan kuberitahu indentitasnya”jawab Ani padaku.

Dengan tampang yang sedikit ketus aku perlahan berdiri untuk membayar makananku. Dalam hati kufikir mungkin belum saatnya bagiku untuk mengetahui identitas wanita yang mencuri perhatianku. Namun, dalam sekejap fikiranku itu nampaknya salah. Kenapa? Di depan kasir sebelum aku membayar makananku kutemukan sebuah KTP. Ya! KTP kepunyaan adiknya Ani. Darimana kutahu? Dari foto yang terpajang di KTP tersebut.

Ku perhatikan sejenak. Dan senyumpun mengembang dari bibirku.

IRA LATHA.. Namanya!!

to be continue

ewaldoapra

thx 4 reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 4-Beruntungkah diriku?


BERUNTUNGKAH DIRIKU?..

Masa kuliah datang. Inilah yang ku tunggu. Walaupun masih anak baru, kurasa aku tak akan gugup untuk mencari teman.

Aku mulai memasuki lingkungan baruku. Kupandangi seluruh sudut kelas, sambil kucari mahasiswa yang dapat kujadikan teman. Ku ambil posisi duduk paling belakang.

Kelas belum dimulai, aku pun mulai melihat manusia-manusia yang dapat menjadi teman baruku. Sebelah kiriku, Anton. Ia asli orang daerah. Rumahnya pun tak jauh dari kampus, dari penjelasannya kudapati kalau rumahnya pun tak jauh dari rumahku. Ia asyik diajak ngobrol, mulai dari hal pelajaran hingga hal-hal berbau iseng seperti ngobrolin sepak bola, ngobrolin tentang Negara ini, dan tentu saja Nelson Mandela. Ia cukup tahu mengenai Nelson Mandela. Katanya ia pernah membaca buku mengenai Nelson Mandela. Meskipun cukup mengetahui Nelson Mandela, ternyata ia lebih mempunyai sosok favortit, dan favoritnya adalah seorang tokoh dari dalam negeri, Ir. Soekarno. Wah, seleranya cukup tinggi. Ir. Soekarno, kuakui sebagai salah seorang tokoh terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia.

“Kamu kan dari Jakarta, kenapa mau ke sini?” Tanya Anton.

“Pekerjaan ayahku yang memaksaku untuk kuliah di sini”jawabku dengan alasan yang kupunya.

“Wah, “terpaksa” ya?” ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah bersamaan sambil digerakan menandakan tanda kutip.

“Ah, enggak juga. Tempat di sini cukup enak kok. Masih alam banget” Jawabku seadanya.

Sedang asyik mengobrol, datang seorang wanita berkerudung duduk didepanku. Nampaknya ia baru datang, terlihat dari nafasnya yang tersengal-sengal.

“Hai! Asyik banget nih ngobrolnya” ucap sang wanita berkerudung kepadaku dan Anton.

“Ah, enggak juga” jawab Anton. Dalam hati kufikir bahwa wanita ini kuat juga dengan nafas yang masih mengap-mengap, ia langsung ngajak anton dan aku untuk ngobrol.

“Namanya siapa?” tanyaku kepada wanita tersebut.

“Panggil saja dia WP, Wanita Perkasa, Hahahaa…maaf deh”seru Anton, namun Anton langsung meralat ucapannya begitu melihat muka wanita tersebut berubah.

“Kalian sudah saling kenal? Tanyaku penasaran.

“Iya,dia teman SMA-ku” jawab Anton lagi.

“Kenapa dipanggil wanita perkasa?” tanyaku kembali.

“Sebenarnya namaku Ani, tapi entah kenapa sering dipanggil wp”jawab wanita itu dan baru kuketahui kalau namanya Ani.

“Ya karena fisiknya itu loh! Kuat kaya kuli! Jadi, dia sering dipanggil wp, wanita perkasa” seru Anton member penjelasan kepadaku. Kubalas dengan anggukan. Ya, kumengerti kenapa dengan nafas seadanya ia sanggup untuk memulai suatu percakapan.

“WP”,Wanita Perkasa,nama yang bagus, fikirku dalam hati….

Hari ini hanya satu mata kuliah, dan tiba waktunya untuk pulang. Segera kusambar tasku yang berada di atas meja dan ku siapokan langkah seribu unutk pulang.

“Mau kemana buru-buru”Tanya Anton padaku. “Ke kantin aja dulu!”

“Oohh..boleh”jawabku mengiyakan ajakannya.

Kupandangi seluk beluk kampusku ini. Not bad lah dibanding universitas-universitas di Jakarta. Sambil jalan kami ngobrol. Ani pun berjalan bersama kami. Tak lama, kami pun sampai di kantin. Selintas kupandangi kantin kampus ini, dan terlihat di depan sana ada sesosok wanita yang kukenal. Kenal? Tidak juga sih, karena namanya pun ku tak tahu. Ya, dia wanita yang ku temui di pantai. Wajah imutnya masih terlihat jelas olehku, belum lagi senyum tipisnya di bibir merahnya. Ah! Benar-benar suatu kebetulan bertemu dengannya di sini. Apa dia kuliah di sini? Kalo tidak, apa yang dia lakukan di sini?

Ku lihat Ani bergegas menemui wanita itu. Mereka pun mengobrol. Ani kenal dia?.. Ah, benar-benar beruntung diriku untuk mengenal wanita itu lebih jauh…

to be continue

..ewaldoapra..

thx 4 reading..

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 3- Kegaduhan di rumah


KEGADUHAN DI RUMAH

Terus kuikuti dia. Rasa penasaranku semakin menggebu. Hari yang beranjak malam tak menghentikan semangatku. Sambil berjalan, kuingat jalan yang kulewati agar tak sesat ketika pulang nanti. Ternyata, jalan menuju rumahnya sangat ekstrem. Rumput-rumput ilalang yang tinggi, dicampur tanah yang becek, serta rasa was-wasku jika ia mengetahui kalau aku sedang membututinya.

Ketika sedang asyik-asyiknya membututi hp-ku bergetar. Untung ku posisikan hpku ke posisi silent sehingga ia tak mendengar.

“Sebuah sms rupanya”,kataku dsalam hati. Sms tersebut ternyata dari ibuku yang menanyakan dimana diriku hingga pukul 19.15 belum pulang. 19.15? Wah, ternyata sudah cukup lama aku berjalan keluar rumah. Ibuku mengajak aku pulang ke rumah karena akan makan malam bersama pukul 20.00. Ah, aku tidak mungkin pulang sekarang, aku sedang membututi gadis aneh itu, tapi tidak mungkin juga aku tidak pulang. Apa yang akan kujawab jika ibuku menanyakan alasan aku tak mau makan malam bersama. Ah! Sebuah dilema menghampiriku.

Ketika ku lihat ke depan gadis tersebut sudah berjalan cukup jauh. Ayo! Cepat putuskan, des! Ujarku dalam hati.  Setelah beberapa detik, aku putuskan untuk meninggalkan gadis tersebut dan pulang ke rumah. Aku berjalan kembali ke pantai, mengambil sepeda yang kutitipkan pada penjual teh tadi dan bergegas menuju rumah.

Sampai di rumah aku ,masih terfikir gadis tadi. Segala peringainya membuatku penasaran. Makan malam pun terasa hambar karena pertanyaan dari kedua orang tuaku lebih banyak ku jawab seadanya. Malas sekali meladeni pertanyaan mereka, bahkan kedua orang tuaku ini terlihat kaku. Sepertinya mereka ada masalah. Ku selesaikan makan malamku secepatnya dan segera menuju kamarku. Poster-poster Nelson Mandela seakan melihatku diriku yang langsung ambruk di tempat tidur.

Tak lama kemudian terdengar ketukan dari pintu kamarku. Lalu terdengar suara ibuku,”des, tolong buka pintunya ya..”. Dengan rasa lemas aku membuka pintu kamarku. Nampak ayah dan ibuku yang langsung masuk ke kamarku.

“ada apa?”, aku membuka perbincangan.

“kamu terlihat lelah sekali, sampai pertanyaan-pertanyaan papa-mama enggak kamu gubris”, seru ibuku sambil membelai kepalaku.

“ah, enggak.. perasaan papa-mama aja tuh”, ucapku mengelak.

Lalu terdengar ‘deheman’ suara ayahku, sepertinya ia ingin angkat bicara.

“begini,des. Papa-mama bukan bermaksud mengekangmu, tapi di kota sini ada universiras yang ada fakultas kedokterannya, bahkan berakreditasi A. Papa enggak mau kamu kuliah di komunikasi. Sama sekali enggak mau! Kamu harus menjadi seorang dokter!” tegas ayahku.

“Kenapa kalian berubah pikiran?. Aku yang kuliah, jadi aku yang menentukan!”, teriakku dengan keras. Aku sudah sangat bosan diatur oleh kedua orangtuaku. Dari kecil hingga sekrang kuliahpun aku masih diatur sedemikian rupa? Aku tak mau.

“Kuliahku di komunikasi sudah dimulai, pa! Aku minat ke bidang itu”, tambahku.

“Mama setuju dengan papamu, des. Jadi dokter mempunyai masa depan yang cerah. Kalau hanya di komunikasi, kamu mau jadi apa? Seru mamaku yang membuat emosiku mulai naik. Ku akui aku memang tergolong orang yang gampang tersulut emosi.

“Sekali tidak ya tidak! Cukup! Aku mau masuk kamar!”tegasku. Segera ku ambi langkah seribu dan meninggalkan meja makan. Ketika sudah sampai depan pintu kamar, segera ku buka pintu kamarku dan kututp dengan suara yang kencang mungkin lebih kepada membantingnya, Ya, kurasa orang tuaku mendengar suara pintuku.

Segera kuambil gitar, dan kucoba untuk memainkannya untuk mengusir rasa amarahku. Ku coba bernyanyi lagu musisi favoritku, Slank. “Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan yang indah..” sedang asyik-asyiknya terdengar ketukan pintu dari depan pintu kamarku.

“Des, buka pintunya ya..” Sepertinya itu suara ibuku, aku hafal suaranya.

“Untuk apa?” balasku.

“Ada yang mau mama omongin” jawab ibuku. Sepertinya ia serius, tapi aku tak ingin berdebat dengannya untuk saat ini.

“buka pintunya des..”seru ibuku lagi. Oke, untuk kali ini aku akan membuka pintu.

Seperti yang kuduga kedua orang tuaku datang ke kamarku dan mambicarakan mengenai hal yang sama di meja makan.

“Jadi, datang malam-malam ke kamarku untuk membahas hal ini lagi?. Aku tak mau membahas ini lagi dan aku mau unutk tak dikekang lagi! Tolong papa mama keluar dari kamarku sekarang! Teriakku.

“Oh, Kamu sudah bisa membetak orang tuamu ya? Diajari siapa? Teriak ayahku tak kalah keras dengan suaraku.

“Pokoknya sekarang kalian keluar!!!”, teriakku lebih kencang.

Ibuku nampaknya bisa lebih tenang. Ia membimbing ayahku untuk keluar dari kamarku. Segera mereka keluar dan langsung ku kunci pintu kamarku.

Segera ku berbaring di tempat tidurku. Ku lupakan emosi pada bantal-bantal di tempat tidurku.
“AAAARRRGGHHH…, kenapa sih mereka…masih mengaturku saja..” teriakku dalam hati. Ku akui sebenarnya aku tak terlalu menghormati kedua orang tuaku. Dua-duanya! Mereka selalu mengekangku, seperti menganggap aku adalah boneka mereka yang dapat diatur kemana-mana sesuka hati mereka. Aku benci mereka. Tak ada rasa seganku pada mereka. Ku tunjukkan denga teriakku tadi. Sudah berulang kali aku menolak untuk dimasukan ke kedokteran, tapi mereka berdua selalu saja memaksa kau untuk menuruti mereka. Belum lagi ditambah “HIGH CLASS” mereka. Mereka susah sekali untuk menerima teman-temanku yang dari golongan bawah. Mereka hanya menganggap temanku yang orang tuanya termasuk ke golongan berada. Sungguh kesal ketika mengingat temanku yang orangtuanya hanyalah penjual ketoprak diusir mereka dari rumahku. Entah bagaimana sikap mereka, yang pasti aku tak meniru sikap jelek mereka yang membuatku benci dengan mereka.

to be continue

..ewaldoapra..

thx 4 reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 2-Bertemu dengan gadis aneh


BERTEMU DENGAN GADIS ANEH

Sudah cukup lama aku mengayuh sepedaku. Kira-kira 30 menit aku mengitari wilayah baruku ini. Dan satu tempat yang paling menarik perhatianku adalah pantai. Pantai yang dihihasi pohon-pohon kelapa yang tinggi, pasir yang menari indah ketika tertiup angin, kepiting-kepiting yang berlalu lalang tanpa menghiraukan adanya manusia-manusia di samping mereka, dan yang paling tentu tenggelamnya matahari di ufuk barat. Suatu pemandangan yang menurutku menganggumkan. Mungkin orang-orang di sini sudah terbiasa, tapi tidak denganku yang notabene adalah orang kota. Langit yang memerah dipadu awan-awan yang mulai tak kelihatan terasa begitu damai. Suara-suara ombak pantai yang bersahutan menambah indahnya sore ini.

Nampaknya, bukan hanya aku yang terkesima melihat pemandangan ini. Ada seorang gadis yang kira-kira seumuran denganku tengah terpaku melihat tenggelamnya matahari. Terpaku? Sepertinya tidak. Melamun tepatnya. Melamun di tempat seperti ini? Aku cukup penasaran. Aku mulai mendekati gadis itu. Perlahan ku dekati sambil ku amati tingkah lakunya. Pandangan gadis itu mulai menuju ke sebuah tempat. Tempat yang tak jauh dari ia duduk. Sebuah bangunan jam. Bolak-balik ia melihat jam itu. Aku teringat perkataan ayahku mengenai tempat ini. Daerah ini masih memegang ketat adat ketimuran. Kepala daerahnya tak menginginkan ada orang-orang yang menyalahgunakan pantai ini sebagai tempat mesum. Oleh karena itu, dibangun jam di tepi pantai yang dimaksudkan agar pukul 22.00 pantai harus segera dikosongkan, kecuali mendapat izin dari kepala daerah.

Aku kembali mendekatinya sambil berfikir mengapa ia terus menerus terpaku pada jam itu. Gadis itu terlihat gelisah, Nampak dari gerak-geriknya yang tak tenang. Aku melihat banyak penjaja makanan di sekitar tepi pantai. Apa aku menyapanya sekaligus membawa makanan? Pikirku. Aku pun segera mengambil uang di sakuku dan membeli 2 gelas teh hangat.

Ketika ingin membeli, aku pun sempat bertanya pada si penjual minuman mengenai gadis itu. Dari dia kudapati bahwa gadis itu sudah kurang lebih 1 minggu duduk di tepi pantai dan memandangi jam terus menerus. Ketika kutanya apakah sudah ada orang yang mengajaknya berbicara atau tidak, sang penjual minuman dengan tegas berkata TIDAK, dan saat kutanya mengapa ia tak mau memberi jawaban.

Ku titip sepedaku pada penjual itu dan memberanikan diri mendekati gadis itu. “Hai!..” ucapan pertama keluar dari mulutku sambil kuberi gelas yang berisi teh hangat kepadanya. Dan yang membuatku kaget adalah tak ada satupun kata balasan yang keluar dari mulutnya. Kuulang kata hai yang kuucapkan hingga ketiga kali namun tetap tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Hanya senyuman kecil dari bibir tipisnya yang ia keluarkan untukku. HANYA SENYUMAN?!!! Aku cukup bersabar meladeninya. Aku mulai mengajak ia ngobrol, dan beberapa pertanyaan keluar dari mulutku termasuk mengapa ia terus menerus memandangi jam. Dan responnya? TETAP! Tak ada kata yang terucap. Hanya senyumannya saja. Memang, ia termasuk gadis yang unik di mataku. Berbeda dengan cewek-cewek kota  yang sering kutemui di daerah asalku dulu. Jika ia tersenyum, bibirnya yang merah muda sangat menarik hati. Tapi, jawaban yang hanya senyuman cukup menarik emosiku. Bahkan, teh hangat yang telah kuberi tak digubris sedikitpun olehnya. Apa seperti ini gadis di daerah ini? Sangat susah diajak ngobrol bahkan sudah dengan cara yang sopan. Ku keluarkan kemampuan public speakingku untuk mengajak ia ngobrol, namun tetap saja hasilnya nihil. Aku pun memutuskan untuk pulang, walaupun sebenarnya aku sangat penasaran terhadap gadis itu. Mau dikemanakan reputasiku yang terkenal playboy, sementara untuk mengajak bicara gadis desa seperti dia saja aku tak bisa. Aku pun mengubah pikiranku dari pulang menjadi menunggunya dari jauh dan membututinya ketika ia pulang. Paling tidak aku akan mendapat alamat rumahnya, pikirku.

To be continue..

Ewaldoapra

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags: