RSS

Category Archives: Motivasi

Nidji – Di Atas Awan


Nidji – Di Atas Awan

Lirik OST 5 cm dari Nidji. Lagu yang sama kerennya dengan filmnya!

Image

Cinta satukan hati
Kuatkan jiwa menghadapi dunia
Segala cinta dan muka
Kuatkan semua persahabatan

Kita penantang impian
Biar tak sama kita kan menang
Kita penakluk dunia
Biar tak sama kita kan menang..menang

Bila kau merasa sedih
Ingatlah bahwa kau tak sendiri
Tanpamu tak akan sama
Tanpamu semua berbeda
Kisahmu juga kisahku
Selalu bersama

Kita penantang impian
DI atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang..menang

Melangkah dibawah mentari yang sama
Mencari tempat kita dimasa depan
Berjanji kita tak akan putus asa
Walaupun semua tak akan mudah

Kita penantang impian
DI atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
DI atas awan kita kan menang..menang

Image

 
2 Comments

Posted by on December 28, 2012 in Lirik, Motivasi

 

Tags: , , , ,

Seorang Anak yang Merindukan Ibu


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan,karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.

Suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Ohhh aku harus menyediakan makan untuknya.

Karena masih ada sisa sedikit nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas

berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.

Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya . Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah … “

Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan,

“Aku minta maaf, ayah“.

Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis,aku yakin , jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf :

Maaf, ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?

Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”

Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,

tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan. Aku bilang pada anakku, “Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk

selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur yang isinya:

‘ibu sayang’, Aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi kamu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

 

Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat kamu? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul ?

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku

Note : Untuk para suami dan laki-laki, yang telah dianugerahi seorang istri/pasangan yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari pada istrimu. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu. Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu

dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikannya.

Sumber : KSH 

 
2 Comments

Posted by on October 9, 2012 in Artikel, cerpen, kasih sayang, Kutipan, Motivasi

 

Tags: , , , ,

Universitas Kehidupan


Universitas Kehidupan

Jika semua yang kita kehendaki terus kita MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS
Jika semua yang kita impikan segera TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR
Jika setiap doa kita terus DIKABULKAN, bagaimana kita dapat belajar IKHTIAR.

Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata
Seorang yang taat pada Tuhan, bukan berarti tidak ada kekurangan
Seorang yang tekun berdoa, bukan berarti tidak ada masa sulit
Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETULUSAN
Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN
Ketika hatimu terluka sangat dalam.., maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.

Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN
Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN
Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar tentang KEMURAHAN HATI.

Tetap semangat….
Tetap sabar….
Tetap tersenyum…..
Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang sekarang, bukan karena “KEBETULAN”
Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan
MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA.

______

(Disadur dari Buku “Sepatu Dahlan Iskan”)

 

Tags: , , , , ,

Karantina Finalis PPAN Jabar 2012


Karantina Finalis PPAN Jabar 2012

(Cerita ini ditulis oleh salah satu finalis, Puji Maharani)

Hari ini, sepekan yang lalu, saya dipulangkan ke realita: menjadi sarjana segar yang kesibukannya “cuma” mengurus surat-surat kelulusan dan persiapan wisuda bulan depan. Sebelumnya, selama tiga hari, saya bersenang-senang bersama lima puluh satu teman baru dari seantero Jawa Barat, yang prestasinya mengintimidasi namun kepribadiannya menginspirasi.

Kami dikumpulkan di The Cipaku Garden Hotel dalam rangka Seleksi Tahap III Pertukaran Pemuda Antarnegara 2012. Dengan perjuangan lumayan untuk menempuh jalanan yang naik-turun untuk mencapai lokasi, mungkin ini alasannya hotel tersebut dijadikan tempat karantina. Tapi, toh perjalanan lima puluh dua orang peserta Seleksi ini jauh lebih berliku. Kami melewati seleksi administrasi di tahap pertama, bersaing dengan sekitar 600 pendaftar lainnya. Lolos dari sana, 132 orang dinyatakan layak mengikuti seleksi tahap kedua di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, untuk kemudian disaring lagi menjadi 52. Saat pertama kali menjejakkan kaki di hotel, saya masih dirundung rasa tidak percaya bahwa saya sudah tiba di lokasi, mengenakan setelan rok-kemeja-scarf dan rambut dicepol, menenteng koper, siap menjadi peserta karantina. I mean, me, of all people? Really?

Yes, apparently. Siang itu juga, saya dan 51 peserta Seleksi lainnya disambut dengan sebuah maraton: tes tertulis dan tiga Focus Group Discussion (FGD). Rencananya, dari hasil seleksi tersebut, akan dipilih dua puluh orang untuk mengikuti tes wawancara dan kesenian di hari berikutnya. Belum juga hari itu berujung, saya sudah optimis tidak akan lolos. Lima belas menit diskusi plus tiga menit presentasi, dikalikan tiga, dengan sekitar delapan orang dalam satu kelompok, tak saya rasa cukup untuk tampil all-out, dan kemudian dianggap layak menjadi satu dari dua puluh besar. Saya dilanda perasaan yang sama seperti sehabis tes presentasi pada seleksi tahap kedua: I believed that I worth more than three minutes, yet three minutes was all I’ve got. Ya sudahlah, yang penting di sana saya bisa makan kenyang, tidur nyaman, dan dikelilingi teman-teman. Daripada bersusah hati memikirkan minimnya kesempatan ikut seleksi di hari kedua, meskipun sebenarnya berharap bisa ikut tes wawancara, lebih baik saya menikmati waktu yang tersisa dengan bersenang-senang (dan menikmatifree flow kue surabi yang enak waktu sarapan).

Ternyata, Tuhan memang sang Maha Pemberi Kejutan. Esok paginya, panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta dinyatakan akan mengikuti seleksi hari kedua, yang meliputi kesenian dan tiga pos wawancara. Efek sampingnya, tahapan seleksi ini menghabiskan waktu sungguh-sungguh sehari penuh, dan baru rampung sekitar pukul 22.00. Seolah belum cukup, para peserta yang energinya sudah terkuras ini sempat-sempatnya digiring ke restoran hotel untuk “pengarahan” selama satu jam dari pihak penyelenggara, yang anehnya melibatkan seorang biduan dan organ tunggal. Padahal, rencananya, malam itu para peserta harus memersiapkan dan menampilkan batch performance. Penampilan kesenian dari 52 orang peserta Seleksi pun terpaksa ditunda hingga esok pagi, namun toh kami bertahan di ruangan Wijayakusuma hingga tengah malam, menyusun rencana.

Meski lelah luar biasa, saya sangat puas karena hari itu akhirnya saya berkesempatan unjuk kabisa secara individual, setelah sehari sebelumnya menjadi bagian dari kelompok-kelompok. Maka, ketika hari terakhir karantina tiba, yang saya pikirkan hanya sarapan kue surabi dan latihan untuk batch performance. Oh, juga kompensasi finansial untuk “pengganti biaya transportasi” yang konon akan diberikan, yang saya pikir layak didapat terutama oleh teman-teman dari luar kota.

Singkat cerita: pagi itu saya sarapan kue surabi, dengan saus gula merah dan santan kental. Nyam. Lalu saya dan teman-teman peserta Seleksi turun ke ruangan Wijayakusuma untuk latihan flash mobsebagai batch performance kami, angkatan 2012. Flash mob ini terdiri atas drama yang menggambarkan proses Seleksi selama tiga hari ke belakang dan tiga tarian singkat berlatarkan tiga jenis musik yang berbeda. Sejak saat itu, Sik Asik-nya Ayu Ting Ting (yang hampir tiap hari ada di televisi dan jadi jingle iklan) membuat saya teringat sebuah rangkaian koreografi dan berharap bisa menarikannya lagi bersama lima puluh satu orang teman baru saya. Pun, We Found Love dari Rihanna membuat saya tidak lagi terpikirkan sebuah tempat tanpa harapan, karena justru berawal dari karantina inilah kesempatan-kesempatan baru, saya yakin, akan datang. Menemukan cinta, mungkin? Siapa yang tahu? 😀

 Rampungnya batch performance kami dihujani riuh sorakan dari kakak-kakak alumni Purna Caraka Muda Indonesia Jawa Barat, “G-OO-D J-O-B, good job, good job!” yang menghangatkan hati, sebelum kembali dag-dig-dug lagi menunggu pengumuman hasil Seleksi.

Acara pun resmi dimulai. Sambutan. Sambutan lagi. Kapan pengumumannya, sih?

Satu-persatu nama disebut; berturut-turut untuk program pertukaran pemuda ke Malaysia, Australia, Kanada, dan terakhir ASEAN-Jepang. Tahun ini nama saya belum dapat giliran. Tak apa, karena saya percaya lima orang (tiga laki-laki, dua perempuan) yang telah ditahbiskan menjadi perwakilan Jawa Barat adalah mereka yang diyakini panitia sebagai individu-individu yang paling cocok untuk program-program tersebut.

Bohong besar kalau saya bilang saya tidak kecewa, tapi toh saya paham ini bukan soal kalah-menang. Menjadi salah satu dari lima puluh dua, yang mampu menyisihkan sekitar enam ratus pemuda Jawa Barat, sudah merupakan sebuah bukti bahwa setiap dari kami memiliki kualifikasi yang tak bisa dipandang remeh. Bisa disandingkan dengan mereka merupakan kesempatan yang belum pernah datang dalam hidup saya. Lewat mereka, saya tidak hanya berkesempatan mengenal orang-orang baru, saya juga menyadari bahwa Seleksi ini membuat saya lebih mengenal diri sendiri – ternyata persistensi dan determinasi mampu menggerakkan saya untuk belajar menari. Menyadari fakta ini, kekecewaan saya seketika disergap dan dikalahkan rasa bangga.

Pada titik ini, saya kembali teringat kata-kata Julie Andrews ketika berperan sebagai Maria dalam The Sound of Music“When God closes a door, somewhere He opens a window”. Ya, dan tidak, pikir saya. Tidak mungkin hanya satu jendela – pasti banyak! Dan mungkin tidak hanya jendela, namun pintu juga. Maka, ketika diminta mengungkapkan kesan-kesan pascakarantina, itulah yang saya katakan. Mungkin, saat itu saya hanya sedang berupaya menghibur diri sendiri ketika dihadapkan dengan pintu yang tertutup di depan mata. Tapi, ketika saya sebenarnya bisa berbalik dan mencari jendela (-jendela, dan boleh jadi juga pintu-pintu) yang terbuka, dan saya yakin teman-teman yang lain juga bisa melakukannya, mengapa tidak?

Satu pekan sudah berlalu, dan saya masih senang mengenang. Grup “Finalis Pertukaran Pemuda Antar Negara 2012, Provinsi Jawa Barat”, dengan lengkap lima puluh dua dari kami sebagai anggota, sungguh aktif bertukar sapa dan kabar, termasuk di antaranya info program-program kepemudaan dan rencana reunian.

Ah, teman-teman, bahagianya bisa menjadi bagian dari kalian!

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Notes’ Puji Maharani

 
2 Comments

Posted by on April 19, 2012 in Artikel, Kutipan, Motivasi, pengalaman

 

Tags:

Harta Karunku


Harta Karunku

 

“Aku melakukan kesalahan.. Aku coba perbaiki.. Aku gali harta karunku yang tersembunyi.. Begitu sulit awalnya.. Tetapi ketika semua telah kulalui, itulah yang menjadikanku kuat seperti sekarang ini..

 

Siang hari panas tak terkira, malam hari justru hujan. “Cuaca sedang labil-labilnya nih,” fikir seorang pemuda yang sedang duduk asyik di bawah pohon. Doni Randy namanya. Pemuda tersebut baru saja pulang dari sekolahnya. Tak jelas ke arah mana langkah kakinya akan ia langkahkan, bagai anak ayam yang kehilangan induknya, Doni seperti orang linglung.

“Malas ah pulang ke rumah, ujung-ujungnya dimarahin juga” batin Doni. Ia baru saja mendapat terguran SP (Surat Peringatan) dari gurunya karena hari ini sudah datang telat yang ke sebelas kali. Sudah barang tentu ia tak mau pulang, marahan dari ayahnya yang notabene seorang tentara sudah menghantuinya.

Hari beranjak malam. Sinar matahari yang cerah dan indah telah berganti dengan cahaya bulan purnama yang terus dilihat oleh Doni. “Ah, enaknya jadi matahari. Kalau sudah capek, dia tinggal minta bulan yang gantiin. Coba gue. Gue capek ama bosan di sekolah, mana ada yang mau gantiin? Yang ada juga kena cambuk bokap,” ucap Doni dalam hatinya. “Malah minggu depan udah pengambilan rapot lagi, kudu siap mental nih”. Keluh kesah yang terus keluar dari mulutnya membuat rasa lapar menghampirinya. Tak tahu harus ke mana, ia pun bergegas pulang.

Tok..Tok..Tok.. Dengan rasa gugup Doni mengetuk pintu rumahnya.

“Siapa?” Tanya orang dari dalam rumah.

“Doni” jawab Doni tak antusias.

“Masuk aja Don, enggak dikunci kok”

Dibukanya pintu rumah dan segera menuju kamarnya. Doni tak berani menatap mata orang tuanya yang sedang makan malam di ruang makan. Tak mempedulikan kedaaan sekitar, ia langsung menuju kamarnya.

Ayah Doni memang terkenal “keras”. Ia seorang tentara yang disegani di daerah perumahannya. Banyak preman pasar yang sudah bertekuk lutut olehnya. Jangan tanya kemampuannya untuk berkelahi, badan besar dan berotot sudah menjadi modal awalnya. Orang-orang daerah perumahannya selalu menghormati ayah Doni karena dengan hadirnya ayah Doni di perumahan tersebut membuat tindak kekerasan dan kriminal berkurang drastis. Sepertinya para pelaku kejahatan tersebut sudah terlanjur takut dengan ayah Doni.

Apakah ada orang tua yang ingin melihat anaknya rusak dan gagal? Tentu tidak. Yang orang tua inginkan dari sang anak adalah wajah bahagia dari sang anak karena telah berhasil dalam menggapai cita-citanya. Hal itulah yang menjadi pedoman ayah Doni dalam mendidik putra satu-satunya itu. Ia tak ingin melihat anaknya gagal, ia tak ingin melihat anaknya rusak dan hancur, yang ia inginkan agar Doni berhasil dalam studinya. Alhasil, cara mendidik ala militer ia terapkan untuk anaknya. Tak terhitung berapa kali Doni “ditempa” oleh ayahnya. Doni sungguh amat tak menyukainya, tapi cara seperti itulah yang dipilih ayahnya untuk mendidik dirinya.

“Bagaimana kabar sekolahmu?” Tanya ayah Doni yang mengagetkan Doni. Ia tak sadar sedari tadi ayahnya sudah ada di kamarnya. “Kamu ini masih muda ngelamun mulu, mau jadi orang seperti apa nanti, kalau kerjaannya melamun mulu? Jadi, gimana sekolahmu?”

Kebimbangan menghampiri Doni. Surat Peringatan dari sekolahnya masih ada di dalam tasnya, apakah ini waktu yang tepat untuk memberi tahu ayahnya atau tidak, ia masih bingung. “Ya, begitulah,pa..” jawab Doni sekenanya.

“Yakin? Tadi papa dengar dari mama, kalau kamu terlambat lagi ke sekolah. Udah ke berapa kali kamu terlambat? Kalau mau jadi orang sukses harus DISIPLIN!” dengan sedikit keras ayah Doni mengucapkan kata DISIPLIN, untuk mempertegas dan menggarisbawahi kata tersebut.

Oke. Ini saatnya. Doni pun memberi tahu ayahnya mengenai Surat peringatan tersebut. “Yaa, sudah terlanjur basah” batin Doni.

“Pa, ini ada surat dari wali kelas” ucap Doni sembari memberi surat tersebut kepada ayahnya.

“Surat apa ini?” Tanya ayahnya.

“Tadi aku memang terlambat lagi ke sekolah. Jadi aku dipanggil Bu Wiwi ke ruangannya. Dia menceramahiku beberapa menit lalu memberi surat tersebut” jelas Doni kepada ayahnya. Dengan sedikit gugup ia menunggu reaksi ayahnya yang sedang membuka surat tersebut.

Satu detik, tiga detik, lima detik tak ada reaksi dari ayahnya. Satu menit kemudian…

“Oke, besok papa yang akan menghadap wali kelasmu” ucap ayah Doni. “Sekarang lebih baik kamu makan lalu tidur supaya besok tidak terlambat lagi”sambungnya.

Clek. Pintu kamarnya tertutup. Ayahnya sudah keluar dari kamarnya. Doni pun termenung. Membisu. Ada apa dengan papa? Tumben dia tidak marah-marah? Oh, Puji Tuhan, batinnya.

Segera Doni makan malam, membersihkan diri lalu bergegas tidur.

Sebelum tidur, Doni berdoa. “Ya Tuhan, semoga besok tidak terjadi apa-apa di sekolah. Semoga pertemuan Bu Wiwi dan papa baik-baik saja. Minggu depan juga akan ada pembagian raport, semoga nilai saya aman-aman saja, supaya tak mengundang rasa marah dari papa. Berikan saya kepintaran ya Tuhan! Berikan saya otak yang cerdas ya Tuhan! Supaya papa dan mama bisa bangga dengan saya. Saya kesal sudah dianggap bego terus sama papa. Saya kesal dianggap anak yang tak berguna. Saya mau sukses ya Tuhan!” Ucapnya dalam doa dengan menggebu-gebu yang diakhirinya dengan kata “Amin”.

Pagi harinya Doni bangun tepat waktu. Alarmlah yang membangunkannya. Ia tahu betul itu kerjaan ibunya, karena ia sendiri tak merasa menyetel jam alarm untuk membangunkannya. Ia segera mandi dan segera menuju sekolah. Orang rumah sepi. Tak ada orang, semuanya telah berangkat kerja. Ketika hendak melangkah keluar rumah, Doni menemukan secarik kertas di atas meja ruang tamu. Penasaran dengan kertas tersebut, Doni langsung membukanya. “ASTAGA!” Seketika itulah Doni kaget. Tangannya gemetaran memegang kertas tersebut. Ia masih tak mempercayai tulisan yang tercetak di kertas tersebut.

Sepanjang perjalanan Doni terus memikirkan isi kertas yang tak sengaja ia temui di rumahnya. Kertas itu berisikan surat dokter mengenai kesehatan ayah Doni. Dari yang ia tangkap dan baca, ayahnya ternyata mengidap penyakit jantung. Tercetak jelas bahwa tanggal yang tertulis adalah tanggal kemarin pagi. “Apakah itu yang membuat ayahnya tak memarahinya kemarin malam?” Ya! Itulah alasannya. Mata doni mulai basah, dibasahi air matanya sendiri. Jika dalam kedaan normal sudah pasti ayahnya akan memarahinya karena Surat Peringatan tersebut, tapi kemarin malam yang terjadi justru sebaliknya. Ayahnya adem ayem. Tak ada raut muka kesal dan marah yang ayahnya tunjukkan. Itu bukan ayahnya yang sebenarnya. Ya, pasti karena diagnosa dokter itulah yang menyebabkan ayahnya mengontrol emosinya. Air mata Doni terus mengalir. “Anak macam apa aku ini? Ayahku sakit, tapi aku justru mengecewakannya?” batin Doni terus dalam hatinya. Tak terasa ia sudah sampai di sekolah.

Jam pelajaran hari ini terasa begitu cepat bagi Doni. Cepat, karena ia memang tak terlalu memperhatikan penjelasan dari gurunya, terlebih hari ini hari sekolah terakhir. Besok hingga minggu depan akan dilaksanakan class meeting yang diteruskan dengan pembagian raport. Sepanjang jam pelajaran di kelas Doni lebih banyak diam. Tak terlihat Doni yang biasanya. Doni yang ramai, ceria, usil dan bersemangat. Semua hilang bagai di telan bumi. Surat pernyataan dokter mengenai kesehatan ayahnya terus terlintas dalam benaknya.

Tak terasa perjalanan Doni sudah mengantarnya hingga depan rumahnya. Sudah pasti ayahnya juga telah sampai rumah, dan yang lebih pasti, ayahnya pasti telah bertemu dengan wali kelasnya.

“Siang,pa..” ucap Doni pelan.

“Siang..” jawab ayah Doni. “Sini, kita bicarakan hasil pembicaraan tadi dengan bu Wiwi” ajak ayah Doni kepada Doni sambil mempersilahkan Doni untuk duduk di sebelahnya.

“Tadi papa langsung dibagikan hasil raportmu. Sebenarnya jadwal pembagian raport adalah minggu depan, tapi berhubung papa udah datang hari ini, ya sekalian saja dibagi hasil raportmu ke papa” jelas ayah Doni.

Badan Doni menjadi gugup. Raportnya telah diserahkan ke ayahnya? Hati dan pikirannya belum siap menerima hasil raport tersebut.

“Kata Bu Wiwi, kamu sebenarnya anak yang mampu dan sanggup untuk mengikuti pelajaran. Masalah kamu ada di dispilin. Kamu suka terlambat. Sudah berulang kali papa tegaskan kalau dispilin itu penting. Percuma kamu jadi anak jenius raport bernilai 9 semua, kalau tidak ada rasa disiplin yang tertanam dalam diri kamu, karena hasilnya sama saja dengan NOL BESAR! Ini hasil raport kamu,” papar ayah Doni sembari menunjukkan hasil raport tersebut kepada Doni.

“Nilai terbagus kamu ada di Bahasa Indonesia, nilai terjelek ada di Matematika. Itu yang dijelaskan Bu Wiwi. Apa kamu juga merasa seperti itu?” Tanya ayah Doni.

Doni berfikir sejenak. Seharusnya itu pertanyaan mudah, namun menjadi susah di kala badan, hati dan fikiran sedang gugup. “ehh.. iya,pa..” jawab Doni. “Aku memang suka bahasa Indonesia. Apalagi menulis. Aku senang menulis, pa. Dan aku benci matematika, karena aku tidak suka dengan hitung-hitungan” jelas Doni.

“Kalau begitu, sekarang lekas ke kamar. Buat 3 tulisan cerpen yang harus selesai besok pagi. Ingat, DISIPLIN adalah kata suksesnya!” jelas ayah Doni dengan memberi tantangan kepada Doni.

“Ma..mak..maksudnya apa pa?” Tanya Doni mempertegas.

“Ketika kita menemukan tanah yang kemungkinan ada harta karunnya, tentu harus kita gali tanah tersebut untuk meyakinkan apakah benar ada harta karun atau tidak di dalam tanah tersebut. Begitu juga dengan TALENTA..” jelas ayah Doni . “Sekarang silahkan ke kamar, kita cari apa harta karun yang kamu punya” papar ayah Doni dengan tegas.

Tugas berat menanti Doni. Ya, 3 cerpen harus ia buat dan harus selesai besok pagi. Sebenarnya ini adalah waktu bermain baginya. Raport sudah ada di tangan, sudah tak ada lagi kegiatan belajar mengajar di sekolah, tapi ayahnya justru memberi tugas ini kepadanya. “Harta karunku harus kutemukan!” ucap Doni sembari menyemangati dirinya.

Di dalam kamar, ia benar-benar serius. Kata “DISIPLIN” yang diucapkan ayahyna tergiang-ngiang dari dalam telinganya. “Disiplin adalah kata suksesnya”, itulah kalimat yang menjadi acuan Doni.

Malam semakin larut. Makan malam pun ia hanya sekadarnya. “Tak perlu banyak-banyak, yang penting sudah cukup” batinnya. Bagai pejuang di medan tempur, senjata-senjata Doni juga sudah siap. Laptop sudah tertata di atas mejanya. 10 jarinya menari indah di atas laptop. Tak peduli ada sesuatu yang terjadi atau tidak di luar sana, Doni terus asyik dengan dunianya sendiri. Hanya bunyi dari peraduan jari dengan ‘tuts’ laptoplah yang terdengar di dalam kamar Doni. Untaian kata-kata, kalimat, hingga menjadi paragraph terus ia buat utnuk mencapai target 3 cerpen hingga besok pagi.

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Di saat orang-orang sedang beristirahat, seorang anak lelaki masih dengan asyiknya duduk di hadapan laptopnya. Matanya terus fokus di hadapan layar laptopnya. Tak ada seorang pun yang dapat mengganggunya sekarang.

“SELESAI!.. Yihaaa!” Teriak Doni senang. 3 cerepen tersebut berhasil ia selesaikan pukul 4.30 pagi. “Waktunya tidur..” ucap Doni dalam hati.

Malam yang akan beranjak menjadi pagi seolah menjadi saksi seorang anak lelaki yang tengah berjalan menemukan harta karunnya…

Doni terbangun pukul 9 pagi. Ia melihat layar laptopnya. Halaman yang terpampang di laptopnya bukanlah halaman bagian terakhir cerpen yang ia tulis. Dengan sedikit heran, ia beranjak bangun dari tempat tidurnya.

“Selamat, anakku.. Tantangan pertama selesai. Fikirkanlah ide-ide cerita hari ini. Besok buatlah 5 cerpen. Dan terus bertambah 2 setiap hari agar semakin pastilah harta karunmu..” -With Love, Your Dad-

Air mata jatuh dari mata Doni. Rasa haru bahagia ia rasakan. Baru kali ini ayahnya menberi selamat kepadanya. “Baiklah, 3 cerpen tanpa ada waktu membuat ide cerita saja bisa selesai, apalagi tantangan ini..” Batin Doni dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Tok..tok..tok..Suara ketukan pintu kamar Doni terdengar. “Siapa?” Tanya Doni.

“Mama” ternyata mamanya lah yang mengetuk pintu kamarnya.

“Kenapa,ma? Tanya Doni kepada ibunya, sebab tak seperti biasanya ibu Doni masuk kamarnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Papa kamu, don.. Dia masuk Rumah Sakit. Jantungnya kumat..” Ucap IBu Doni dengan menitikkan air mata.

“Apa? Bukankah tadi dia menulis di laptopku? Kenapa tiba-tiba di Rumah sakit?” Tanya Doni, sambil mengingat kejadian kemarin pagi di mana ia menemukan surat dokter yang menyatakan ayahnya mengidap penyakit jantung.

“Tadi pagi, mama memang melihat papa kamu masuk kamar kamu. Tapi, tadi baru ada telefon dari kantornya. Dan dibilang bahwa papa kamu masuk Rumah Sakit karena penyakit jantungnya kumat” jelas Ibu Doni dengan mata yang masih berlinang.

“Ayo, kita ke Rumah Sakit” ajak Doni tanpa pikir panjang.

Sesampainya di Rumah Sakit, Doni langung bergerak aktif mencari tahu di ruang mana ayahnya dirawat. Setelah mengetahuinya, ia dan ibunya langung menuju kamar tersebut.

Tertegun. Ya, itulah reaksi pertama Doni bergitu masuk kamar tersebut. Begitu sakit hatinya melihat ayahnya yang lemah dan tidur berbaring di atas kasur, tak ada lagi yang dapat dilakukan ayahnya. Teman ayah Doni datang dan menceritakan kronologis mengapa ayahnya bisa sakit seperti ini.

“Tadi pagi dia datang ke kantor dengan wajah cerah. Dia bercerita bahwa anaknya telah berhasil menemukan harta karun yang selama ini ia cari. Karena terlalu senangnya, dia terlalu bersemangat bekerja. Jantungnya tak kuat, alhasil jadi seperti ini.” Jelas teman Ayah Doni kepada Doni dan ibunya.

Pecah sudah tangis Doni. Sudah jelas dan pasti yang dibicarakan ayahnya adalah dirinya. Dirinya yang berhasil menjawab tantangan ayahnya.

Dokter datang dan menjelaskan hasil pemeriksaannya. Penyakit jantung ayah Doni sudah stadium akhir. Butuh keajaiban untuk menyelamatkannya.

Kini muka ayahnya berhadapan langsung dengan mukanya. Terbayang muka marah ayahnya ketika ia melakukan salah. Terbayang tempaan-tempaan yang dilakukan ayahnya kepada dirinya. Terbayang bagaimana ayahnya menasehati dirinya. Terbayang ucapan selamat pertama yang disampaikan ayahya pada dirinya melalui laptop. Terbayang bagaimana ayahnya yang kuat dan disegani banyak orang kini terbaring tak berdaya di Rumah Sakit. Bayangan-bayangan tersebut membuat Doni memeluk erat ayahnya. Ia merasa bersalah karena hingga saat ini belum dapat membahagaiakan ayahnya. Belum dapat membuat ayahnya bangga. Sungguh, ia tak ingin ayahnya berlalu dari hadapannya.

Doni memilih berjaga terus di Rumah Sakit. Dibawanya serta laptopnya untuk menemani dirinya sembari menyelesaikan tugas yang diberikan ayahnya, 5 cerpen yang harus selesai hingga besok pagi. Sambil menunggu perkembangan ayahnya, ia terus menggali ide cerita yang akan ia buat cerita untuk tugas kali ini.

Esok paginya, Doni telah berhasil menemukan ide-ide baru untuk dibuat cerita. Ternyata waktu semalaman cukup baginya untuk menemukan 5 ide cerita. Jari-jarinya langsung bergerak aktif dia tas laptop. Kali ini tidak sefokus kemarin karena ia masih mengharapkan ayahnya untuk terbangun dari tidurnya.

Menjelang malam, ada perkembangan signifikan dari Ayah Doni. Tangannya sudah mulai bergerak. Harapan sedang membumbung tinggi, itulah yang dirasakan Doni dan ibunya.

“Ma.. Doni..” ucap Ayah Doni lirih.

“Pa.. Ini aku, Doni.. Ini sebelahku, ada mama..” teriak Doni agar ayahnya mendengar perkataannya.

“Ma.. I Love You.. Papa sayang mama.. Maaf kalau papa ada salah. Jaga Doni baik-baik yaa..” ucap Ayah Doni seperti pesan terakhir.

“Papa jangan ngomong begitu! Kita masih bisa bersama lagi!” Teriak Doni. “I Love You too, papa. Aku akan jaga Doni” ucap Ibu Doni, seperti mendapat firasat bahwa suaminya sebentar lagi tiada.

“Don.. Harta karun telah ditemukan, sekarang bagaimana tinggal mengolahnya. Semoga kamu sukses,” pesan Ayah Doni sembari mengucapkan doa untuk sang anak.

Tak bertahan lama, jantung ayah Doni kembali beraksi. Malaikat pencabut nyawa seoalah sedang menunaikan tugasnya. Dengan spontan, Doni memanggil dokter, tak ingin hal buruk menimpa ayahnya.

“Kami akan berusaha dengan seluruh kemampuan kami. Mohon nak Doni dan ibu untuk menunggu di luar” ucap Dokter yang dengan sigap langsung terjun melakukan pertolongan pada ayah Doni. Doni dan ibunya hanya menurut dan berlalu meninggalkan kamar.

Hati was-was dan gelisah menghinggapi Doni dan ibunya. Doni sungguh tak ingin ayahnya meninggalkan ia secepat ini. Dalam kepasraan dan berserah, mereka berdoa yang terbaik untuk sang ayah.

Pintu kamar terbuka. Doni langsung menuju sang dokter. Terjadi pembicaraan singkat di antara mereka. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Walaupun sudah berusaha maksimal, ayah Doni memang sudah ditakdirkan untuk menghadap Sang Pencipta. Air mata Doni kembali keluar, tapi kali ini tak sebanyak tadi. Sepertinya ia sudah menyadari bahwa ini waktu yang pas untuk ayahnya. Dipeluknya ibunya dan mereka langsung beranjak ke kamar sang ayah. Hanya ucapan doa yang keluar dari mulut Doni. “Aku akan mengolah harta karunku dengan baik, Pa” batin Doni.

 

4 tahun berselang..

“Mari kita panggilkan penulis buku best seller ‘Menemukan dan Mengolah Harta Karun dalam Diri’.. Ini dia Doni Randy..” Tepuk tangan membahana seisi ruangan. Semua mata tertuju pada 1 orang di atas panggung. Dengan setelan kemeja rapi, seorang lelaki dengan percaya diri tampil di atas panggung tersebut. Ya, dia tak lain dan tak bukan adalah Doni.

4 tahun setelah ditinggal ayahnya, Doni terus bertekun dalam menulis. Kreatifitasnya terus bertambah dan bertambah. Berbagai macam buku dan novel telah ia tulis. Kecepatannya dalam mencari ide cerita mempermudahnya untuk menulis dan berkreasi. Disiplin diri terus ia asah. Tak ada waktu yang terbuang baginya kini. Waktu yang telah disediakan oleh Yang Maha Kuasa ia pergunakan sebaik mungkin dengan rasa displin yang tinggi. Alhasil perjuangannya kini membuahkan hasil. Kreativitasnya dalam menulispun sudah terdengar hingga dunia internasional. Namanya sudah sangat diperhitungkan di kalangan penulis internasional. Seperti saat ini, di mana ia sedang berbicara di ribuan orang penggemar tulisannya mengenai buku barunya “Menemukan dan Mengolah Harta Karun dalam Diri”. Tak hanya dari dalam negeri, penggemarnya dari luar negeri pun turut hadir.

“Setiap manusia mempunyai harta karunnya masing-masing. Cara menemukan sang harta karun setiap orang pun berbeda dan unik. Kadang tak sengaja harta karun tersebut ditemukan di saat mental lagi down, atau bisa juga ditemukan di saat hati sedang berbahagia. Kadang juga diperlukan orang-orang yang mengingatkan kita bahwa kita memiliki harta karun yang terpendam, karena terkadang diri sendiri tak menyadari bahwa terdapat harta karun di dalam diri kita. Yang menjadi permasalahan setelah ditemukan harta karun tersebut adalah pengolahannya. Seorang bajak laut jika telah menemukan harta karun, lalu tak dapat mengolahnya dengan baik tentu harta karun yang ia dapatkan tak akan bertahan lama. Harta karun itu tak berbekas. Disiplin adalah kata sukses untuk pengolahannya,” ucap Doni di depan ribuan pasang mata di hadapannya. Tepuk tangan mengiringi kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Doni.

“Pak Doni, sudah banyak buku yang bapak buat, apa resepnya?” Tanya seorang wartawan pada Doni.

“Disiplin adalah kata suksesnya. Kreativitas akan mengikutinya” jawab Doni singkat.

“Bapak selalu mempertegas hal displin, kenapa pak?” Tanya sang pemburu berita lagi.

“Disiplin adalah kata sukses. Itu yang saya pegang. Kalau kita ingin sukses, ya kita harus displin. Tak ada tolreansi buat hal tersebut. Seberapapun pintarnya diri kita, jika tak displin, hasilnya sama saja dengan nol besar” jawab Doni tegas.

“Nama anda sudah terkenal hingga dunia internasional. Punya pesan untuk para penulis yang baru menemukan harta karunnya?” tanya seorang penggemarnya.

“Saya sangat senang melihat mereka telah menemukan harta karunnya. Sejujurnya saya ingin  membangun sekolah menulis. Dengan menulis, kreativitas dapat terasah dengan baik. Dan jangan lupa, seperti pertanyaanmu tadi. Dengan menulis kita dapat ikut serta mengharumkan nama bangsa. Ketika nama saya tersebut oleh penulis luar, maka nama Indonesia akan ikut serta di dalamnya” jawab Doni. “Seperti layaknya tentara yang mengharumkan nama bangsa lewat peperangan, para penulis juga dapat mengharumkan nama bangsa lewat tulisan-tulisannya” sambung Doni sembari mengingat ayahnya yang seorang tentara.

“Sekolah menulis? Wah, terdengar janggal ya. Bagaimana bisa?” seorang penggemarnya bertanya.

“Seperti yang sudah saya utarakan. Dengan menulis kita dapat mengharumkan nama bangsa. Kreativitas dalam tulisan dapat digunakan untuk membangun bangsa. Keselarasan itu yang saya pegang. Dengan terlahirnya para penulis-penulis muda, kreativitaslah yang pada nantinya akan membangun bangsa kita ke arah yang baik, semakin baik hingga sangat baik” jawab Doni.

“Selain disiplin dan kreativitas, moto apa yang akan anda berikan untuk sekolah anda ini?” tanya seorang penggemarnya lagi.

Sambil menghela nafas panjang, Doni menjawab “With Writing, I Can Do Everything” jawaban singkat dan tegas yang mengakhiri sesi tanya jawab tersebut.

“Tak perlu takut. Yang terbaik untuk hari esok dan masa depan telah diatur oleh-Nya…

Do the best and God will do the rest..”

 
1 Comment

Posted by on March 16, 2012 in cerpen, Motivasi

 

Tags: , , , ,

Reactive Person


Beberapa hari yang lalu saya sedang mengikuti sebuah rapat. Di rapat tersebut muncul banyak ide yang ditampung kepanitiaan. Tapi yang menarik adalah sisi reaktif dari beberapa orang. Ya, reaktif. Reaktif sendiri menurut saya adalah tindakan yang cenderung atau segera bereaksi terhadap sesuatu yang muncul. Ide-ide yang muncul ditanggapi dengan reaktif, yang menurut hemat saya tidak baik.

Sangat disayangkan, apabila orang muda merupakan orang yang reaktif. Meminjam istilah “survivor” (orang yang melakukan survival), dikenal istilah S-T-O-P. Istilah tersebut digunakan apabila sang survivor tersesat. S-T-O-P juga dapat kita gunakan agar kita tidak menjadi orang yang reaktif terhadap sesuatu/ide yang muncul.

S – Seating : Ketika mendapatkan ide/masukan/pendapat orang, kira berhenti dan sejenak menarik nafas. Hilangkan kepanikan ketika banyak ide/masukan/pendapat yang masuk.

T- Thinking : Setelah itu kita fikir ide/masukan/pendapat tersebut secara baik dan logis. Berfikir tetap tenang dalam situasi yang dihadapi.

O- Observation : Setelah berfikir, liat situasi, kondisi, dan keadaan sekitar. Lalu tentukan arah yang sesuai dengan ide yang kita terima.

P- Planning : Setelah melihat keadaan sekitar, buat rencana dan perhitungkan konsekuensi yang muncul akibat rencana tersebut.

Menjadi orang yang reaktif mungkin baik, karena hal tersebut berarti kita dapat mencerna ide dan masukan dengan baik tapi dengan cara yang kurang tepat. Kita tidak memperhitungkan konsekuensi dengan memerhatikan keadaan dan situasi sekitar. Ada baiknya kita menggunakan pemetaan S-T-O-P ketika mendapat banyak ide/masukan/pendapat hingga ketika menghadapi situasi yang sulit.

Semoga bermanfaat..
🙂

 

Tags: , , , , , , ,

#OutOfComfortZone


 Berani keluar dari zona nyaman, kemampuan dan kapasitas baru siap menunjang masa depan.

Setelah bulan kemarin saya memposting “Experiential Learning” (EL), hari ini saya akan sedikit share mengenai salah satu poin yang ada di EL, yaitu Out of Comfort Zone..

Dari sisi bahasanya saja sudah dengan mudah ditebak arti Out of Comfort Zone, yaitu keluar dari zona nyaman. Keluar dari zona nyaman memiliki arti yang luar biasa loh! Kita sebagai manusia bukanlah makhluk hidup yang diciptakan untuk hidup statis, melainkan dinamis! Kita diminta oleh Sang Pencipta untuk mengembangkan segala talenta dan kemampuan yang kita miliki.

Berani keluar dari zona nyaman berarti kita berani menambah kapasitas diri kita. Kita berani mencoba suatu yang baru di luar kebiasaan kita. Kita akan menemukan “harta karun” yang ada dalam diri kita, yang ternyata tak pernah kita sendiri tahu. Luar biasa bukan? 😉

Go adventure, Enjoy the journey, Face and Solve the problem, Find your treasures. Kurang lebih rangkaian kata-kata itulah yang saya gambarkan sebagai Out of Comfort Zone.

Go adventure. Pergilah berpetualang. Dengan berpetualang maka kita akan menemukan dunia baru yang belum pernah kita selami. Dunia baru yang tidak “klop” dengan kita. Dunia baru yang sama sekali tidak memberikan rasa nyaman. Rasa nyaman yang selama ini kita rasakan di dunia yang kita geluti akan sirna diganti dengan petualangan yang menjanjikan harta karun yang tak ternilai.

Enjoy the journey. Berpetualang tanpa menikmati perjalanan sama saja omong kosong. Nikmati perjalanan di dunia baru tersebut. Memang awalnya tidak memberikan kenyamanan, tapi nikmatilah dan keep positive thinking! 🙂

Face and Solve the problem. Selama perjalanan ini pasti akan ditemukan tantangan serta masalah. Seperti yang sudah pernah saya bahas di EL  , tantangan ada 3 macam. Tantangan-tantangan yang muncul itu wajib kita hadapi dan kita cari pemecahan masalahnya. Dengan terlatih memecahkan masalah dan tantangan yang dihadapai dari ketidaknyamanan tersebut, kapasitas diri kita akan bertambah. Sebuah tingkatan kemampuan diri yang lebih akan menjadi hadiah yang indah untuk siapapun yang face and Solve the problem. 🙂

Find your treasures. Tak perlu diragukan lagi, setelah melalui tahap pertualangan hingga memecahakan masalah, reward yang pantas diberikan berupa harta karun yang tak ternilai.  Baik sadar ataupun tidak, harta karun tersebut ada di dalam diri kita setelah kita berani untuk keluar dari zona nyaman kita. Kemampuan diri yang bertambah, kapasitas diri yang pada awalnya kita anggap sudah mentok ternyata meningkat berkali lipat, serta hal-hal positif lain yang menjadi penunjang diri kita di masa depan.

Feel the Fear and Break It..  #OutOfComfortZone


 
 

Tags: , , , , , ,