RSS

Monthly Archives: November 2009

Di Balik Kisah Seorang Ayah


ini re-post dari notes temen gw di facebook yg kata’a dy sndiri re-post dari kaskus..

di balik kisah seorang “papa” gan !!

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja….

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama….

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’)

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa”

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa….

Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu”.

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu…..

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia….

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa….

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik….

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik….

Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk…

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih….

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya….

Papa telah menyelesaikan tugasnya….

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita…

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

HIDUP PAPA,AYAH,BAPAK!!

 
Leave a comment

Posted by on November 22, 2009 in Artikel, kasih sayang, Kutipan

 

Tags: ,

Rodes 8 – Final


PENGHARAPAN

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Ani, aku memutuskan pulang. Aku ingin agar Ani lebih menenangkan dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, pandanganku seolah kosong. Udara cerah, awan-awan putih, ditambah hijaunya alam seolah tak menjadi perhatianku. Terus saja kulangkahkan kakiku menuju rumah. Cerita Ani terus membekas di pikirankku. Aku terus berfikir siapakah yang dapat membantu Ira agar dapat kembali ceria dan bersemangat kembali. Tiba-tiba terlintas suatu nama di pikiranku. “Ah, akan kuceritakan pada ibu, siapa tau dia bisa membantu, paling tidak sedikit” seruku dalam hati.

Sesampaiku di rumah, ku buka gerbang rumahku. Kupandangi sekitar rumahku. Sepi. Sepertinya tak ada orang di rumah. Tapi, mengapa pintu gerbang tak dikunci? Apakah ada sesuatu terjadi di rumah? Ibu? Kemana dia? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi pada ibu. Ah, jangan sampai. Kusingkirkan pikiran negatifku.

Ku hela nafasku ketika mendapati ibuku masih sehat walafiat di ruang keluarga sedang menonton tv. “Bu, kenapa pintu pagar tak dikunci? Aku kirain ada apa-apa dengan ibu”tegurku pada ibuku.

“Kamu kan gak bawa kunci pagar, jadi pagar gak ibu kunci. Ibu tadi lagi masak, ntar kalo kamu ketuk-ketuk pagar, masakan ibu terganggu, lagian dari sini keliatan kok siapa yang masuk-keluar rumah.”jelas ibuku.

“Oh, begitu”seruku dalam hati. “Bu, nanti ada yang mau aku ceritakan”ucapku pada ibu.

Setelah mengganti baju aku bergegas menuju ibuku di ruang keluarga. Ku ceritakan apa yang Ani ceritakan kepadaku. Tak sama persis, tapi paling tidak garis besarnya sama. Tak ada yang terlalu ku lebih-lebihkan atau kukurang-kurangkan.

“Kasian sekali temanmu itu. Mungkin ayah punya kenalan dokter yang bagus di daerah sini. Nanti kalau ayah sudah pulang baru kita ceritakan” solusi ibuku.

“Ah, memeangnya ayah mau membantu? tanyaku pesimis. Memang aku kerap kali tidak percaya dengan ayahku. Aku menganggapnya hanya peduli pada pekerjaannya, pada ibu, dan pada ambisinya menjadikan diriku seorang dokter.

“Kamu harus percaya dengan ayahmu itu, pasti dia mau membantu. Eh, ngomong-ngomong kenapa kamu mau sekali membantu temanmu itu? tanya ibuku.

“Dia kan temanku, kasian kalau tidak dibantu, hitung-hitung nambah amal. Hehehe..”jawabku sekenanya.

“Ah, bohong. Mukamu merah tuh” goda ibuku.

“Ah, perasaan ibu doang tuh”belaku. “Ya udah ya, aku mau ke kamar dulu”. Segera kuambil langkah seribu untuk masuk kamarku. Ku akui tadi aku sedikit gugup dan malu ketika menghadapi pertanyaan ibu tadi.

Di dalam kamar kurebahkan diriku. Ku ambli nafas panjang untuk menghilangkan kegrogianku. Kupenjamkan mataku berharap akan didatangi bunga tidur yang indah pada siang ini.

Di tempat lain (Rumah Ani dan Ira)

Ani dan Ira sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan. Dan ternyata yang dibicarakan adalah mengenai Rodes.

“Ira, kamu beruntung orang sebaik Rodes mau memperhatikanmu. Seharusnya kamu mulai membuka diri untuk orang. Beranilah bersosialisasilah lagi. Kamu pasti bisa. Kalau kamu Cuma berani ngobrol ama kakak gimana kamu mau maju, walaupun kamu masih sedikit gagap, kakak yakin, kamu pasti bisa!” ucap Ani memulai pembicaraan.

Iya, walaupun bisa diajak ngobrol dengan sang kakak, Ira belum dapat bicara layaknya orang biasa. Bad Memory yang membuatnya menjadi seperti itu.

“I..i..ya..ya ju.ga.ga sih ka. Ta..ta..pi a..aku ma..masih be..be..lum be..be..ra..ni..ni.. A..a..pa ka..ka..kak su..su..dah mence..ce..rita..ta..kan ke..ke..jadi..di..an ke..ke..luarga ki..kita pada Ro..rodes? tanya Ira.

“Iya, sudah. Dia sudah mengetahui semuanya” jawab Ani santai. “Semoga saja dia bisa membantu kamu keluar dari masalahmu ini,”lanjut Ani.

Nampaknya Ira tak mau melanjutkan pembicaraan yang baru saja dimulai kakaknya. Ia langsung menuju kamarnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya yang membuatnya semakin tambah cantik, ia terus menggambar wajah Rodes di fikirannya. Semoga apa yang dikatakan kakaknya betul. Semoga Rodes bisa membantunya untuk keluar dari masalah yang dihadapinya, terlebih karena sebenarnya dia memang sudah ingin menjadi layaknya wanita normal.

PERTOLONGAN AYAH

Pukul 7 malam aku terbangun dari tidurku. Segera aku keluar dari kamarku dan bergegas menuju ruang keluarga. Aku menemui ibu dan ayah sedang mengobrol. “Des, sini. Ada yang mau ayah omongin”,ajak ayahku untuk menemaninya bicara.

“Ayah sudah dengar mengenai temanmu itu. Ayah punya kenalan dokter di Jakarta. Dia termasuk spesialis untuk mengobati penyakit yang seperti temanmu sedang derita itu,”ucap ayahku mempromosikan temannya yang dokter itu.

“Tapi, bagaimana dengan biayanya? Dia dan kakaknya hanyalah orang miskin”,tanyaku pada ayah.

“Biar ayah dan ibu yang membantu dia. Segera suruh dia untuk bersiap-siap agar secepatnya ia bisa terbang ke Jakarta untuk berobat”seru ayahku memberi solusi.

Esok harinya aku bertemu dengan Ani dan kuceritakan mengenai solusi yang diberikan ayahku. Ia sangat bergembira. Kamipun sepakat untuk bertemu dengan Ira hari ini juga agar ia tahu berita baik ini. Dengan cepat Ani menceritakan pada Ira, Nampak raut muka bahagia dari muka Ira. Sepertinya ia menemukan secercah harapan untuk bangkit kembali.

“Secepatnya kamu akan terbang ke Jakarta, bahkan kalau bisa besok!”ucap Ani pada Ira.

“Ti..ti..dak.. Aku..ma..mau..na..naik..ka..ka..kapal”sanggah Ira.

“Kapal? Kamu enggak mau naik pesawat?”Tanya Ani

“A..aku..mau..ka..kapal..,kak.. Pe,.pe..ra..saanku..tak..enak..ka..ka..lau naik..pe..sa..sa..wat”jawab Ira.

Ani pun menceritakann hasil pembicaraannya dengan Ira padaku. Sebenarnya aku sedikit kaget. Tapi, tak apalah, toh ujung-ujungnya tetap ke Jakarta, lagi pula ia memberi alasan bahwa perasaannya tak enak kalau naik pesawat. Ani pun sepakat agar besok Ira bisa segera berangkat ke Jakarta.

SAKSI BISU

Hari yang ditunggu tiba. Aku dan keluargaku mengantar Ani dan Ira ke pelabuhan. Ya, Ani akan menemani Ira ke Jakarta. Dengan berbekal alamat yang diberitahu ayah serta akan ada orang menjemput mereka di pelabuhan, mereka pun dengan langkah mantap menatap kapal yang akan membawa mereka ke Jakarta. Menjelang pintu masuk kapal, Ira memberiku sebuah buku kecil yang melalui Ani, ia perintahkan padaku agar tak membukanya sampai mereka datang kembali. Dengan siap kuterima buku itu dan ku lambaikan tanganku ke mereka berdua. Tampak sekali kegembiraan dari raut muka Ani dan Ira. Aku juga. Aku berharap agar Ira lekas sembuh dan dapat langsung dapat berbicara langsung denganku.

Setelah mengantar mereka, kami sekeluarga pulang. Menurut ayahku kurang lebih 3 hari mereka akan sampai ke Jakarta. Sesampai di rumah, kurebahkan badanku dan segera kututup mataku, berharap besok akan ada tanda indah dari sang pencipta. Ya, akan kutunggu kabar mereka 3 hari ke depan.

Esok harinya, di ruang keluarga aku menonton Tv. Tiba-tiba ada rasa penasaran yang membuatku ingin membuka buku yang diberi Ira. Ketika ingin membuka buku dari Ira, muncul berita dari Tv yang menyatakan bahwa kapal yang sedang menuju ke Jakarta mengalami bocor pada lambung kapal dan tenggelam pada dinihari saat para penumpang sedang terlelap. Segera kuamati berita tersebut. Muncullah daftar-daftar korban. Ya, nama Ani dan Ira dan ada di situ! Seketika duniaku seperti hancur. Mengapa tidak? Setelah ada titik harapan untuk bangkit, harapan itu seolah hancur dengan mudah sesuai keinginan sang pencipta, bukan keinginan manusia yang merupakan ciptaan-Nya.

Air mataku menetes. Usahaku untuk menyembuhkan Ira seolah sia-sia. Tak ada yang tersisa. Terlebih dari berita diberitahukan bahwa dipastikan semua korban meninggal dunia. Ah! Tambah remuk badanku. Kenapa ini Tuhan? Sempat ku protes sang pencipta terhadap kenyataan yang tak bisa kuterima ini.

Tiba-tiba kulihat buku Ira yang tergeletak disampingku. Nampaknya itu merupakan diarynya. Walaupun tak bisa bicara dengan jelas, nampaknya ia sangat fasih dalam menulis. Terbuka satu halaman terakhir yang kubaca.

Pintaku

Disinilah aku duduk terpatung

Di tepi pantai yang indah di saat sang mentari akan berganti peran dengan sang rembulan

Tempat di mana aku kehilangan kebahagiaan

Tempat di mana keceriaanku terenggut oleh memori

Ingin ku kembali ke masa itu

Masa di mana kebahagiaan tercipta

Walaupun itu tak mungkin

Izinkanku menyusul kebahagiaanku dengan cara yang sama..

Ira Latha

Tambah deraslah air mataku terjatuh. Ya, keinginan Ira untuk naik kapal tak lain dan tak bukan merupakan keinginannya untuk menyusul kebahagiaannya yaitu ayah dan ibunya. Kebahagiaan yang hilang di tengah ombak. Dan takdir seolah menegaskan bahwa dengan cara yang sama Ira dan Ani dapat menemui kebahagiaan mereka di alam yang lain..

 
Leave a comment

Posted by on November 10, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Menjadi Penulis Sejati


Menjadi Penulis Sejati

bersama: Seno Gumira Ajidarma

1. Langkah pertama untuk menjadi seorang penulis adalah memiliki sebuah ide.
2. Adanya sebuah ide yang hendak disampaikan ini penting sekali bagi seorang penulis, karena, jika seseorang itu tidak memiliki ide, maka sebaiknya jangan menjadi penulis.
3. Ide tersebut harus sudah matang.
4. Jika seseorang bercita-cita menjadi penulis, tapi lingkup sosialnya menghalangi, misalnya mengatakan bahwa tulisannya jelek atau dia tidak punya bakat menjadi seorang penulis, maka janganlah putus asa! Bakat, dalam hal ini, bukan yang paling penting, karena yang terpenting adalah,”Menulislah terus, kalau perlu, sampai mampus!”
5. Jangan pula putus asa jika setelah menulis tiada henti tapi tulisannya masih dibilang kurang bagus, karena, dari seribu tulisan yang dihasilkan, pastilah salah satunya ada yang bagus.
6. Jangan lupa juga bahwa bagus tidaknya tulisan seseorang bukan dinilai oleh orang lain melainkan oleh dirinya sendiri. Asalkan seseorang itu, dengan kemampuannya sendiri, telah mencurahkan seluruh inderanya, kemampuan terbaiknya, untuk menghasilkan sebuah tulisan, maka itu adalah tulisan yang baik dan bagus.
7. Jika tulisan yang sudah baik dan bagus itu ternyata tidak juga berhasil dimuat oleh media massa, misalnya tidak dimuat oleh Kompas, tidak perlu berkecil hati karena itu namanya merendahkan diri sendiri. Kita, sebagai penulis, tidak perlu memakai yang umum sebagai ukuran.
8. Niat untuk menjadi seorang penulis harus dibedakan dengan niat seseorang untuk mencari nafkah dengan menulis. Jika niatnya menjadi seorang penulis lebih kepada keinginan untuk mencari nafkah, ya mau tidak mau harus berpikir secara praktis, dan mencari tahu, mempelajari tulisan macam apa yang dibeli orang.
9. Kunci terpentingnya adalah dengan banyak membaca.
10. Karena good writing comes from good reading. Jadi, adalah omong kosong jika ada seseorang yang ingin menjadi penulis tapi tidak suka membaca.

http://sukab.wordpress.com/2009/06/24/menjadi-penulis-sejati/

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2009 in Artikel, komunikasi, Kutipan

 

Tags: ,

Bunda


Lagu yg gag sengaja terbuat untuk My Mom and every Mom..

BUNDA

Saat ku dengar.. Panggilan Bunda.. Kan ku penuhi.. Dan aku sanggupi..

Walaupun terkadang.. Engkau ku acuhkan.. Namun engkaulah.. Penerang jiwaku..

*Maafkan.. Bila ku tak menghormatimu..

Maafkan.. Bila aku sering membangkang..

Maafkan.. Bila ku tak menghargaimu..

Aku tak bermaksud melukaimu..

**Trima kasih aku ucapkan.. Kepada Bundaku tersayang..

Tak kan pernah.. Engkau ku lupakan..

Oo.. Bundaku..

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2009 in kasih sayang, Lirik

 

Tags: ,

Rodes 7-Flashback


FLASHBACK

Kucoba mendekati orang-orang kantin satu-per-satu. Tapi, hasil yang kudapati masih nihil. Gelagat-gelagatku yang menanyai orang-orang kantin nampaknya tercium oleh Ani. Ia melihat ke arahku. Tatapan mata yang tajam, tak seperti biasanya ia seperti itu, seolah-olah ingin menerkamku. Dan dengan perlahan ia berjalan mendekatiku.

“Des, mari kuceritakan mengenai adikku” tegur Ani yang sepertinya tak seseram yang kukira.

“Nama adikku Ira Latha. Mungkin kamu agak bingung kenapa ia seolah tak menanggapi dirimu ketika kau mengajaknya berbicara di pantai beberapa waktu lalu” ujar Ani yang mulai menceritakan tentang Ira.

“Darimana kamu tahu kalau aku mengajaknya berbicara di pantai?”tanyaku heran pada Ani.

“Aku berada di pantai ketika itu, dan aku menyaksikan bagaimana usahamu mengajak adikku berbicara, walaupun itu tak mungkin” ucap Ani yang mulai terlihat sesegukan. Nampaknya ada sebuah memori buruk yang tersimpan cukup lama, dan jika memori itu terbuka kembali akan memancing kesedihan yang begitu mendalam bagi Ani.

“Kamu.. Matamu.. Kamu menangis.. Memang ada apa sebenarnya pada Ani?”tanyaku pada Ani.

“Iya, ini semua bermula pada 10 tahun lalu…”Ani mulai bercerita. “10 tahun lalu, kami hidup lengkap. Ada sosok seorang Ayah yang kuat, yang tak kenal lelah untuk menfkahi keluarganya. Sosok seorang lelaki yang patut dikagumui. Ia sangat menyanyangi kami. Ada sosok seorang ibu. Wanita hebat yang tercipta sempurna bagi kami. Sosok wanita yang tak pernah membiarka ayah bekerja sendiri. Ia selalu mencari celah bagaimana caranya untuk membantu ayah menafkahi keluarga. Ya, kami terbentuk sebagai keluarga sederhana, sehingga tak cukup untuk mengandalkan pekerjaan ayah kami yang merupakan seorang nelayan, sehingga ibuku pun bekerja sebagai penjual kue keliling untuk dapat menambah pemasukan keluarga kami.”tutur ani panjang lebar.

“Lalu?”tanyaku penasaran.

“Pada suatu waktu, ayah mengajak kami sekeluarga untuk pergi melaut. Ia mengatakan bahwa udara sedang bersahabat. Tak ada angin kencang, sehingga kami sekeluarga dapat menikmati pemandangan laut dengan tenang. Ayah mengajak temannya untuk menemani kami melaut. Akan tetapi, sepertinya perkiraan ayah salah. Ya, karena di tengah perjalanan tiba-tiba angin menjadi kencang. Air laut seolah berontak. Tak ada tanda kedamaian bagi kami sekeluarga ketika berada di atas perahu. Semua seolah mau kiamat.”Ucap Ani yang tiba-tiba berhenti bercerita dan terlihat menangis.

Kuambil tissue di tasku dan berinisiatif mengusap muka Ani yang penuh dengan air mata kesedihan yang seharusnya tak ia ceritakan padaku.

“Jika memang terlalu sedih, tak perlu dilanjutkan”saranku pada Ani.

“Tak apa, cerita ini memang harus kubagikan padamu”lanjut Ani. Ketika sedang terombang ambing ditengah laut, ayah dan temannya terlihat berdiskusi bagaimana menyelamatkan kami sekeluarga. Ketika ia menemukan cara bagaimana menyelamatkan kami, ia salaman dengan temannya dan terlihat gembira karena berhasil menemukan suatu solusi. Tapi, sepertinya semua terlambat. Ombak tinggi menerjang perahu kami. Aku yang kaget segera berlindung di balik jubah ibuku. Dan setelah itu sebuah kejadian penting dalam hidupku terjadi. Aku, ibuku, dan Ira melihat bagaimana kepala ayahku berbenturan dengan ujung perahu. Dan darah segar terlihat keluar dari kepalanya.

“Ibuku menangis, Ira pun hanya tertegun. Tapi, itu hanya sesaat, karena setelah itu perahu kami terbalik, dan kami pun seolah bersatu dengan laut lepas. Ayah kami terlihat mengapung di laut lepas. Dan tak lama kemudian datang perahu yang lebih besar datang menyelamatkan kami.”lanjut Ani.

“Nelayan yang berada di atas perahu besar itu mengatakan bahwa ketika mereka sedang melaut mereka melihat tiba-tiba arah angin berubah dan mereka memutuskan untuk kembali ke darat. Dan ketika kembali, mereka melihat kami yang sedang terombang-ambing. Tapi, malang bagi kami karena mayat ayah kami terbawa arus laut entah kemana. Hingga kini tak ditemukan.”cerita Ani padaku sambil mengusap matanya denga tissue pemberianku.

“Lalu apa yang terjadi pada Ibumu dan Ira? Tanyaku.

“Ya, inilah pukulan bagi kami selanjutnya. Ibuku nampak tak terima dengan kematian ayahku. Ia stress. Ia menyalahkan dirinya terus. Ia merasa orang yang paling bersalah. Alhasil, ia kena struck. Ia tak bisa menggerakan tangannya, bibirnya pun tidak. Dan kau tahu? ia menutup usia 2 tahun yang lalu Itu sangat memukul diriku!! Belum ada suatu kebangaan yang kuberikan pada ibuku. Belum ada prestasi yang kuberikan untuknya. Belum ada suatu hasil dariku  yang dapat membuatnya bangga kalau aku ini adalah anaknya!!”

Dari cara bicaranya aku tahu, kalau seandainya kami berada di lapangan bola pasti dia sudah teriak sekencang-kencangnya. Aku dapat memahami perasaanya. Di saat belum memberikan sesuatu pada orang tua, justru orang tuanya harus dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Ah, ini sungguh menyesakkan! Bagaimana jika itu terjadi pada diriku? Aku belum dapat memberikan suatu kebanggan untuk kedua orangtuaku, justru aku sering melawan mereka. Tapi, dalam kondisi seperti ini aku harus harus bersikap bijak terhadap Ani.

“Buktikanlah jika kamu bisa berprestasi sekarang, orang tuamu pasti bangga di surga sana” ucapku menenangkan Ani. “Lantas, bagaimana dengan Ira?”lanjutku.

“Ya, setelah kepergian ibuku, ia down. Tak ada niat hidup dari dirinya. Ia sangat dekat dengan ibu. Ia memilih pantai sebagai tempat dimana ia dapat melihat dunia. Ketika melihat pantai, ia merasa melihat sosok ayah dan ibuku, katanya. Ia pun seperti mengasingkan diri. Tak mau bersosialisasi Alhasil, ia mengalami gangguan. Ya, ada gangguan mental terhadap dirinya. Dia tak dapat berbicara dengan orang-orang. Dia bisu. Bisu jika bertemu orang-orang asing. Dia hanya mau bercerita kepada orang-orang yang dekat dengannya. Mungkin kamu sudah dengar dari Anton kenapa adikku menolak banyak banyak cowo. Ya, karena ia tak mau membuka diri dengan orang asing.” Lanjut Ani.

“Tapi kau tahu kenapa aku menceritakan ini kepadamu?”Tanya Ani padaku.

“Tidak”jawabku. Kenapa?

“Ya, karena setelah kamu mengajaknya bebicara di tepi pantai beberapa waktu lalu, Ira menceritakan dirimu kepadaku. Ya, dia bercerita dengan penuh semangat. Seolah ia menemukan nafas hidupnya lagi.” Seru Ani.

“Ah, kamu bercanda?” kataku dengan tidak percaya.

“Tidak, ini enggak bercanda. Makanya aku menceritakan ini semua kepadamu. Pesanku tolong jaga semangat hidup Ira. Dia mulai bersemangat sekarang.” Lanjut Ani.

“Wah, tugas penting nih” kataku dengan nada canda.

“Ya, begitulah” lanjut Ani dengan nada tawa. Sepertinya ia telah melupakan kesedihan dari cerita flashbacknya. Ya, semoga saja…

to be continue

ewaldoapra

thx for reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 6-Perjuangan berlanjut


PERJUANGAN BERLANJUT

Setelah mengetahui nama wanita itu, aksi selanjutnya tentu mendekati kakaknya, ani untuk mengorek informasi lanjutan tentang adiknya.

Setelah samapai rumah dengan perasaan senang ku pandangi KTP wanita yang telah membuatku penasaran, Ira Latha. Terbayang-bayang indah mukanya, merah bibirnya dan tentu tak lupa rambut hitam panjangnya yang bagai mahkota menghiasi kepalanya, seolah menegaskan kalau ia adalah seorang wanita yang tak hanya cantik tapi juga manis.

Kurebahkan tubuhku di atas kasur empukku. Sambil senyum-senyum sendiri aku membayangi Ira. Ah, mungkin kalo ada orang yang melihatku aku akan disangka gila, tertawa-tertawa sendiri seolah ada yang sedang melawak. Bodo amat lah, pokoknya hari ini aku cukup senang.

Hari ke 2 kuliah akupun sangat bersemangat. Entah kenapa energi dalam tubuhku terlihat sangat positif beda dengan hari-hari biasa yang telah kulewati. Dengan perasaan riang gembira aku berjalan keluar rumah, mungkin orang tuaku sedikit bingung dengan sikapku hari itu.

Sesampaiku di kampus, aku bertemu Anton dan Ani. Sengaja kurahasiakan bahwa aku telah mengetahui identitas adik dari Ani, agar aku bisa dengan perlahan terus mengorek informasi dari Ani.

Entah kenapa kuliah hari ini terasa sangat lama. Aku ingin buru-buru keluar kelas dan menuju kantin, berharap Ira berada di sana. Nampaknya Anton melihat kegusaranku selama kuliah berlangsung.

“Eh, kamu kenapa?. Gusar sekali hari ini” Anton bertanya padaku ketika dosen menyuruh kami untuk mengerjakan 5 nomor tugas yang diberi langsung oleh sang dosen.

“Ah, tidak. Mungkin perasaanmu saja” elakku menghadapi pertanyaan Anton.

Nampaknya 5 soal kami tak cukup untuk dikerjakan hari ini, alhasil soal pun dilanjutkan dan dijadikan pekerjaan rumah untuk dikumpulkan di pertemuan selanjutnya. Ah, cukup lega hatiku. Di saat aku sedang tidak focus, manamungkin aku akan konsenterasi mengerjakan soal-soal yang “disajikan” dari sang dosen.

“Ke kantin yuk!”ajakku poada Anton dan Ani selepas kelas bubar. Nampaknya mereka tak ada yang curiga dengan ajakanku. Syukurlah.
“Ayo, kebetulan nih tadi belum sarapan” Anton mengiyakan ajakanku. “Des, kamu masih penasaran dengan adiknya Ani?” Anton melanjutkannya dengan pertanyaan yang diajukan terhadapku.

“Tentu saja” dengan muka yang kubuat-kubuat agar tak ketahuan kalau aku telah mengetahui identitas Ira dari KTPnya yang sekarang berada di tanganku.

“Kayaknya kamu perlu sedikit berjuang, ada rahasia penting yang harus ketahui tentang adiknya Ani”, Anton melanjutkan paparannya kepadaku mengenai diri Ira.

“Kenapa?”tanyaku penasaran.

“Mungkin kamu bisa Tanya pada orang-orang yang bekerja di kantin, siapa tahu mereka bisa memberi tahu, aku tidak bias memberi tahu karena sudah terlanjur janji dengan Ani” lanjut Anton.

“Oh,oke” jawabku.

Sesampainya kami di kantin, Ira langsung menemui kakaknya. Ditariknya tangan Ani menuju kearah pojok kantin. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Ira ke Ani. Tak lama, karena setelah itu Ani langsung bergabung bersama aku dan Anton.

Selesai makan, kucoba usul Anton untuk mencari informasi orang-orang kantin. Siapakah sebenarnya Ira?, apakah dia mahasiswa seangkatanku juga, tapi dia adik Ani, terus kenapa dia seolah-olah tak ingat padaku padahal aku pernah mengajaknya mengobrol ketika di pantai beberapa waktu lalu walaupun seperti tak ada tanggapan darinya.

Ya, nampaknya perjuanganku sepertinya masih panjang..

to be continue

ewaldoapra

thx  for reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags:

Rodes 5-Namanya..


NAMANYA…

Kupesan semangkuk mie goring untuk mengisi perutku. Dan kulihat Ani dan wanita itu terlihat cukup akrab. Sepertinya cukup banyak yang mereka perbincangkan. Bahkan sampai mie gorengku pun habis, mereka masih mengobrol.

“Daritadi kuperhatikan kamu sering melihat ani dan adiknya, kenapa” Anton menanyaiku. Pertanyaan yang cukup menghentakku. Adiknya?.. Wah, pantas mereka terlihat asyik mengobrol, informasi penting nih.

“Darimana kamu tahu?” tanyaku penasaran.

“Kan sudah kubilang Ani adalah teman SMA-ku, jadi aku sudah cukup kenal dia hingga keluarga-keluarganya.”jawab Anton tenang.

“Ooh.. terus siapa namanya?” rasa penasaranku masih menggebu.

“emmmmm.. ada deh.. hahaha” tawa anton. “sudah kuduga kamu jatuh hati sama adiknya ani, sudah banyak loh  pria yang ditolak sama adiknya ani” tegas anton.

“wah, sombong sekali dia” seruku pada anton.

“Eit.. jangan langsung menghakimi orang. Pasti dia punya alasan, walaupun aku tahu alasan itu, tak akan kuberitahu padamu, cari tau saja sendiri ya..” jelas Anton padaku.

Menolak banyak cowok? Alasan? Memang dia tergolong wanita pendiam. Tak banyak ngomong. Bahkan ketika di pantai tak satu pun kata terucap dari bibirnya. Cukup penasaran juga aku dengan apa yang Anton jelaskan padaku. Mungkin akan kutanya pada Ani, dia kan kakknya mungkin dia tau..

Ani nampaknya sudah selesai berbincang dengan adiknya, bertepatan dengan habisnya semangkuk mie gorengku. Dan langsung kusambar dengan pertanyaan. “Siapa nama adikmu itu” tanyaku.’

“Untuk sekarang tak kan kuberitahu dulu tentang adikku ya, mungkin lain kali” jawab Ani padaku yang membuatku cukup kecewa.

Kupandangi kembali wanita itu. Ia membelakangiku. Sebenarnya ada niat dalam diriku untuk mendekatinya, tapi entah kenapa ada rasa yang tak enak. Mungkin aku tak enak pada kakaknya yang notabene adalah teman baruku.

Kulihat ia seperti bergegas ingin pulang. Ia mengeluarkan dompetnya, sepertinya untuk membayar sesuatu. Ku lihat ia melambaikan tangannya pada Ani dan berjalan keluar kantin.

“udah, jangan diperhatiin terus”ucap Ani ketika aku mengalihkan pandangaku dari adiknya.

“dia kuliah disini juga?” tanyaku mencoba mengorek informasi dari kakaknya.

“sudah kubilang untuk saat ini tak akan kuberitahu indentitasnya”jawab Ani padaku.

Dengan tampang yang sedikit ketus aku perlahan berdiri untuk membayar makananku. Dalam hati kufikir mungkin belum saatnya bagiku untuk mengetahui identitas wanita yang mencuri perhatianku. Namun, dalam sekejap fikiranku itu nampaknya salah. Kenapa? Di depan kasir sebelum aku membayar makananku kutemukan sebuah KTP. Ya! KTP kepunyaan adiknya Ani. Darimana kutahu? Dari foto yang terpajang di KTP tersebut.

Ku perhatikan sejenak. Dan senyumpun mengembang dari bibirku.

IRA LATHA.. Namanya!!

to be continue

ewaldoapra

thx 4 reading

 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2009 in Cerita bersambung

 

Tags: