RSS

Category Archives: pengalaman

Penilaian Manusia Vs Tulus


Ada satu hal menarik yang ingin saya bagikan kepada orang-orang yang “nyasar” di blog ini. Catatan yang merupakan satu pengalaman pribadi yang saya rasakan dan lihat secara langsung.

Coba lihat dan perhatikan orang-orang yang berada di sekitar anda. Perhatikan kegiatan dan tindak-tanduknya. Murinikah yang dia lakukan? Ataukah untuk mendapat penilaian saja dari orang lain?

Kegiatan yang tulus tidak berharap adanya balasan dari orang lain. Itu murni keikhlasan dari apa yang ia lakukan. Tidak mengharapkan adanya balasan atas apa yang ia lakukan apalagi berharap balasan yang lebih dari apa yang ia lakukan. Ia melakukan hal A, untuk mendapat balasan berupa hal B. Seperti halnya sogokan. Ironis!

Dalam istilah saya, itu dibilang “ngarep”! Tindakan ngarep itu menandakan tidak adanya ketulusan dari pekerjaan yang ia lakukan. Ia hanya berfikir apa “pikiran orang tentang dia” setelah melakukan hal tersebut, bahkan ngarep mendapatkan sesuatu dari orang lain.

Baiklah, itu untuk “ngarep”, jika mengharapkan sesuatu setelah “do something”. Lalu bagaimana jika dia tidak ngarep, tapi justru takut? Pesimistic.

Ada juga beberapa orang yang justru takut dinilai oleh orang lain. Ia selalu mikir-mikir jika melakukan sesuatu, karena takut dinilai oleh orang lain. Terlihat jiwa pesimistisnya. Takut dinilai A,B,C dan seterusnya. Takut, takut dan takut! Bisakah ia berkembang? I don’t think so.

Penilaian yang berujung akan menjadi “cap” bagi dirinya begitu menghantui dirinya. Mengapa? Karena ia merasa cap itu akan menjadi cap yang buruk bagi dirinya, hal tersebut akan hinggap di dirinya.

Lantas, bagaimana cara agar tidak menjadi orang yang disebut “ngarep” dan “pesimistic”? Jawabannya, lupakan penilaian-penilaian dari manusia, berfokus pada pekerjaan yang dilakukan dengan “TULUS”. Kegiatan yang kita lakukan dengan tulus, tidak mengharapkan imbalan atau balasan, dan tidak takut dinilai orang entah itu baik ataupun buruk. Orang yang “ngarep” akan kelihatan apabila apa yang ia harapkan tidak terwujud.Ia akan kesal sendiri, BT dan bisa saja marah-marah tak jelas. Sementara orang yang pesimistic, terlihat dengan kurangnya rasa PD (percaya diri) karena dibelenggu oleh rasa takut.

Biarkan saja penilaian-penilaian dari manusia. TULUS, Dan biarlah Tuhan yang menilai pekerjaan atas apa yang kita lakukan, karena penilaian dari manusia hanya bersifat sementara di dunia ini…

*yang menjadi pertanyaan : kita termasuk golongan orang yang mana? ngarep-pesimsitic-tulus? *

 

 

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on July 2, 2012 in Artikel, blog, pengalaman, Pengembangan Diri

 

Tags: , , , , ,

Generasi Menunduk dan Mengeluh


Dunia digital yang hebat menghujani generasi sekarang. Kemampuan teknologi berkembang cepat dan (menurut saya) out of control. Ya, di luar dari kontrol manusia itu sendiri. Kita yang menciptakan, justru kita yang tak dapat mengkontrolnya.

Bayi pun lihat hp :p

Bayi pun lihat hp :p

Berkaitan dengan judul post ini, saya sedikit melihat realita yang ada di kehidupan sekarang. Coba tengok orang sekitar anda. Ketika anda menunggu bis di halte/jalan menuju kantor/kampus, orang sebelah anda sedang menunduk dan mengutak-atik gadget di tangannya. Ketika anda udah menaiki bis tersebut, orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri anda pun melakukan hal yang sama. Begitu pula ketika sudah sampai tujuan di kantor/kampus, orang yang kita temui pun melakukan hal yang sama. Aneh? Ya, aneh tapi nyata. Itulah realita yang ada sekarang. Kita lebih memilih untuk menunduk dan mengutak-atik gadget yang kita pegang dibandingkan menyapa orang yang ada di sebelah kanan dan kiri kita. Kesempatan untuk menjalin tali silaturahmi hilang begitu saja…

Contoh lain. Di rumah, kita cenderung memilih duduk di depan komputer atau PS! Dibandingkan menyapa dan menengok tetangga yang rumahnya berada di sebelah rumah kita. Dan karena canggihnya teknologi, diciptakanlah alat berupa Tab, Ipad atau PSP, sehingga terbentuk juga “generasi menunduk”. Luar biasa bukan?

Selain terbentuk ‘generasi menunduk’, teryata tercipta pula ‘generasi mengeluh’! tengok saja recent updates di Blackberymu, TimeLine di Twittermu, atau Update Status di Facebook. Sebagian besar itu semua merupakan ucapan-ucapan keluhan. Mengapa bisa begitu? Tidak adakah tempat curhatan lain selain di dunia maya?

Keluhan pun berbagai macam bentuknya. Mulai dari kepenatan akan tugas di kampus, kebosanan dengan rutinitas kantor, rasa galau dan patah hati hingga rasa sakit yang sesungguhnya. Ironis? Ya, it is the reality.

Idealnya, sang pencipta adalah sosok yang dapat mengatur yang diciptakannya (seperti Tuhan pada manusia). Yang menjadi titik perhatian adalah manusia yang menciptakan alat-alat tersebut, tetapi kita tak dapat mengatur alat-alat tersebut. Justru kita yang ‘diatur’ oleh mereka.

Don’t make us depend on them! Let us control them for make our life easier…

Lantas, ini suatu hal positif atau negatif? Saya rasa anda pun dapat menyimpulkannya 😉

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2012 in opini, pengalaman, teknologi

 

Tags: , ,

Rumah Prestasi & Harapan yang Ingin Sampai


1 April 2011 yang lalu, saya bersama seorang teman memifikirkan suatu kegiatan/gerakan positif yang dapat dilakukan bagi orang muda. Tercetuslah ide “Muda Prestasi” yang untuk saat ini concern di bidang sosial terutama pendidikan dan anak-anak.

Bersama seorang teman dari Universitas Jember, Farah Dina Hera, kami membuat konsep dari pemikiran tersebut. Hingga saat ini sudah terbentuk Rumah Prestasi di jember yang berkegiatan belajar-mengajar dengan target peserta anak-anak. Bagaimana kegiatannya? Berikut adalah notes dari fanpage Muda Prestasi di facebook yang ditulis oleh salah satu anggota Muda Prestasi Jember.

kegiatan di Rumah Prestasi

kegiatan di Rumah Prestasi

Rumah Prestasi & Harapan yang Ingin Sampai

Ternyata hal yang simpel seperti ini, belajar bersama, bisa menjadi sesuatu yang anak-anak sangat harapkan. Dan ternyata sesuatu yang kadang kita anggap terlalu sederhana merupakan langkah penting bagi orang lain.

Hari ini Senin tanggal 30 April 2012

Di rumah prestasi Jember, pukul 15:30 sudah ramai anak-anak berkumpul, mereka bermain di halaman. Sebenarnya hari ini tidak ada jadwal mengajar di Rumah Prestasi, entah mengapa mereka datang saja. Kalau aku keluar, mereka menyerbuku…”Mbak..kapan belajar lagi?”

Dari kemarin, setiap ketemu anak-anak itu, apalagi Yanti, anak yang terpaksa putus sekolah sejak kelas 3 SD. mereka selelu bertanya kepadaku, mungkin setiap melihat wajahku dia akan bertanya “Mbak… kapan belajar lagi?”

“Mbak… gimana itu PR nya? Ayo mbak belajar lagi… aku punya PR belum dinilai.” Kata Via.

Ibu-ibu juga begitu, setiap melihatku “Mbak, kapan belajar lagi?”

Aku merasa senang mendengar ibu-ibu antusias terhadap kegiatan ini. Aku senang ketika melihat Ibu-ibu mengantar anak-anak mereka untuk sekedar belajar bersama kami. Beliau-beliau selalu menunggu anaknya belajar dari pukul 15:00 sampai magrib sembari mengobrol dengan Ibu-ibu lain di depan teras, mugnkin perihal anak-anak mereka.

Pada awalnya kami berfikir mungkin kegiatan belajar ini tidak terlalu diinginkan oleh anak-anak ini, apalagi orang tuanya. Karena yah, aku jarang sekali melihat anak-anak ini terlihat membaca buku. Aku juga jarang mendengar teriakan ibu-ibu menyuruh anaknya belajar. Aku berfikir anak-anak mereka lebih didorong untuk bekerja daripada belajar. Karena tidak jarang sebagian anak-anak ini bekerja apa saja untuk tambahan penghasilan orang tuanya. Seperti waktu-waktu lalu, aku melihat mereka sedang menata sepatu di rumah kost kami atau menyapu teras kost. Untuk itu mereka memang mendapat upah. Bukan karena Ibu kost kami yang menyuruh mereka, mereka yang meminta pekerjaan itu.

Lagi, saat awal pertama aku datang ke Jember, aku melihat dua orang anak menyetop setiap orang yang lewat di kampus. Mereka ternyata sedang menjual buah mentega.

Aku bertanya pada mereka,”darimana kalian dapat buah ini?”

“Setiap ada buah dari pohon mentega yang ada dikampus yang masih bagus yang baru jatuh dari pohon kami ambil mbak buat dijual.”

“Untuk apa? Ibuk bapak apa tidak kerja?”

“Kalau Ibuk paling biasanya nyuci di rumah orang. Kalau Bapak narik becak. Ya ini buat nambah uang saku sekolah kok mbak.”

Mereka anak-anak dekat kostku dan kami satu kampung. Aku miris melihat kenyataan seperti ini. Kemudian sering aku dan teman-teman kostku cerita-cerita perihal anak-anak itu. Agar niatan itu tidak sebatas kegelisahan dalam hati, pada akhirnya berinisiatiflah untuk sedikit berbuat.

Maka teman-teman dari muda prestasi akhirnya sepakat untuk melakukan kegiatan mengajar di kost, yang notabene selalu jadi tempat berkumpul kami, kami menyebutnya rumah pestasi. Berharap mereka semua yang datang ke rumah ini adalah orang-orang yang semangat untuk meraih prestasi dan suatu saat benar-benar bisa mewujudkannya tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi orang lain.

Hari pertama dan kedua diadakannya kegiatan belajar, mereka antusias bukan main. Kami mulai pukul 18:15 dan berakhir pukul 20:30, karena setiap kami akan menutup acara, mereka minta belajar lagi, belajar lagi. Ketika kami tidak memberi PR, mereka akan memintanya. Ternyata mereka sangat giat dari yang kami pikir.

“Mbak belajarnya setiap hari saja ya? Dari siang sampek mualem….” Kata Via lagi.

Ternyata hal yang simpel seperti ini, belajar bersama, bisa menjadi sesuatu yang anak-anak sangat harapkan. Dan ternyata sesuatu yang kadang kita anggap terlalu sederhana merupakan langkah penting bagi orang lain. Oleh karena itu kita tidak boleh putus semangat untuk melakukan perbuatan yang menurut kita baik kepada orang lain, meski dimulai dari hal paling sederhana sekalipun.

Salam Prestasi!

For More Information :

Twitter : @mudaprestasi

Facebook : Muda Prestasi (Young Leaders Indonesia)

Unlike

 
 

Tags: , , , ,

Karantina Finalis PPAN Jabar 2012


Karantina Finalis PPAN Jabar 2012

(Cerita ini ditulis oleh salah satu finalis, Puji Maharani)

Hari ini, sepekan yang lalu, saya dipulangkan ke realita: menjadi sarjana segar yang kesibukannya “cuma” mengurus surat-surat kelulusan dan persiapan wisuda bulan depan. Sebelumnya, selama tiga hari, saya bersenang-senang bersama lima puluh satu teman baru dari seantero Jawa Barat, yang prestasinya mengintimidasi namun kepribadiannya menginspirasi.

Kami dikumpulkan di The Cipaku Garden Hotel dalam rangka Seleksi Tahap III Pertukaran Pemuda Antarnegara 2012. Dengan perjuangan lumayan untuk menempuh jalanan yang naik-turun untuk mencapai lokasi, mungkin ini alasannya hotel tersebut dijadikan tempat karantina. Tapi, toh perjalanan lima puluh dua orang peserta Seleksi ini jauh lebih berliku. Kami melewati seleksi administrasi di tahap pertama, bersaing dengan sekitar 600 pendaftar lainnya. Lolos dari sana, 132 orang dinyatakan layak mengikuti seleksi tahap kedua di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Bandung, untuk kemudian disaring lagi menjadi 52. Saat pertama kali menjejakkan kaki di hotel, saya masih dirundung rasa tidak percaya bahwa saya sudah tiba di lokasi, mengenakan setelan rok-kemeja-scarf dan rambut dicepol, menenteng koper, siap menjadi peserta karantina. I mean, me, of all people? Really?

Yes, apparently. Siang itu juga, saya dan 51 peserta Seleksi lainnya disambut dengan sebuah maraton: tes tertulis dan tiga Focus Group Discussion (FGD). Rencananya, dari hasil seleksi tersebut, akan dipilih dua puluh orang untuk mengikuti tes wawancara dan kesenian di hari berikutnya. Belum juga hari itu berujung, saya sudah optimis tidak akan lolos. Lima belas menit diskusi plus tiga menit presentasi, dikalikan tiga, dengan sekitar delapan orang dalam satu kelompok, tak saya rasa cukup untuk tampil all-out, dan kemudian dianggap layak menjadi satu dari dua puluh besar. Saya dilanda perasaan yang sama seperti sehabis tes presentasi pada seleksi tahap kedua: I believed that I worth more than three minutes, yet three minutes was all I’ve got. Ya sudahlah, yang penting di sana saya bisa makan kenyang, tidur nyaman, dan dikelilingi teman-teman. Daripada bersusah hati memikirkan minimnya kesempatan ikut seleksi di hari kedua, meskipun sebenarnya berharap bisa ikut tes wawancara, lebih baik saya menikmati waktu yang tersisa dengan bersenang-senang (dan menikmatifree flow kue surabi yang enak waktu sarapan).

Ternyata, Tuhan memang sang Maha Pemberi Kejutan. Esok paginya, panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta dinyatakan akan mengikuti seleksi hari kedua, yang meliputi kesenian dan tiga pos wawancara. Efek sampingnya, tahapan seleksi ini menghabiskan waktu sungguh-sungguh sehari penuh, dan baru rampung sekitar pukul 22.00. Seolah belum cukup, para peserta yang energinya sudah terkuras ini sempat-sempatnya digiring ke restoran hotel untuk “pengarahan” selama satu jam dari pihak penyelenggara, yang anehnya melibatkan seorang biduan dan organ tunggal. Padahal, rencananya, malam itu para peserta harus memersiapkan dan menampilkan batch performance. Penampilan kesenian dari 52 orang peserta Seleksi pun terpaksa ditunda hingga esok pagi, namun toh kami bertahan di ruangan Wijayakusuma hingga tengah malam, menyusun rencana.

Meski lelah luar biasa, saya sangat puas karena hari itu akhirnya saya berkesempatan unjuk kabisa secara individual, setelah sehari sebelumnya menjadi bagian dari kelompok-kelompok. Maka, ketika hari terakhir karantina tiba, yang saya pikirkan hanya sarapan kue surabi dan latihan untuk batch performance. Oh, juga kompensasi finansial untuk “pengganti biaya transportasi” yang konon akan diberikan, yang saya pikir layak didapat terutama oleh teman-teman dari luar kota.

Singkat cerita: pagi itu saya sarapan kue surabi, dengan saus gula merah dan santan kental. Nyam. Lalu saya dan teman-teman peserta Seleksi turun ke ruangan Wijayakusuma untuk latihan flash mobsebagai batch performance kami, angkatan 2012. Flash mob ini terdiri atas drama yang menggambarkan proses Seleksi selama tiga hari ke belakang dan tiga tarian singkat berlatarkan tiga jenis musik yang berbeda. Sejak saat itu, Sik Asik-nya Ayu Ting Ting (yang hampir tiap hari ada di televisi dan jadi jingle iklan) membuat saya teringat sebuah rangkaian koreografi dan berharap bisa menarikannya lagi bersama lima puluh satu orang teman baru saya. Pun, We Found Love dari Rihanna membuat saya tidak lagi terpikirkan sebuah tempat tanpa harapan, karena justru berawal dari karantina inilah kesempatan-kesempatan baru, saya yakin, akan datang. Menemukan cinta, mungkin? Siapa yang tahu? 😀

 Rampungnya batch performance kami dihujani riuh sorakan dari kakak-kakak alumni Purna Caraka Muda Indonesia Jawa Barat, “G-OO-D J-O-B, good job, good job!” yang menghangatkan hati, sebelum kembali dag-dig-dug lagi menunggu pengumuman hasil Seleksi.

Acara pun resmi dimulai. Sambutan. Sambutan lagi. Kapan pengumumannya, sih?

Satu-persatu nama disebut; berturut-turut untuk program pertukaran pemuda ke Malaysia, Australia, Kanada, dan terakhir ASEAN-Jepang. Tahun ini nama saya belum dapat giliran. Tak apa, karena saya percaya lima orang (tiga laki-laki, dua perempuan) yang telah ditahbiskan menjadi perwakilan Jawa Barat adalah mereka yang diyakini panitia sebagai individu-individu yang paling cocok untuk program-program tersebut.

Bohong besar kalau saya bilang saya tidak kecewa, tapi toh saya paham ini bukan soal kalah-menang. Menjadi salah satu dari lima puluh dua, yang mampu menyisihkan sekitar enam ratus pemuda Jawa Barat, sudah merupakan sebuah bukti bahwa setiap dari kami memiliki kualifikasi yang tak bisa dipandang remeh. Bisa disandingkan dengan mereka merupakan kesempatan yang belum pernah datang dalam hidup saya. Lewat mereka, saya tidak hanya berkesempatan mengenal orang-orang baru, saya juga menyadari bahwa Seleksi ini membuat saya lebih mengenal diri sendiri – ternyata persistensi dan determinasi mampu menggerakkan saya untuk belajar menari. Menyadari fakta ini, kekecewaan saya seketika disergap dan dikalahkan rasa bangga.

Pada titik ini, saya kembali teringat kata-kata Julie Andrews ketika berperan sebagai Maria dalam The Sound of Music“When God closes a door, somewhere He opens a window”. Ya, dan tidak, pikir saya. Tidak mungkin hanya satu jendela – pasti banyak! Dan mungkin tidak hanya jendela, namun pintu juga. Maka, ketika diminta mengungkapkan kesan-kesan pascakarantina, itulah yang saya katakan. Mungkin, saat itu saya hanya sedang berupaya menghibur diri sendiri ketika dihadapkan dengan pintu yang tertutup di depan mata. Tapi, ketika saya sebenarnya bisa berbalik dan mencari jendela (-jendela, dan boleh jadi juga pintu-pintu) yang terbuka, dan saya yakin teman-teman yang lain juga bisa melakukannya, mengapa tidak?

Satu pekan sudah berlalu, dan saya masih senang mengenang. Grup “Finalis Pertukaran Pemuda Antar Negara 2012, Provinsi Jawa Barat”, dengan lengkap lima puluh dua dari kami sebagai anggota, sungguh aktif bertukar sapa dan kabar, termasuk di antaranya info program-program kepemudaan dan rencana reunian.

Ah, teman-teman, bahagianya bisa menjadi bagian dari kalian!

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Jajaka Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Mojang PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Finalis PPAN Jabar 2012

Notes’ Puji Maharani

 
2 Comments

Posted by on April 19, 2012 in Artikel, Kutipan, Motivasi, pengalaman

 

Tags:

Reactive Person


Beberapa hari yang lalu saya sedang mengikuti sebuah rapat. Di rapat tersebut muncul banyak ide yang ditampung kepanitiaan. Tapi yang menarik adalah sisi reaktif dari beberapa orang. Ya, reaktif. Reaktif sendiri menurut saya adalah tindakan yang cenderung atau segera bereaksi terhadap sesuatu yang muncul. Ide-ide yang muncul ditanggapi dengan reaktif, yang menurut hemat saya tidak baik.

Sangat disayangkan, apabila orang muda merupakan orang yang reaktif. Meminjam istilah “survivor” (orang yang melakukan survival), dikenal istilah S-T-O-P. Istilah tersebut digunakan apabila sang survivor tersesat. S-T-O-P juga dapat kita gunakan agar kita tidak menjadi orang yang reaktif terhadap sesuatu/ide yang muncul.

S – Seating : Ketika mendapatkan ide/masukan/pendapat orang, kira berhenti dan sejenak menarik nafas. Hilangkan kepanikan ketika banyak ide/masukan/pendapat yang masuk.

T- Thinking : Setelah itu kita fikir ide/masukan/pendapat tersebut secara baik dan logis. Berfikir tetap tenang dalam situasi yang dihadapi.

O- Observation : Setelah berfikir, liat situasi, kondisi, dan keadaan sekitar. Lalu tentukan arah yang sesuai dengan ide yang kita terima.

P- Planning : Setelah melihat keadaan sekitar, buat rencana dan perhitungkan konsekuensi yang muncul akibat rencana tersebut.

Menjadi orang yang reaktif mungkin baik, karena hal tersebut berarti kita dapat mencerna ide dan masukan dengan baik tapi dengan cara yang kurang tepat. Kita tidak memperhitungkan konsekuensi dengan memerhatikan keadaan dan situasi sekitar. Ada baiknya kita menggunakan pemetaan S-T-O-P ketika mendapat banyak ide/masukan/pendapat hingga ketika menghadapi situasi yang sulit.

Semoga bermanfaat..
🙂

 

Tags: , , , , , , ,

Experiential Learning


Tell me and I will forget, Show me and I may remember, Involve me and I will understand…

Setelah sekian lama tidak update blog, akhirnya kesampaian dan timbul rasa ingin menulis.. 🙂 #fiuuhhh

Topik pembahasan di post hari ini adalah salah satu metode pembelajaran yang saya dapat ketika mengikuti kegiatan-kegiatan outing/outdoor activities ataupun outbound, yaitu “Experiential Learning (EL)”…
Seperti yang pernah saya tulis di  https://catatanrodes.wordpress.com/2010/01/15/orang-sanguinis-vs-accounting/ dan beberapa posting yang lain, di bidang akademis memang saya berada di jurusan akuntansi, tapi minat dan passion saya tidak berada di sana. Aneh? Di dunia zaman sekarang memang kerap kali terjadi hal seperti itu. “Tak ada sesuatu yang percuma” Itu lah yang dapat saya tanamkan dalam fikiran. Memang akuntansi tidak cocok dengan kepribadian saya, tapi ilmu-ilmu di sana tetap saja dapat berguna bagi saya. 🙂

Lalu, apa passion dan minat saya? Saya tertarik dengan bidang outing/outdoor activities/outbound! Kegiatan-kegiatan tersebut memang jelas sekali berbeda dengan akuntansi. Di kegiatan-kegiatan tersebut saya mendapat tantangan yang lebih, saya dapat berjumpa dengan banyak orang, dan yang terlebih metode pembelajaran EL yang menurut saya merupakan salah satu metode pembelajaran yang terbaik. Di postingan ini saya akan mencoba mendeskripsikan EL berdasar pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat. Mungkin akan banyak hal yang bisa didapat dengan mengetik Experiential Learning di “mbah google”, tapi ini lah sedikit yang ingin saya bagikan.. 🙂

Apa itu Experiential Learning?  Experiential Learning adalah salah satu metode pembelajaran dimana kita “diuji” terlebih dahulu barulah “belajar”. Dengan kata lain kita mengambil pengalaman sebagai pembelajarannya. Dengan harapan dari pengalaman tersebut kita dapat memperbaiki kesalahan, tidak mengulangi kesalahan yang sama, dapat mencari solusi terbaik dalam masalah, dan masih banyak lagi. Metode EL berbanding terbalik dengan metode pembelajaran yang kita dapat di bidang akademis (sekolah). Kalau di sekolah/kampus, kita belajar terlebih dahulu baru kita mengikuti ujian. Berbeda dengan EL. Di EL, kita mengikuti ujian terlebih dahulu lalu kita belajar.

Pernah dengar pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik”? Saya rasa itu merupakan salah satu gambaran dari EL itu sendiri. Kita dihadapkan pada problem/masalah terlebih dahulu. Kita diuji, mencari solusi dari masalah tersebut. Jika gagal? Ya, itulah letak EL berada. Ketika kita salah, kita berhenti sejenak lalu berfikir agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sebagai contoh, akan saya ambil pada kegiatan-kegiatan outdoor activities seperti halnya “pelatihan team building”. Kenapa? Karena penerapan EL ini sangat cocok dengan kegiatan-kegiatan outdoor seperti itu.
Di kegiatan training/pelatihan seperti team building, kelompok akan dihadapkan pada tantangan-tantangan berupa simulasi. Di sana lah kita dapat melihat EL. Kelompok akan mencoba menyelesaikan tantangan tersebut dengan target waktu tertentu. Ketika target waktu lewat dan kelompok belum berhasil, maka tiap-tiap anggota dari kelompok tersebut haruslah melakukan review mengenai cara/strategi mereka dalam menyelesaikan tantangan simulasi tersebut. Terlihat jelas bukan EL nya? Mereka akan belajar dari pengalaman tersebut dan ketika melakukan tantangan tersebut kembali, diharapakan mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan yang terpenting lagi, nilai pembelajaran dari pengalaman tersebut haruslah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kelompok tersebut. 🙂

Bicara mengenai tantangan, ada 3 jenis tantangan yang ada di kegiatan-kegiatan outdoor dan merupakan tantangan yang tak lepas dari EL ini. Yang pertama adalah tantangan dari diri sendiri dan orang lain. Apa itu? Ada orang yang takut akan ketinggian,kegelapan, ataupun fobia-fobia yang lain. Itu merupakan tantangan yang datang dari diri sendiri. Biar bagaimanapun tantangan dari diri sendiri ini harus ditekan agar kemampuan yang terbaik dari orang tersebut dapat keluar dan tentu akan berguna bagi kelompok maupun tim. Tentu dapat dideskripsikan sendiri kan tantangan dari orang lain? 😉

Yang kedua adalah tantangan berupa simulasi/games. Tantangan inilah yang akan melibatkan kelompok/tim. Kelompok/tim dihadapkan pada tantangan yang berupa simulasi/games. Mereka bertugas untuk menyelesaikannya sesuai instruksi dengan kemampuan terbaik mereka. Tentu saja apabila belum berhasil, maka metode yang dipake seperti yang telah saya jelaskan di atas.

Yang ketiga adalah tantangan yang tak bisa diprediksi. Apa itu? Tantangan yang tak bisa diprediksi merupakan tantangan yang berasal dari alam. Tentu kita tak dapat menebak dengan pasti kapan hujan, tanah longsor, dan kejadian-kejadian alam lainnya bukan? 😉

Semoga bermanfaat.. 🙂

 Let the experiences speak by their self, tell story, and reflection.. #ExperientialLearning

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

3P in My Life


Setelah hampir 1 bulan gak nyentuh blog, akhirnya ada waktu juga untuk update blog.. Apalagi di November ini, blog saya akan menyentuh umur ke 2 loh.. 😀

Pada postingan kali ini, saya akan bercerita mengenai “3p in My Life”. 3P ini adalah elemen-elemen yang membentuk karakter seorang waldo, 3P ini juga yang membuat saya belajat banyak mengenai hidup. Banyak ilmu yang saya dapat dari 3P ini. Bisa dibilang, didikan saya ya adalah 3P ini. Apa saja 3P itu? 😉

1. Parents (Orang Tua)
Tentu jelas mengapa “P” yang pertama adalah Orang tua. Merekalah yang mendidik saya dari sejak lahir hingga sekarang. Kasih sayang tulus menjadi senjata mereka dalam mendidik anak-anaknya. Saya rasa tidak perlu banyak penjelasan mengenai “P” yang pertama ini.. 🙂

2. PASKA (Persatuan Siswa/i Katolik tingkat SMA se-Bekasi)
Seperti postingan saya sebelumnya di https://catatanrodes.wordpress.com/2011/08/04/paska-bekasi-sahabat-layaknya-keluarga/, saya merasa PASKA adalah salah satu elemen yang membentuk diri saya hingga saat ini. Bagi yang sudah baca postingan saya tentang PASKA, pasti sudah tahu betapa berharganya mereka bagi saya. Pengalaman suka duka, sedih dan tertawa hingga pengalaman-pengalaman susah dalam mencari dana membuat saya menyertakan mereka di “P” yang kedua. 🙂

3. Pramuka
Yap, inilah “P” ketiga saya! PRAMUKA! Dari SD hingga di bangku kuliah sekarang ini, saya tak terlepas dari Pramuka. Pendidikan karakter serta jaringan pertemanan yang luar biasa yang dibangun di Pramuka membuat saya telah jatuh cinta pada gerakan ini.
Saya pun pernah menulis postingan mengenai Pramuka di https://catatanrodes.wordpress.com/2011/08/19/50-tahun-gerakan-pramuka-di-indonesia/

Semoga suatu saat nanti, saya dapat berbalas budi pada ketiga “P” tersebut…
0:)

 

 

 
 

Tags: , , , ,